Opini oleh Restika Jayanti
MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Di balik keanggunan alam Nusa Tenggara Timur yang memikat mata dunia, ada duka yang senyap-senyap merayap. Ribuan anak di pelosok desa tumbuh tanpa pernah mengakrabkan jemari mereka dengan lembaran buku.
Mereka terisolasi dalam jurang pemisah pendidikan yang begitu dalam, terenggut dari hak paling asasi: hak untuk membaca, belajar, dan mengenali dunia.
Hati kita tentu terenyuh mendapati kenyataan bahwa pada tahun 2026 ini, masih ada anak-anak sekolah dasar di NTT yang sepanjang hidupnya belum pernah menatap langsung buku pelajaran.
Di sudut-sudut sunyi Flores dan Timor, kaki-kaki kecil mereka harus bertahan menempuh perjalanan berjam-jam demi mencapai sekolah yang kondisinya nyaris rubuh. Sementara di saat yang sama, anak-anak di kota menikmati fasilitas perpustakaan yang begitu hangat dan lengkap.
Luka ketimpangan ini terpahat jelas dalam angka. Dari 100 anak di NTT, hanya 78 anak yang bisa membaca dengan baik.
Di wilayah yang lebih terpencil, jumlahnya merosot tajam; hanya tersisa 65 anak. Padahal, di skala nasional, kemampuan membaca anak-anak Indonesia rata-rata sudah mencapai 95%.
Angka-angka ini bukan sekadar statistik di atas kertas. Ini adalah potret nyata tentang bagaimana mimpi anak-anak NTT sengaja dipisahkan dari masa depan mereka.
Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, dengan jujur mengakui rapuhnya fondasi literasi dan numerasi di tanah yang ia pimpin. Beliau mengetuk hati semua pihak untuk bahu-membahu menyelesaikan kemelut ini.
Sikap terbuka ini setidaknya memberi secercah harapan—sebuah pengakuan bahwa krisis ini adalah luka bersama yang butuh kesembuhan segera.
Kita tentu berharap, kejujuran dari sang gubernur menjadi pintu pembuka bagi perbaikan anggaran dan kebijakan yang lebih memihak pada rakyat kecil.
Sebab, komitmen yang hanya berhenti di tenggorokan tanpa menjelma menjadi aksi nyata, justru akan menumpuk kekecewaan yang lebih dalam bagi anak-anak di sana.
Mari bayangkan wajah seorang guru di pelosok NTT. Dengan tubuh yang lelah, ia harus memeluk dan mengajar 50 anak sekaligus dalam satu ruang kelas yang sesak.
Rasio yang sungguh tidak manusiawi ini jauh dari standar nasional yang membatasi idealnya 36 siswa per guru.
Bagaimana mungkin lentera ilmu bisa menyala terang dalam ruang yang begitu sarat beban
Ketidakadilan ini kian menganga ketika melihat dompet pendidikan mereka, di mana alokasi dana per anak di NTT hanya Rp1,2 juta per tahun, sementara alokasi rata-rata nasional mencapai Rp2,5 juta per tahun.
Dengan bekal dana yang amat mencekik itu, sekolah dipaksa memutar otak hanya untuk sekadar menyediakan buku dan alat tulis. Ketimpangan anggaran inilah akar pahit yang meracuni sistem pendidikan kita.
Sebuah luka batin yang teramat perih menyayat hati kita terjadi di Ngada. Seorang anak kelas IV SD memilih menyudahi hidupnya sendiri, hanya karena rasa malu dan putus asa tidak mampu membeli buku tulis dan pensil seharga kurang dari Rp10.000.
Peristiwa tragis ini bukan sekadar mengundang air mata, melainkan memantik amarah nurani kita. Ini bukan lagi tragedi personal sebuah keluarga miskin; ini adalah bentuk kelalaian fatal dari sebuah sistem negara.
Ketika jerat kemiskinan sampai merenggut hak seorang anak untuk bersekolah, bahkan merenggut nyawanya, maka di titik itulah pelanggaran hak asasi manusia yang berat sedang terjadi.
Negara seharusnya menjadi pelindung yang memeluk anak-anak ini, bukan penonton yang membiarkan mereka layu dalam keputusasaan.
Suara Gubernur NTT yang mengakui krisis ini harus dijadikan bahan bakar untuk perubahan yang konkret. Tanpa itu, segala untaian kata indah hanya akan menjadi penghibur lara yang kosong.
Sungguh melelahkan melihat janji-janji manis yang menguap begitu saja tanpa tindakan di lapangan.
Data Asesmen Nasional 2023 membentangkan kenyataan pahit bahwa hanya 22% sekolah di NTT yang mampu menyentuh standar dasar literasi, yang artinya hampir 80% sekolah lainnya masih terseok-seok di bawah standar.
Lebih memprihatinkan lagi, seperempat remaja di tingkat menengah atas memiliki kemampuan membaca yang sangat rendah.
Pemerintah tidak boleh lagi sekadar berwacana. Sistem pendidikan ini butuh pembenahan total yang lahir dari rasa empati, bukan sekadar formalitas penilaian.
Setiap kali ada satu anak yang tidak bisa membaca, saat itu juga kita sedang kehilangan satu mutiara bangsa.
Mereka sejatinya menyimpan potensi besar untuk menjadi dokter yang menyembuhkan, guru yang menginspirasi, insinyur yang membangun, atau pemimpin yang amanah.
Namun, seluruh potensi itu terpasung karena tiadanya akses pendidikan. Jika kita memilih diam dan berpaling muka, kita sedang bersiap kehilangan generasi emas NTT.
Lentera harapan harus segera dinyalakan melalui tindakan nyata, mulai dari mengalirkan buku-buku bacaan yang bermutu hingga ke beranda desa dan pulau-pulau tersunyi, serta merangkul para guru dengan pelatihan literasi yang memanusiakan dan modern.
Langkah ini juga harus dibarengi dengan menghadirkan keadilan anggaran agar tak ada lagi sekolah yang merasa dianaktirikan, membebaskan segala biaya yang menjepit pundak orang tua kurang mampu, hingga menghidupkan kebiasaan membaca dari kehangatan rumah dan pelukan komunitas lokal.
Ketimpangan pendidikan di NTT adalah ujian kemanusiaan bagi kita semua. Setiap hari kita menunda tindakan, setiap hari pula kita membiarkan masa depan anak-anak di sana terkikis perlahan.
Sebagaimana yang diingatkan oleh Gubernur Emanuel Melkiades Laka Lena, rendahnya kemampuan literasi dan numerasi adalah jeritan minta tolong yang membutuhkan uluran tangan dari kita semua. Kalimat itu adalah sebuah undangan untuk bergerak bersama.
Sebab, literasi adalah hak yang melekat sejak lahir, bukan hadiah yang diberikan atas dasar belas kasihan.
Setiap anak NTT—baik yang lahir di hiruk-pikuk Kota Kupang maupun di kesunyian desa kecil Flores Timur—memiliki hak yang sama untuk membaca, menulis, dan merajut mimpi setinggi langit.
Kita tidak bisa lagi berdiri diam sambil berteori; kita harus melangkah sekarang juga. Sebelum kegelapan mengubur masa depan generasi penerus NTT, mari kita ingat: masa depan provinsi ini bermula dari setiap huruf yang dieja dan dipahami dengan senyuman oleh anak-anak desa.













