MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Ajang Putra-Putri Kampus UNIKA Santu Paulus Ruteng Tahun 2026 tidak hanya menjadi kompetisi untuk memilih figur terbaik mahasiswa, tetapi juga menjadi ruang pembinaan karakter, pengembangan kapasitas diri, serta upaya menghadirkan mahasiswa yang mampu menjadi representasi institusi di tengah masyarakat.
Kegiatan yang kembali digelar tahun ini tersebut menjadi salah satu program pengembangan mahasiswa yang menekankan pentingnya keseimbangan antara kemampuan akademik dan keterampilan non akademik.
Melalui berbagai tahapan seleksi, peserta dibekali kemampuan public speaking, kepemimpinan, personal branding, hingga penyusunan program kerja.
Romo Risal Baeng, salah satu penyelenggara Putra-Putri Kampus UNIKA Santu Paulus Ruteng, mengatakan ajang ini bertujuan menjaring mahasiswa yang memiliki bakat, kapasitas, dan kemampuan untuk memperkenalkan kampus kepada masyarakat luas.
“Tujuannya tentu menjaring mahasiswa yang berbakat dan punya kapasitas, terlebih untuk memperkenalkan kampus ini ke publik yang lebih luas,” ujarnya.
Menurutnya, mahasiswa saat ini tidak cukup hanya mengandalkan pencapaian akademik. Kemampuan soft skill menjadi aspek penting yang harus terus dikembangkan karena menjadi salah satu pertimbangan dalam dunia profesional.
“Sebagai mahasiswa tentu tidak hanya akademik yang dibutuhkan, tetapi juga soft skill. Pengembangan bakat dan talenta menjadi penting karena di dunia kerja seseorang tidak hanya dinilai dari prestasi akademiknya, tetapi juga bagaimana ia mampu mengembangkan potensi yang dimiliki,” jelasnya.
Ia berharap para Putra-Putri Kampus terpilih mampu menjalankan peran sebagai duta kampus, menjaga nama baik institusi, serta menjadi teladan bagi mahasiswa lainnya.
Meskipun masih tergolong program baru, Romo Risal menilai keberadaan ajang tersebut telah memberikan dampak positif, terutama dalam memperkenalkan kampus melalui berbagai platform digital.
“Paling tidak ada pengenalan dan promosi kampus melalui media digital yang dibuat oleh Putra-Putri Kampus itu sendiri,” katanya.
Mengalami Perkembangan Signifikan
Moderator ajang Putra-Putri Kampus UNIKA Santu Paulus Ruteng, Indra Susanto, menilai pelaksanaan tahun 2026 mengalami peningkatan dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya.
Menurutnya, pengalaman tahun pertama menjadi bahan evaluasi sehingga pelaksanaan tahun ini lebih terstruktur dan matang.
“Pelaksanaannya menurut saya mengalami peningkatan dari tahun lalu. Karena tahun lalu merupakan pertama kali, masih banyak hal yang diraba-raba. Tahun ini panitia berhasil mengemas acara dengan lebih terstruktur,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa proses seleksi tidak hanya menilai penampilan peserta, tetapi juga kemampuan berbicara di depan publik, gagasan yang ditawarkan, serta kemampuan berpikir kritis dalam menjawab isu kampus maupun masyarakat.
Ia juga mengungkapkan bahwa ada dua kemampuan yang paling terlihat berkembang selama proses pembinaan, yaitu public speaking dan critical thinking.
“Di awal kompetisi beberapa peserta masih terlihat canggung, tetapi seiring waktu mereka menjadi lebih percaya diri, lebih artikulatif, dan mampu menjawab pertanyaan berbobot secara kritis,” ujarnya.
Indra menegaskan bahwa ajang Putra-Putri Kampus berbeda dari kompetisi mahasiswa lainnya karena lebih berorientasi pada pencarian figur yang dapat menjadi panutan.
“Putra-Putri Kampus lebih mencari role model yang bisa menjadi panutan bagi mahasiswa UNIKA Santu Paulus,” katanya.
Peserta Rasakan Perubahan Diri
Pengalaman positif juga dirasakan para finalis. Putra Kampus III, Junior Ardan, mengaku mengikuti ajang tersebut untuk meningkatkan kepercayaan diri, melatih kepemimpinan, dan menggali potensi yang sebelumnya belum ia sadari.
“Motivasi saya mengikuti ajang ini adalah melatih kepercayaan diri, jiwa kepemimpinan, dan menggali potensi yang mungkin selama ini belum saya ketahui,” tuturnya.
Ia mengatakan berbagai tahapan seperti wawancara, kelas public speaking, unjuk bakat, hingga penyampaian visi dan misi memberikan pengalaman penting dalam mengembangkan kemampuan komunikasi.
Junior menilai Putra-Putri Kampus tidak hanya berbicara tentang prestasi, tetapi juga sikap dan moral sebagai mahasiswa.
“Jangan pernah ragu pada diri sendiri. Setelah mencoba, kita akan mengetahui bahwa sebenarnya kita memiliki kemampuan,” pesannya.
Sementara itu, Putra Kampus II, Aldo Suwataton, mengatakan ajang tersebut menjadi kesempatan baginya untuk keluar dari zona nyaman.
“Putra-Putri Kampus menjadi wadah yang baik bagi saya karena saya bisa mengembangkan diri dan keluar dari zona nyaman,” katanya.
Menurut Aldo, pengalaman mengikuti kegiatan tersebut membantunya meningkatkan rasa percaya diri, terutama dalam berbicara di depan publik.
Ia juga menekankan bahwa representasi kampus harus diwujudkan melalui tindakan nyata.
“Sebagai representasi mahasiswa, tentu harus ada tindakan nyata melalui program-program yang memberi dampak bagi masyarakat,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Putri Kampus III, Pamela Kanis. Ia melihat ajang Putra-Putri Kampus bukan sekadar panggung kompetisi, melainkan ruang pembelajaran.
“Motivasi saya sederhana, belajar dan memberi dampak. Saya melihat Putra-Putri Kampus sebagai ruang pembinaan, bukan panggung,” katanya.
Menurut Pamela, proses selama ajang tersebut membentuk kemampuan komunikasi, rasa percaya diri, empati, serta kemampuan bekerja sama dengan mahasiswa dari berbagai latar belakang.
Ia menyebut para Putra-Putri Kampus memiliki tanggung jawab membawa nilai-nilai utama UNIKA Santu Paulus Ruteng, yakni intelektualitas, budaya, dan spiritualitas.
“Jangan mengejar mahkotanya, tetapi kejarlah prosesnya. Karena proses di Putra-Putri Kampus akan mengubah cara berpikir dan bertindak,” pesannya.
Melalui rangkaian kegiatan dan pengalaman para peserta, Ajang Putra-Putri Kampus UNIKA Santu Paulus Ruteng tahun 2026 menunjukkan bahwa kegiatan tersebut bukan hanya kompetisi pemilihan figur mahasiswa, tetapi menjadi wadah pengembangan karakter, kepemimpinan, dan pembentukan mahasiswa yang siap membawa nama baik institusi ke ruang publik.
Catatan Redaksi: Berita ini merupakan liputan mandiri yang dilakukan oleh Elisabet Satriani Rudu, Rosalina Ecani Nurti, Elisabet Syukur, dan Rosalia Nina Lensi.













