Opini oleh Isdorus Putra Kawe
MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Bayangkan lima tahun mendatang, anda duduk di ruang interview kerja.
Pewawancara mengajukan pertanyaan: “Ceritakan satu keputusan sulit yang pernah Anda ambil selama kuliah, serta pelajaran apa yang Anda petik darinya?” Anda terdiam.
Bukan karena tidak memiliki jawaban, melainkan karena selama masa studi, hampir setiap keputusan penting selalu Anda serahkan kepada kecerdasan buatan.
“AI, topik skripsi apa yang mudah?”, “AI, organisasi kemahasiswaan apa yang tepat?”, “AI, magang di mana yang terbaik?”
Anda lulus dengan predikat Sarjana, tetapi tanpa satu pun narasi tentang keberanian dan kematangan Anda dalam mengambil keputusan.
Ironisnya, ijazah dapat dicetak dengan mudah, namun keberanian berpikir dan memutuskan tidak dapat dihasilkan melalui perintah prompt.
Fenomena ini melahirkan sebutan baru bagi mahasiswa masa kini: Generasi Prompt. Mereka adalah generasi yang sangat mahir merumuskan perintah kepada kecerdasan buatan.
Cukup mengetik beberapa kata kunci, maka esai, presentasi, bahkan surat lamaran kerja dapat tersusun rapi dalam hitungan detik.
Kepraktisan ini memang tidak dapat dipungkiri. Namun di balik kemudahan tersebut, terdapat persoalan mendasar yang jarang disadari, yaitu melemahnya kapasitas individu dalam mengambil keputusan secara mandiri.
Kemampuan mengambil keputusan merupakan keterampilan yang terbentuk melalui proses panjang.
Dahulu, mahasiswa harus membaca berbagai referensi, berdiskusi dengan teman, serta menimbang risiko sebelum menentukan pilihan, misalnya dalam menyusun Kartu Rencana Studi.
Proses tersebut memang melelahkan, tetapi justru dari situlah nalar kritis ditempa. Kini, proses itu dipangkas. Ketika seluruh pertimbangan diserahkan kepada algoritma, otak kehilangan kesempatan untuk berlatih.
Akibatnya, ketika dihadapkan pada pilihan yang tidak memiliki jawaban baku, seperti memilih antara melanjutkan studi atau memasuki dunia kerja, banyak mahasiswa mengalami kebingungan.
Mereka mahir memberi perintah kepada mesin, tetapi gagap ketika harus memerintah dirinya sendiri.
Lebih jauh lagi, ketergantungan pada kecerdasan buatan menumbuhkan ketakutan terhadap kesalahan.
Kecerdasan buatan selalu menawarkan jawaban yang dianggap paling optimal dan logis. Lama-kelamaan, mahasiswa meyakini bahwa setiap keputusan harus sempurna sejak awal.
Padahal, dalam kenyataannya, keputusan yang bijak sering kali lahir dari pengalaman gagal dan diperbaiki. Skripsi yang berkualitas tidak lahir dari bab pertama yang sempurna, melainkan dari proses revisi berulang kali.
Pemimpin yang tangguh tidak terbentuk tanpa pernah mengambil keputusan yang keliru. Namun Generasi Prompt jarang merasakan proses tersebut.
Setiap kali menghadapi kebuntuan, mereka segera mencari bantuan kecerdasan buatan. Akibatnya, mereka menjadi ahli dalam mencari jawaban, tetapi miskin pengalaman dalam menghadapi kegagalan.
Padahal, justru dari kegagalan itulah kematangan berpikir dan tanggung jawab pribadi terbentuk.
Tentu saja, menyalahkan kecerdasan buatan bukanlah sikap yang tepat. Kecerdasan buatan pada hakikatnya hanyalah alat.
Nilai dan dampaknya bergantung pada cara manusia menggunakannya. Jika kecerdasan buatan ditempatkan sebagai pengganti otak, maka manusia akan kehilangan daya nalar.
Sebaliknya, jika ditempatkan sebagai mitra diskusi, maka kecerdasan buatan dapat menjadi sarana yang memperkuat kemampuan berpikir kritis.
Oleh karena itu, mahasiswa perlu membangun kesadaran baru. Sebelum meminta bantuan kecerdasan buatan, tuliskan terlebih dahulu gagasan sendiri, sekecil apa pun.
Jadikan kecerdasan buatan sebagai penguji argumen, bukan penulis utama. Latih keberanian mengambil keputusan kecil setiap hari tanpa bergantung pada teknologi, agar otot keputusan tetap terasah.
Pada akhirnya, kecerdasan buatan dapat menjadi asisten yang cerdas, tetapi kursi pengambil keputusan harus tetap berada di tangan manusia.
Tidak ada perintah prompt yang dapat menggantikan proses wisuda kehidupan. Tidak ada algoritma yang dapat menjawab pertanyaan mendasar tentang jati diri dan arah masa depan.
Pertanyaan itu hanya dapat dijawab oleh individu yang berani berpikir, berani salah, dan berani memutuskan.
Dunia tidak memerlukan manusia yang paling lancar memerintah mesin. Dunia memerlukan manusia yang berani menentukan jalannya sendiri, bahkan ketika tidak ada kolom prompt yang tersedia.













