Opini oleh: Agnesta Aldini Kurnia
Mahasiswa UNIKA St.Paulus Ruteng
Arus globalisasi dan kemajuan zaman telah membuka pintu lebar bagi masuknya berbagai pengaruh dari luar negeri, baik itu ilmu pengetahuan, teknologi, bahasa, maupun kebiasaan hidup. Kondisi ini membawa dampak ganda: di satu sisi membuka peluang untuk maju dan terhubung dengan dunia, namun di sisi lain juga membawa risiko memudarkan identitas asli yang telah diwariskan turun‑temurun.
Oleh karena itu, tantangan terbesar bagi kita adalah bagaimana mengambil manfaat dari perubahan zaman tanpa harus melepaskan akar jati diri sendiri.
Menyerap pengaruh luar bukan berarti harus meniru secara membabi buta atau menganggap segala sesuatu yang datang dari luar lebih baik daripada yang dimiliki sendiri. Sikap yang bijak adalah dengan memilah dan memilih:
– Mengambil hal‑hal yang positif, bermanfaat, dan sesuai dengan nilai luhur yang kita miliki.
– Menolak hal‑hal yang bertentangan dengan kepribadian bangsa.
Sebagai contoh, kita boleh menguasai bahasa asing, mempelajari sistem pengetahuan baru, atau mengikuti perkembangan dunia, namun tetap menjaga keindahan Bahasa Indonesia, memegang teguh adat istiadat, dan melestarikan kearifan lokal.
Keseimbangan Tradisi di Kampung Adat
Kampung Adat Ruteng Pu’u menjadi contoh nyata dari keseimbangan ini.
Masyarakatnya tetap menerima perubahan dan kemajuan, namun tidak mengubah susunan kampung, arsitektur rumah, aturan hidup, maupun hubungan selaras dengan alam yang telah diwariskan leluhur.
Mereka membuktikan kepada kita semua bahwa menjadi bagian dari dunia tidak berarti harus kehilangan ciri khas diri sendiri.
Kesimpulan
Pada akhirnya, jati diri adalah identitas yang membedakan kita dari bangsa lain. Jika kita terlalu larut dalam pengaruh luar hingga melupakan asal usul, maka kita hanya akan menjadi bangsa yang tanpa wajah dan arah.
Sebaliknya, dengan tetap berdiri teguh pada akar budaya sambil terus berkembang, kita akan menjadi bangsa yang percaya diri, maju, dan tetap memiliki jati diri yang utuh.













