Ditulis oleh Amelia Indayanti Bombat (Mahasiswi Prodi S1 Keperawatan
Fakultas Ilmu Kesehatan UNIKA Santu Paulus Ruteng)
MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Pemeriksaan kesehatan secara berkala merupakan langkah krusial yang jamak diabaikan.
Sebagian besar masyarakat masih terjebak pada stigma lama, pemeriksaan medis baru diperlukan ketika tubuh mulai didera rasa sakit.
Padahal, berbagai penyakit katastrofik—seperti hipertensi, diabetes, jantung, hingga gangguan ginjal—sering kali berkembang secara senyap (silent killer) tanpa gejala klinis yang kasat mata pada stadium awal.
Akibatnya, fatalitas kerap terjadi, penyakit baru terdeteksi saat kondisinya telah kronis dan membutuhkan penanganan medis yang jauh lebih kompleks.
Secara preventif, skrining kesehatan rutin memberikan peluang bagi setiap individu untuk memetakan kondisi tubuh mereka sejak dini.
Intervensi dini berupa perubahan pola hidup maupun terapi pengobatan yang tepat dapat segera dilakukan sebelum penyakit telanjur memburuk.
Selain menekan risiko komplikasi, deteksi dini secara signifikan mampu meningkatkan probabilitas kesembuhan pasien.
Oleh karena itu, paradigma masyarakat harus diubah, pemeriksaan kesehatan adalah investasi pencegahan, bukan sekadar tindakan reaktif saat jatuh sakit.
Ironisnya, kesadaran preventif ini masih sangat rendah di Indonesia. Merujuk data Kementerian Kesehatan yang dirilis ANTARA News pada September 2023, baru sekitar 16,4 persen penduduk Indonesia yang melakukan skrining penyakit tidak menular (PTM).
Padahal, cakupan skrining tersebut sangat mendasar, meliputi pemeriksaan tekanan darah, kadar gula darah, risiko diabetes, serta indikator kesehatan lainnya.
Rendahnya angka partisipasi ini menjadi indikator kuat bahwa mayoritas masyarakat baru mencari pertolongan medis ketika penyakit telah mengganggu aktivitas produktif sehari-hari.
Kondisi ini dipertegas oleh survei kesehatan nasional yang diberitakan Medcom pada tahun 2024.
Hasil survei menunjukkan mayoritas masyarakat Indonesia sama sekali belum pernah melakukan medical check-up secara berkala.
Ketimpangan kesadaran ini tentu memprihatinkan, mengingat lonjakan kasus penyakit kronis di kemudian hari sebenarnya dapat diantisipasi melalui deteksi dini yang disiplin.
Demi mewujudkan generasi yang sehat dan produktif, pemeriksaan kesehatan berkala harus ditransformasikan menjadi gaya hidup baru, terutama di kalangan generasi muda.
Upaya menjaga kebugaran tidak lagi cukup hanya dengan mengonsumsi makanan bergizi dan berolahraga; aspek tersebut harus berjalan selaras dengan pemantauan medis yang rutin.
Melalui peningkatan kesadaran skrining ini, masyarakat tidak hanya mampu memitigasi risiko penyakit sejak dini, melainkan juga dapat memangkas beban biaya pengobatan personal maupun negara di masa depan.













