MANGGARAI , PENA1NTT.COM– Tim Pencegahan Satgaswil NTT Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Polri mengingatkan generasi muda tentang bahaya penyebaran paham radikalisme melalui ruang digital dalam kegiatan sosialisasi di SMA Katolik Santo Fransiskus Xaverius Ruteng, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai, Jumat (6/3/2026).
Kegiatan ini digelar sebagai upaya memperkuat ketahanan pelajar dari paparan intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme (IRET), terutama di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital yang kini menjadi bagian dari kehidupan generasi muda.
Sosialisasi yang berlangsung di aula sekolah itu diikuti para siswa dan guru. Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala SMAK St. Fransiskus Xaverius Ruteng RD. Earlich Hearbert, S.Fil., M.Th., Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum Vinsensius Kurniadi, S.Pd., serta Kepala Bidang Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga DP2KBP3A Manggarai Asumpta Ene Jhone, Apt.
Kepala SMAK St. Fransiskus Xaverius Ruteng RD. Earlich Hearbert menyambut baik kegiatan tersebut dan menilai kehadiran tim Densus 88 memberikan pengetahuan penting bagi para siswa.
“Hari ini sekolah kita mendapat berkah dengan kehadiran bapak-bapak dari Densus 88 yang memberikan pencerahan terkait berbagai hal yang sensitif. Mewakili institusi kami mengucapkan selamat datang kepada bapak-bapak yang telah hadir di sekolah kami. Tentu apa yang disampaikan hari ini akan menjadi bekal bagi anak-anak kami,” kata Romo Earlich.
Ia menjelaskan bahwa siswa yang mengikuti kegiatan tersebut merupakan perwakilan dari setiap kelas. Pengetahuan yang mereka peroleh diharapkan dapat diteruskan kepada teman-teman lainnya.
Menurutnya, edukasi seperti ini sangat penting karena pelajar merupakan kelompok yang cukup rentan terpapar berbagai ideologi melalui media sosial.
“Harapan kami, kegiatan ini berdampak positif bagi para siswa sehingga mereka tidak mudah terkontaminasi paham intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme, baik melalui media sosial maupun secara langsung,” ujarnya.
Dalam pemaparannya, pemateri dari Densus 88, Silvester Guntur, SH., MM., menjelaskan bahwa terorisme tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan melalui proses panjang yang biasanya dimulai dari sikap intoleransi.
“Salah satu yang menjadi perhatian besar saat ini adalah masalah terorisme. Terorisme dalam seluruh aktivitasnya selalu menciptakan kerusakan dan kehancuran. Tetapi terorisme tidak muncul secara tiba-tiba. Ada prosesnya,” kata Silvester.
Ia menjelaskan bahwa proses tersebut biasanya dimulai dari intoleransi, kemudian berkembang menjadi radikalisme, lalu ekstremisme, hingga akhirnya berujung pada terorisme.
“Intoleran adalah sikap atau perilaku yang tidak menghargai atau tidak menerima perbedaan. Orang intoleran cenderung menganggap dirinya paling benar dan tidak memberi ruang diskusi,” jelasnya.
Silvester juga menerangkan bahwa radikalisme berasal dari bahasa Latin radix yang berarti akar.
“Radikalisme merujuk pada keinginan melakukan perubahan secara drastis hingga ke akar-akarnya. Dalam konteks berbahaya, perubahan itu bisa sampai membenarkan kekerasan,” ujarnya.

Menurutnya, radikalisme biasanya ditandai dengan pola pikir hitam-putih, fanatisme berlebihan terhadap suatu ideologi, serta penolakan terhadap sistem sosial atau politik yang berlaku. Jika berkembang lebih jauh, radikalisme dapat berubah menjadi ekstremisme.
“Ekstremisme adalah sikap yang sangat keras dan tidak moderat. Dalam bentuk tertentu, ekstremisme dapat menghalalkan kekerasan untuk mencapai tujuan,” katanya.
Untuk memudahkan pemahaman siswa, ia menggambarkan proses tersebut seperti sebuah pohon. Intoleransi adalah akarnya, radikalisme dan ekstremisme adalah batang serta cabangnya, sementara terorisme merupakan buah yang dihasilkan dari proses tersebut.
Ia juga mengungkapkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir kelompok radikal semakin aktif memanfaatkan teknologi digital untuk merekrut anggota baru, terutama dari kalangan generasi muda.
“Tren saat ini, kelompok radikal melakukan perekrutan terhadap Gen Z melalui aktivitas game online sebagai pintu masuk. Mereka membangun komunitas yang disebut true crime community, yakni komunitas yang berafiliasi dengan kelompok terorisme,” jelasnya.
Melalui komunitas tersebut, calon anggota didekati secara perlahan dengan menciptakan lingkungan yang terasa nyaman dan saling mendukung.
Menurut Silvester, salah satu kelompok yang paling rentan direkrut adalah korban perundungan atau bullying.
“Korban bullying sering merasa terasing dan membutuhkan penerimaan. Situasi ini sering dimanfaatkan kelompok radikal untuk mendekati mereka,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa terorisme tidak dapat dikaitkan dengan agama tertentu.
“Terorisme tidak merujuk pada agama tertentu. Agama sering dimanfaatkan oleh para pelaku untuk membungkus ideologi mereka,” katanya.
Narasumber lainnya, Alfa, menjelaskan bahwa pola perekrutan kelompok radikal mengalami perubahan besar setelah tahun 2015.
“Sekarang cara mereka berubah. Mereka menggunakan media sosial dan berbagai konten digital untuk melakukan doktrin secara halus namun terus-menerus,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan para siswa agar tidak mengucilkan mantan narapidana terorisme yang telah menjalani proses deradikalisasi.
“Pelaku terorisme sebenarnya juga korban dari ideologi radikal. Karena itu jangan memusuhi atau mengucilkan mereka yang sudah bertobat,” katanya.
Pengalaman tentang proses perekrutan itu juga disampaikan Yanto, mantan anggota jaringan Jamaah Islamiyah yang kini aktif dalam program deradikalisasi.
“Saya direkrut saat bekerja di sebuah perusahaan. Ternyata perusahaan tempat saya bekerja milik jaringan JI. Saya diajak ikut pertemuan dan pengajian di kantor. Secara perlahan saya terpapar dan terpengaruh,” katanya.
Menurutnya, pendekatan yang dilakukan kelompok tersebut sangat halus dan tidak terasa seperti proses perekrutan.
“Cara mereka merekrut saya dengan menciptakan lingkungan yang nyaman seperti keluarga. Saat ekonomi saya sulit, mereka hadir membantu saya. Kenyamanan itu membuat saya semakin dekat dan akhirnya terjerumus dalam aktivitas kelompok radikal,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan para siswa agar tidak mudah percaya pada propaganda yang beredar di internet.
“Banyak orang Indonesia yang termakan propaganda ISIS. Mereka mengira kehidupan di sana lebih baik. Kenyataannya yang mereka temukan justru perang dan kehancuran,” katanya.
Kini Yanto mengaku menyesal pernah terlibat dalam jaringan tersebut dan berharap para pelajar tidak mengulangi kesalahan yang sama.
“Cukup saya yang pernah terjebak dan salah langkah. Jadilah generasi yang melek teknologi dan menolak intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme,” ujarnya.
Menutup kegiatan, Kepala Sekolah RD. Earlich Hearbert kembali mengingatkan para siswa agar mencintai negara dan menjaga nilai-nilai kebangsaan.
“Hari ini negara sudah hadir di hadapan kita. Jangan hanya bertanya apa yang negara berikan kepada kita, tetapi tanyakan apa yang bisa kita berikan kepada negara. Cintai negara ini,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa materi yang diperoleh dalam kegiatan tersebut akan diteruskan kepada seluruh siswa di sekolah.
“Materi yang sudah disampaikan hari ini akan kami teruskan kepada teman-teman yang belum sempat mengikuti kegiatan ini,” pungkasnya.














