Opini oleh Yosefina Eka Anggraini, Renata Yunistra Budiman, Astimaya Yeni Delo, Skolastika Jenita, dan Marsela Putriana Salju
MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Sekarang ini, siapa sih yang tidak tahu AI? Teknologi seperti ChatGPT sudah jadi teman akrab bagi banyak pelajar dan guru.
Mau bikin esai, merangkum buku, atau mencari ide tugas, semuanya bisa selesai dalam hitungan menit lewat satu klik. Rasanya seperti punya asisten pribadi yang super pintar.
Tapi, di balik semua kemudahan itu, kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: apakah kehadiran AI ini benar-benar membuat kita makin pintar, atau justru sebaliknya?
Kemajuan teknologi memang tidak bisa kita hindari, dan jujur saja, AI itu sangat membantu. Pekerjaan yang biasanya bikin kita begadang sampai berminggu-minggu, sekarang bisa beres dengan cepat asalkan kita tahu cara bertanya yang pas ke aplikasinya.
Buat para guru dan dosen, AI juga bisa menghemat waktu untuk menyiapkan materi atau tugas. Intinya, kalau dipakai dengan benar, AI adalah alat yang luar biasa untuk mendongkrak efisiensi kita sehari-hari.
Namun, tantangan terbesarnya adalah rasa malas yang pelan-pelan muncul karena kita terlalu manja.
Bayangkan kalau setiap ada tugas, kita langsung menyuruh AI untuk mengerjakannya tanpa mau membaca dan memahaminya sendiri.
Kalau otak kita jarang diasah untuk berpikir keras, lama-lama kemampuan kita untuk menganalisis masalah akan tumpul.
Padahal, manusia sudah bisa bertahan hidup dan menciptakan banyak hal hebat selama ribuan tahun dengan otaknya sendiri, bahkan jauh sebelum AI itu ada.
Jangan sampai teknologi yang kita ciptakan malah membuat kita kehilangan kemampuan berpikir mandiri.
Masalah lain yang sering muncul adalah soal kejujuran akademik. Karena AI bisa menghasilkan tulisan yang rapi dalam sekejap, godaan untuk langsung “copas” (kopi-paste) alias menyalin mentah-mentah jadi sangat besar.
Padahal, informasi dari AI itu tidak selalu 100% benar; kadang mereka juga bisa keliru atau bias. Jika kita asal ambil tanpa mengecek ulang kualitasnya, reputasi kita dan lembaga tempat kita belajar taruhannya.
Kita harus ingat bahwa AI hanyalah alat bantu, bukan pengganti otak kita untuk memverifikasi kebenaran.
Oleh karena itu, sekolah atau kampus sudah saatnya membuat aturan main yang jelas dan tegas tentang penggunaan AI.
Aturan ini bukan untuk melarang, melainkan untuk memberi batasan: di bagian mana mahasiswa boleh dibantu AI, dan di bagian mana mereka harus murni menggunakan hasil pemikiran sendiri.
Selain itu, aturan ini harus disosialisasikan secara transparan agar semua orang paham konsekuensinya jika mereka berbuat curang atau menyalahgunakan teknologi tersebut.
Pada akhirnya, kunci utama dari semua ini ada di tangan para pendidik sebagai penjaga benteng etika.
Guru dan dosen punya peran penting untuk mengawasi dan membimbing murid-muridnya.
Ketika melihat ada tugas siswa yang mencurigakan atau murni hasil ketikan robot, guru harus langsung menegur dan memberikan masukan yang membangun.
Dengan bimbingan yang tepat, kita bisa tetap memanfaatkan kecanggihan teknologi global ini tanpa harus kehilangan identitas, etika, dan sisi kemanusiaan kita.













