Opini  

Belajar Tanpa Ruang Kelas, Dedikasi Pendidikan Pascabencana Gempa

Opini oleh Maria Velandis Wijaya Pantur (Mahasiswi Unika Santu Paulus Ruteng)

MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Menjadi mahasiswa berarti siap menerima berbagai tugas sekaligus tanggung jawab dalam dunia perkuliahan.

Saya merupakan mahasiswa angkatan 2026 Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, Unika St Paulus Ruteng.

Angkatan kami dikenal sebagai “angkatan gempa”, karena kami belum sempat mengikuti perkuliahan tatap muka ketika gempa besar melanda daerah kami.

Beberapa gedung kampus mengalami kerusakan akibat gempa, sehingga sejak awal perkenalan kampus sampai sekarang, kami belajar secara daring dari rumah masing‑masing.

Menurut saya, memulai perkuliahan tanpa pernah bertemu langsung di ruang kelas terasa cukup berat, meskipun kami tetap berusaha semangat untuk melanjutkan belajar.

Pada awal mulai perkuliahan kami merasa bingung karena belum pernah melihat ruang kelas kampus dan belum bertemu langsung dengan dosen serta teman‑teman baru.

Kami hanya bisa mengenal satu sama lain lewat layar ponsel atau komputer. Di daerah kami juga sering ada kendala sinyal yang lemah, terkadang listrik padam, dan masih ada perbaikan rumah akibat dampak pas gempa.

Kadang‑kadang saat kuliah sedang berlangsung, tiba‑tiba sinyal hilang sehingga kami tidak bisa mendengar penjelasan dosen sampai selesai.

Meskipun ada banyak hambatan, kami tidak mau menyerah begitu saja. Kami berusaha tetap mengikuti perkuliahan walaupun sinyal di sekitar rumah kurang bagus.

Meskipun demikian, kami tidak kehilangan semangat untuk mengikuti perkuliahan daring melalui aplikasi Zoom siaran langsung.

Setiap kali ada perkuliahan, kami selalu merekam layar agar penjelasan yang disampaikan dosen dapat kami pahami dengan baik, serta bisa kami tonton dan dengarkan kembali kapan saja.

Ada teman saya yang harus membantu orang tua membersihkan sisa kerusakan akibat gempa terlebih dahulu sebelum bisa mengerjakan tugas kuliah.

Waktu yang tersedia untuk belajar jadi lebih sempit, tapi kami tetap berusaha menyelesaikan semua tugas yang diberikan dengan sungguh‑sungguh.

Menurut pandangan saya, kuliah daring pas gempa juga memberikan pengalaman baru yang tidak kami dapatkan jika belajar di kelas biasa.

Kami jadi terbiasa mengatur waktu sendiri untuk belajar dan mengerjakan tugas, serta lebih berhati‑hati saat menggunakan gawai untuk keperluan kuliah.

Kami juga saling membantu sesama teman angkatan 2026, misalnya berbagi catatan kuliah jika ada teman yang tidak bisa mengikuti kelas karena kendala sinyal.

Dari situ kami belajar untuk lebih sabar menghadapi gangguan yang datang tiba‑tiba di daerah kami.

Tentu saja sistem kuliah daring ini masih memiliki banyak kekurangan. Karena kami baru masuk kuliah dan belum sempat mengikuti perkuliahan tatap muka, kami belum sempat mengenal dosen dan teman secara dekat.

Kami juga tidak bisa berdiskusi secara bebas seperti jika bertemu langsung di kelas. Selain itu, teman‑teman yang tinggal di tempat yang lebih terpencil masih sering kesulitan mendapatkan sinyal internet yang stabil.

Kami berharap pihak kampus dan pemerintah bisa membantu menyediakan tempat belajar sementara dengan sinyal yang baik, sampai ruang kelas kampus selesai diperbaiki dan aman untuk dipakai kembali.

Bagi kami mahasiswa angkatan 2026, gempa memang merusak tempat kami akan belajar, tapi tidak bisa merusak harapan kami untuk mendapatkan pendidikan yang layak.

Kami sadar bahwa kesulitan ini hanyalah ujian di awal perjalanan kuliah kami. Selama masih ada kesempatan untuk belajar, kami akan terus berusaha sebaik mungkin meskipun harus melakukannya dari rumah masing‑masing.

Sebagai kesimpulan, menurut saya belajar tanpa ruang kelas pas gempa adalah perjuangan yang tidak mudah bagi kami mahasiswa baru di Ruteng.

Ada banyak hambatan berupa sinyal yang lemah, gangguan listrik, dan pekerjaan tambahan di rumah. Namun dari kesulitan itu kami menjadi lebih sabar dan lebih bersemangat untuk mengejar masa depan yang lebih baik.

Mari kita jaga semangat belajar ini, sampai kami bisa pertama kali duduk bersama di ruang kelas kampus yang aman dan nyaman.

Penulis: Nana Patris AgatEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *