Opini oleh Edilburga Yasinta Murni, Dafid Aldiano Dama, Hendrikus Gebren, dan Yasinta Ndeweng
MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Di era modern sekarang, tingkat kemajuan teknologi dan arus informasi yang begitu cepat telah membawa banyak perubahan dalam kehidupan manusia.
Berdasarkan laporan Laporan Indeks Keberadaban Digital” atau “Digital Civility Index yang dirilis oleh Microsoft pada bulan Februari lalu, menunjukkan hasil yang memprihatikan, Indonesia berada diurutan ke 29 diantara 32 negara.
Hasil ini menunjukkan bahwa tingkat keberadaban (civility) netizen Indonesia sangat rendah.
Etika dan moralitas adalah seperangkat nilai yang menuntun seseorang dalam menentukan antara hal yang baik dan buruk, benar dan salah.
Keduanya berfungsi sebagai dasar dalam mengambil tindakan dan juga mengambil keputusan.
Tanpa etika dan moralitas, manusia berisiko kehilangan arah dan mudah dipengaruhi oleh berbagai kepentingan sementara yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Era absurditas terlihat dari maraknya penyebaran informasi yang belum tentu benar, meningkatnya budaya instan, serta menurunnya kepedulian terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
Banyak orang lebih mementingkan popularitas daripada integritas, lebih mengejar keuntungan daripada kejujuran, dan lebih fokus pada pencitraan daripada tindakan nyata.
Hal ini dapat dilihat dari banyaknya kasus penyebaran berita palsu , ujaran kebencian di media sosial, hingga segala tindakan korupsi yang dilakukan oleh individu yang sebenarnya memiliki pendidikan dan jabatan tinggi.
Dengan kondisi tersebut, etika dan moralitas berfungsi sebagai penuntun agar manusia tidak terjebak dalam arus kehidupan yang membingungkan.
Etika berperan penting agar mampu berpikir kritis sebelum bertindak, sedangkan moralitas menanamkan kesadaran untuk selalu mempertimbangkan dampak tindakan terhadap orang lain.
Dengan memegang nilai-nilai tersebut, seseorang mampu untuk menjaga integritas meskipun menghadapi segala tekanan dan godaan.
Selain itu, etika dan moralitas juga berperan dalam membangun kehidupan sosial yang harmonis.
Masyarakat yang menjunjung tinggi kejujuran, tanggung jawab, dan rasa hormat akan lebih mudah membangun kepercayaan dan kerja sama.
Sebaliknya, jika nilai-nilai moral mulai diabaikan, konflik sosial, ketidakadilan, dan perpecahan akan lebih mudah terjadi.
Menurut kami , tantangan paling besar pada era ini bukanlah kurangnya pengetahuan, tetapi juga kurangnya kebijaksanaan dalam menggunakan pengetahuan tersebut.
Seseorang dapat memiliki akses terhadap berbagai informasi dan teknologi canggih namun tanpa etika dan moralitas, tindakan tersebut dapat digunakan untuk tujuan yang salah.
Oleh karena itu, pendidikan karakter harus berjalan seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi agar generasi bukan hanya menjadi seseorang yang cerdas, tetapi juga bertanggung jawab dan memiliki moral yang kuat.
Sebagai penutup, etika dan moralitas tetap menjadi kompas kehidupan yang relevan di tengah era absurditas.
Keduanya membantu manusia menemukan arah, menjaga integritas, serta membangun hubungan sosial yang sehat dan bermakna.
Di tengah dunia yang semakin kompleks dan penuh ketidakpastian, berpegang teguh pada nilai-nilai etika dan moralitas bukanlah sebuah pilihan tetapi sebuah kebutuhan agar manusia tetap dapat menjalani kehidupan yang bermartabat dan beradab.













