Oleh: Yuliana Desi (Mahasiswa Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng)
RUTENG,PENA1NTT.COM- Di tengah derasnya arus digitalisasi dan perkembangan teknologi informasi, budaya membaca di kalangan mahasiswa menghadapi tantangan yang semakin besar. Fenomena ini tidak hanya terjadi di kota-kota besar, tetapi juga terlihat di berbagai perguruan tinggi daerah, termasuk di Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng. Rendahnya minat membaca di kalangan mahasiswa menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian serius karena berkaitan langsung dengan kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan.
Mahasiswa sejatinya merupakan kelompok intelektual yang memiliki peran penting sebagai agen perubahan sosial. Mereka dituntut memiliki kemampuan berpikir kritis, analitis, dan mampu memberikan solusi terhadap berbagai persoalan bangsa. Namun, kemampuan tersebut sulit berkembang apabila tidak didukung oleh budaya membaca yang kuat. Membaca bukan sekadar aktivitas akademik, melainkan proses membangun pengetahuan, memperluas wawasan, serta melatih kemampuan memahami berbagai perspektif.
Realitas yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa banyak mahasiswa lebih memilih menghabiskan waktu dengan media sosial, video pendek, hiburan digital, maupun berbagai platform daring lainnya dibandingkan membaca buku atau jurnal ilmiah. Kemudahan memperoleh informasi secara instan membuat sebagian mahasiswa merasa cukup dengan membaca potongan informasi singkat tanpa melakukan pendalaman terhadap suatu topik. Akibatnya, kemampuan literasi dan pemahaman kritis terhadap berbagai persoalan menjadi semakin menurun.
Fenomena tersebut tidak dapat dilepaskan dari perkembangan teknologi yang telah mengubah pola konsumsi informasi masyarakat. Informasi kini hadir dalam bentuk yang lebih cepat, ringkas, dan mudah diakses. Sayangnya, kemudahan tersebut sering kali membuat generasi muda kehilangan kebiasaan membaca secara mendalam. Tidak sedikit mahasiswa yang hanya membaca ketika menghadapi tugas kuliah atau menjelang ujian, sementara kegiatan membaca sebagai kebutuhan intelektual belum menjadi budaya yang melekat dalam kehidupan sehari-hari.
Kondisi ini tentu memunculkan kekhawatiran. Rendahnya minat membaca dapat berdampak pada kemampuan mahasiswa dalam memahami materi perkuliahan, menyusun karya ilmiah, melakukan penelitian, hingga berargumentasi secara logis. Dalam jangka panjang, hal tersebut berpotensi menurunkan kualitas lulusan perguruan tinggi.
Padahal, di era persaingan global saat ini, kemampuan berpikir kritis dan literasi menjadi salah satu indikator utama kualitas sumber daya manusia.
Lebih jauh lagi, rendahnya budaya membaca tidak hanya menjadi persoalan kampus, tetapi juga persoalan nasional. Indonesia selama bertahun-tahun masih menghadapi tantangan dalam meningkatkan tingkat literasi masyarakat. Jika mahasiswa sebagai kelompok terdidik saja masih memiliki minat membaca yang rendah, maka upaya menciptakan masyarakat yang cerdas, kritis, dan berdaya saing akan menghadapi hambatan yang tidak ringan.
Karena itu, diperlukan langkah konkret dari berbagai pihak. Perguruan tinggi perlu menghadirkan program-program yang mampu mendorong tumbuhnya budaya literasi di lingkungan kampus, seperti diskusi buku, bedah karya ilmiah, seminar literasi, hingga penyediaan akses yang lebih luas terhadap bahan bacaan berkualitas. Di sisi lain, mahasiswa juga harus memiliki kesadaran bahwa membaca bukan sekadar tuntutan akademik, melainkan investasi jangka panjang untuk meningkatkan kapasitas diri.
Membangun budaya membaca memang tidak dapat dilakukan secara instan. Dibutuhkan komitmen, konsistensi, dan dukungan lingkungan yang kondusif. Namun, jika kebiasaan membaca dapat ditanamkan sejak sekarang, mahasiswa akan memiliki bekal pengetahuan yang lebih luas, kemampuan berpikir yang lebih tajam, serta kesiapan yang lebih baik dalam menghadapi tantangan dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat.
Pada akhirnya, rendahnya minat membaca di kalangan mahasiswa harus dipandang sebagai alarm bagi dunia pendidikan Indonesia. Kampus tidak hanya bertugas mencetak lulusan yang memperoleh ijazah, tetapi juga melahirkan generasi intelektual yang gemar membaca, berpikir kritis, dan mampu berkontribusi bagi kemajuan bangsa. Sebab, bangsa yang besar tidak hanya dibangun oleh kemajuan teknologi, tetapi juga oleh masyarakat yang memiliki budaya literasi yang kuat.(**)













