Opini oleh Maria Claudia Waju
MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Tuberkulosis (biasa disingkat TB atau TBC) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis, bakteri ini paling sering menyerang dan merusak jaringan paru-paru (TB Paru).
Saya lahir dan besar di Flores, jadi isu kesehatan seperti TB ini terasa dekat banget sama kehidupan sehari-hari. Di Nusa Tenggara Timur (NTT), terutama di wilayah Manggarai, Tuberkulosis masih jadi momok yang cukup serius.
Banyak keluarga yang saya kenal dengan cerita yang sama: rumah yang pengap, ayah atau kakak yang merokok di dalam ruangan, dan anak-anak yang mulai coba-coba rokok sejak SMP.
Kombinasi paparan asap rokok pasif di ruangan tertutup plus kebiasaan merokok dini benar-benar jadi “pembuka jalan” buat bakteri TB berkembang biak dan pada akhirnya gampang terkena TB.
NTT termasuk provinsi dengan prevalensi merokok yang tinggi. Data BPS dan Riskesdas menunjukkan bahwa persentase penduduk usia 15 tahun ke atas yang merokok di beberapa kabupaten bisa mencapai 30-46% tergantung kelompok umur.
Di Manggarai sendiri, angkanya sekitar 38-43% pada usia produktif. Ini jauh di atas rata-rata nasional di beberapa periode.
Anak muda di daerah pegunungan seperti Manggarai sering mulai merokok karena pengaruh teman, budaya, atau sekadar ikut-ikutan saat ada acara adat.
Mulai dari usia 15-19 tahun sudah banyak yang kecanduan, padahal paru-paru mereka masih berkembang.
Paparan asap rokok pasif di ruangan jadi masalah besar di sini. Rumah-rumah di Manggarai banyak yang masih tradisional, ventilasi kurang, terutama saat musim hujan.
Asap rokok dari orang tua atau tetangga yang merokok di dalam ruang tamu atau dapur langsung dihirup anak-anak dan ibu-ibu
Asap itu merusak silia di saluran napas dan melemahkan makrofag di paru-paru, sehingga “Mycobacterium tuberculosis” lebih mudah infeksi.
Penelitian di berbagai daerah Indonesia, termasuk yang mirip kondisinya dengan NTT, menunjukkan risiko TB pada perokok pasif bisa naik hingga 1,5-2 kali lipat, bahkan lebih tinggi di lingkungan padat dan lembab.
Kasus TB di NTT tahun-tahun terakhir masih ribuan, dengan Manggarai dan sekitarnya menyumbang angka yang signifikan.
Sebagian besar kasus ditemukan di wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi, terutama sekitar kota Ruteng (Pernyataan Kepala Dinas Kesehatan Manggarai, drg. Bertolomeus Hermopan, Kepada RRI, Rabu (13/08/2025).
Di Manggarai Timur, penurunan pada tahun 2022 sebanyak 204 kasus, tahun 2023 sebanyak 190 kasus dan sepanjang 2024 terdapat 143 kasus (Pernyataan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Timur, dr Surip Tintin, pada saat dihubungi dari Labuan Bajo).
Meskipun demikian, kasus TB ini tetap terus muncul. Ini diperburuk akses kesehatan yang belum merata di pedalaman.
Merokok usia dini memperparah semuanya. Remaja yang mulai merokok di Manggarai biasanya karena lingkungan sosial yang kuat.
Paparan zat beracun sejak dini membuat kerusakan paru permanen dan sistem imun lemah seumur hidup. Risiko infeksi TB aktif jadi lebih tinggi, pengobatan lebih lama, dan peluang kambuh besar.
Bayangkan anak berusia 14-16 tahun sudah jadi perokok, lalu di rumahnya juga ada perokok pasif dua ancaman sekaligus.
Secara pribadi, saya lihat ini bukan cuma masalah kesehatan individu, tapi isu sosial dan budaya. Di Manggarai, merokok kadang dianggap “biasa” saat kumpul atau upacara. Padahal, dampaknya ke generasi muda sangat nyata.
Pemerintah daerah sudah mulai ada Perda Kawasan Tanpa Rokok (KTR), dan ASN diminta jadi teladan. Tapi penerapannya masih perlu digencarkan, terutama di rumah tangga dan sekolah.
Kampanye di gereja, sekolah, dan posyandu harus lebih masif, karena masyarakat NTT sangat terbuka dengan pendekatan komunitas.
Kita perlu gerakan bersama: orang tua berhenti merokok di dalam rumah, sekolah melarang rokok di lingkungan, dan pemuda diberi alternatif kegiatan positif agar tidak mulai merokok.
Kalau tidak, target eliminasi TB di NTT akan sulit tercapai. Saya yakin, dengan kesadaran kolektif, Manggarai dan seluruh NTT bisa lebih sehat.
Mulai dari hal kecil: jangan merokok di ruangan tertutup, dan lindungi anak-anak dari godaan rokok sejak dini. Paru-paru kita, masa depan daerah kita, tergantung pada itu.













