Opini oleh Kornelia Krisda (Mahasiswi Prodi Pendidikan Bahasa Inggris UNIKA St. Paulus Ruteng)
MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Pernahkah kita bertanya, mengapa kopi yang pahit justru begitu dicintai?
Pertanyaan itu selalu muncul setiap kali aku menyesap secangkir kopi pahit Colol. Di balik warna hitam pekatnya, tersimpan kisah panjang yang tidak semua orang mengetahuinya.
Bukan hanya tentang biji kopi yang tumbuh di lereng pegunungan, tetapi tentang kehidupan, perjuangan, dan harapan yang tumbuh bersama setiap pohonnya.
Di sebuah kampung yang sejuk di kaki pegunungan Manggarai Timur, tumbuh butiran kopi yang tidak hanya menyimpan rasa, tetapi juga menyimpan cerita.
Namanya Kopi Pahit Colol. Bagi sebagian orang, ia hanyalah minuman berwarna hitam dalam sebuah cangkir. Namun bagi masyarakat Colol, kopi adalah jejak kehidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Setiap pagi, ketika kabut masih bergelayut di antara pepohonan dan embun belum sepenuhnya jatuh ke tanah, para petani mulai melangkah menuju kebun.
Mereka tidak hanya menanam kopi, tetapi juga menanam harapan. Tangan yang kasar karena bekerja di ladang menjadi saksi bagaimana setiap biji kopi dirawat dengan kesabaran.
Dari tanah yang subur, hujan yang setia datang, dan sinar matahari yang cukup, lahirlah kopi yang kelak dikenal dengan cita rasanya yang khas.
Mengapa kopi Colol begitu pahit? Mungkin karena alam ingin mengajarkan bahwa tidak semua yang berharga harus terasa manis.
Seperti kehidupan, kopi pahit Colol mengingatkan bahwa keberhasilan sering kali lahir dari perjuangan yang panjang.
Kepahitannya bukanlah kekurangan, melainkan karakter. Ia adalah cerita tentang kerja keras para petani yang bangun sebelum matahari terbit dan pulang ketika langit mulai gelap.
Saat secangkir kopi pahit Colol tersaji di meja, sebenarnya yang hadir bukan hanya aroma yang menguar ke udara. Di dalamnya terdapat kisah tentang seorang ayah yang bekerja demi pendidikan anak-anaknya.
Ada cerita tentang seorang ibu yang membantu memetik buah kopi sambil menjaga keluarganya. Ada pula harapan anak-anak muda Colol yang bermimpi agar kampung mereka semakin dikenal oleh dunia.
Masyarakat Colol sering mengatakan “manga kopi manga doi” yang artinya “ada kopi berarti ada uang”.
Kopi pahit Colol juga mengajarkan kesederhanaan. Ia tidak membutuhkan gula berlebihan untuk menunjukkan keistimewaannya.
Justru dalam rasa pahitnya, tersimpan kejujuran yang sulit ditemukan pada banyak hal. Semakin lama dinikmati, semakin terasa kekayaan rasa yang tersembunyi. Sama seperti manusia, nilai seseorang tidak selalu terlihat pada pandangan pertama.
Kini, di tengah maraknya minuman modern dengan berbagai rasa dan warna, kopi pahit Colol tetap bertahan. Ia tidak berusaha menjadi yang lain. Ia tetap menjadi dirinya sendiri.
Mungkin itulah alasan mengapa banyak orang selalu kembali mencarinya. Bukan karena kemanisannya, tetapi karena keasliannya.
Pada akhirnya, secangkir kopi pahit Colol bukan hanya tentang kopi. Ia adalah simbol ketekunan, identitas budaya, dan kebanggaan masyarakat Colol.
Dari setiap tegukan, kita belajar bahwa kehidupan tidak selalu manis, tetapi justru dari kepahitan itulah kita menemukan makna yang sesungguhnya.
Terkadang yang pahit lebih setia daripada yang manis tapi sementara. Kopi tak pernah janji manis, tapi selalu ada setiap pagi. Sedangkan dia, janji manisnya hilang sebelum senja.













