Opini  

Hordeolum dan Pentingnya Literasi Kesehatan

Opini oleh Amelia Fatima Dafri

MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Penyakit yang sederhana kerap datang dengan berbagai mitos, kebiasaan, dan pengobatan. Bintitan, atau bahasa medisnya Hordeolum, dan orang Manggarai biasa menyebutnya dengan sebutan kimit atau gente.

Banyak masyarakat yang masih mempercayai mitos yang ada di kalangan masyarakat tanpa mau mencari makna dan solusi dari mitos yang mereka percayai. Hampir setiap orang pernah mengalami bintitan, sering mendengar, dan mempercayai mitos.

Mitos yang sering terdengar itu adalah bintitan terjadi karena “orang yang buat”, sering lihat hal yang kotor, karena debu, dan masih banyak mitos lain.

Bahkan, pengobatannya juga banyak versi; ada yang pengobatannya dengan gosok daun kering, gosok dengan ibu jari kaki dan rambut, dan ini yang paling membingungkan adalah obat dengan ASI ibu (tidak harus ibu kandung, ibu dari tetangga, keluarga, dan lain sebagainya juga bisa).

Menurut saya, pandangan yang mengatakan bahwa obat dari bintitan atau hordeolum ini menggunakan daun kering, digosok dengan ibu jari kaki, dan digosok dengan rambut itu adalah keliru.

Faktanya, mata memiliki jaringan yang sangat sensitif dan dekat dengan saluran darah yang terhubung langsung ke otak.

Memencet dan menggosok mata dengan benda atau tangan kotor justru itu yang memperburuk keadaan karena dapat menyebabkan komplikasi serius yang mengancam penglihatan.

Hal ini menunjukkan bahwa betapa pentingnya edukasi kesehatan dan budaya literasi bagi masyarakat luas agar tidak mengandalkan mitos.

Hordeolum atau bintitan menjadi sinyal bahwa daya tahan tubuh, pola makan yang kurang sehat, serta kebiasaan menggosok mata dengan tangan atau barang kotor lainnya itu yang memperburuk.

Dari situlah saya mengambil kesimpulan bahwa penanganan untuk bintitan atau hordeolum ini fokus utamanya bukan hanya di menghilangkan benjolan, tetapi juga memperbaiki gaya hidup kita.

Kompres Hangat: Obat yang Paling Sering Diabaikan

Kompres hangat adalah pengobatan yang sering diremehkan dan disepelekan, mungkin karena cara ini kelihatan sederhana dan tidak gaul, padahal ia bekerja.

Dengan menempelkan kain hangat pada kelopak selama beberapa menit dan dilakukan berulang kali, sehingga membuat sumbatan pada kelenjar menjadi lunak dan aliran minyak kelenjar lebih lancar.

Karena bintitan atau hordeolum ini terjadi karena infeksi bakteri Staphylococcus dan tersumbatnya kelenjar minyak di kelopak mata.

Kesimpulan yang dapat saya ambil adalah bintitan atau hordeolum ini adalah masalah kesehatan yang ringan dan pengobatannya juga sangat sederhana.

Tapi perlu diketahui, hal kecil yang kita anggap sepele justru itu yang akan berdampak besar, sama seperti bintitan atau hordeolum ini.

Penanganan yang tepat tentu harus didasari dengan pengetahuan yang benar, serta pola hidup sehat juga itu adalah kunci.

Karena mata adalah investasi kita dalam jangka panjang, dan tidak perlu takut berlebihan tetapi juga tidak boleh terlalu mengabaikan juga, karena sesuatu yang kita anggap sepele kelak tidak akan sepele lagi dan berdampak besar, apalagi terkait peringatan-peringatan kecil dari tubuh kita.

Penulis: Nana Patris AgatEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *