Opini oleh Fetrin Midus Tunga Retang (Mahasiswi UNIKA Santu Paulus Ruteng)
MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Pendidikan hari ini berada di persimpangan jalan yang sangat dilematis. Di satu sisi, kemajuan teknologi dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) memberikan kemudahan yang belum pernah ada sebelumnya dalam sejarah peradaban manusia.
Para pelajar dan mahasiswa kini dapat merangkum ribuan kata dalam hitungan detik, mencari jawaban atas soal-soal rumit secara instan, hingga menyusun kerangka esai hanya dengan memberikan beberapa kata kunci (prompt).
Namun, di sisi lain, kemudahan luar biasa ini memunculkan sebuah kekhawatiran mendalam yang jarang disadari: apakah generasi muda kita sedang benar-benar belajar, ataukah mereka perlahan-lahan sedang menjadi penikmat jalan pintas yang mengikis kemampuan berpikir kritis mereka sendiri?
Fenomena “asal cepat selesai” kini semakin marak mewarnai dunia akademik kita. Tugas-tugas sekolah maupun perkuliahan sering kali diselesaikan bukan lagi dengan membaca buku referensi, menggali literatur, atau berdiskusi secara mendalam, melainkan dengan menyalin hasil buatan kecerdasan buatan secara mentah-mentah.
Akibatnya, esensi sejati dari pendidikan itu sendiri—yang seharusnya membentuk mental yang tangguh, melatih nalar analitis, serta menumbuhkan kreativitas orisinal—mulai bergeser menjadi budaya instan yang serba instan.
Padahal, pendidikan yang bermutu tidak pernah diciptakan untuk melahirkan manusia yang sekadar tahu hasil akhirnya saja. Pendidikan adalah sebuah proses panjang yang melibatkan air mata perjuangan, kebingungan yang melahirkan rasa ingin tahu, serta proses mencoba dan melakukan kesalahan (trial and error).
Ketika seorang pelajar berjuang memecahkan sebuah rumus matematika yang sulit atau merangkai argumen dalam sebuah esai dengan kepalanya sendiri, otaknya sedang dilatih untuk membangun jaringan saraf yang kompleks. Jaringan inilah yang nantinya membentuk ketahanan mental, kemampuan problem solving, dan kedewasaan intelektual di dunia nyata.
Jika proses yang melelahkan namun berharga ini terus-menerus dipangkas oleh kehadiran teknologi yang serba instan, maka kita sedang bersiap melahirkan generasi yang canggih secara digital namun rapuh secara nalar.
Mereka mungkin terlihat pintar karena mampu menjawab apa saja dalam waktu singkat, tetapi ketika dihadapkan pada masalah nyata di dunia kerja atau masyarakat yang membutuhkan analisis mendalam dan kebijaksanaan, mereka sering kali gagap karena terbiasa disuapi oleh mesin.
Oleh karena itu, sudah saatnya bagi para pelajar, mahasiswa, dan seluruh insan pendidik di Indonesia untuk bersikap lebih bijak. Teknologi, termasuk AI, harus diposisikan secara proporsional yaitu sebagai alat bantu (tools) untuk mempermudah pekerjaan teknis, bukan sebagai pengganti otak manusia untuk berpikir.
Guru dan institusi pendidikan juga dituntut untuk mendesain ulang sistem evaluasi agar lebih menghargai proses orisinalitas berpikir, seperti melaluipresentasi lisan, esai reflektif pribadi, atau diskusi interaktif di kelas.
Pada akhirnya, generasi muda harus menyadari bahwa kecerdasan yang sejati tidak pernah lahir dari jawaban yang instan yang diberikan oleh layar komputer. Kecerdasan dan kebijaksanaan sejati hanya akan tumbuh dari ketekunan, kesabaran, dan keberanian untuk melewati setiap proses belajar yang tidak selalu mudahkanlah sesuatu yang mustahil untuk diwujudkan.













