Opini oleh Vitri Revani Ulri (Mahasiswi UNIKA Santu Paulus Ruteng)
MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia. Melalui pendidikan, seseorang dapat memperoleh pengetahuan, mengembangkan keterampilan, membentuk karakter, dan mempersiapkan diri untuk menghadapi berbagai tantangan pada masa depan.
Pendidikan tidak hanya berlangsung di sekolah atau perguruan tinggi, tetapi juga dimulai dari keluarga dan lingkungan masyarakat. Oleh karena itu, pendidikan menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah, lembaga pendidikan, orang tua, dan masyarakat.
Menurut pendapat saya sebagai mahasiswa program studi pendidikan bahasa dan sastra indonesia (PBSI) di Universitas katolik santu paulus ruteng, pendidikan tidak boleh hanya berfokus pada pencapaian nilai akademik, tetapi juga harus memperhatikan pembentukan karakter, sikap, moral, dan kepedulian terhadap sesama.
Seseorang yang memiliki pengetahuan tinggi belum tentu mampu bersikap baik apabila tidak memiliki pendidikan karakter yang kuat. Sebaliknya, seseorang yang memperoleh pendidikan secara menyeluruh akan lebih mampu menghargai orang lain, menyelesaikan masalah dengan bijaksana, serta bertanggung jawab atas tindakan yang dilakukannya.
Pendidikan juga harus menjadi tempat yang aman bagi setiap peserta didik. Sekolah dan lembaga pendidikan seharusnya memberikan kesempatan kepada semua anak untuk belajar, berkembang, dan meraih cita-cita tanpa mengalami diskriminasi, kekerasan, ataupun perundungan. Hal ini penting karena setiap anak memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan bermutu.
Pendidikan sebagai Dasar Pembentukan Karakter
Menurut saya, tujuan utama pendidikan bukan hanya membuat peserta didik menjadi pintar, tetapi juga membentuk mereka menjadi manusia yang memiliki kepribadian baik. Pendidikan karakter sangat penting karena berhubungan langsung dengan cara seseorang berpikir, berbicara, dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari. seperti kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, kerja sama, dan rasa hormat perlu ditanamkan sejak dini.
Guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga menjadi teladan bagi peserta didik. Demikian pula, orang tua perlu memberikan contoh yang baik agar anak dapat belajar melalui kebiasaan yang mereka lihat setiap hari.
Sebagai contoh, ketika seorang peserta didik melihat temannya mengalami kesulitan,ia seharusnya bersedia membantu, bukan mengejek atau merendahkannya. Sikap sederhana tersebut menunjukkan bahwa pendidikan telah membantu membangun rasa empati dan kepedulian sosial.
Saya berpendapat bahwa keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur melalui nilai rapor atau prestasi akademik. Keberhasilan juga harus dilihat dari kemampuan peserta didik menghargai perbedaan, menaati aturan, bertanggung jawab, dan menerapkan pengetahuan yang diperoleh untuk melakukan hal-hal positif.
Perundungan sebagai Masalah dalam Dunia Pendidikan
Salah satu masalah yang masih menjadi perhatian dalam dunia pendidikan adalah perundungan atau bullying. Perundungan merupakan tindakan menyakiti, merendahkan, atau mengintimidasi orang lain secara berulang. Tindakan ini dapat terjadi melalui perkataan, perilaku fisik, dan ejekan.
Menurut saya, perundungan merupakan masalah serius karena dapat mengganggu kenyamanan dan proses belajar peserta didik. Anak yang mengalami perundungan dapat merasa takut, kehilangan kepercayaan diri, sulit berkonsentrasi, dan enggan mengikuti kegiatan pembelajaran. Akibatnya, kesempatan mereka untuk memperoleh pendidikan yang baik dapat terganggu.
Saya juga berpendapat bahwa setiap bentuk perundungan harus ditangani dengan serius. Sekolah tidak boleh menganggap perundungan sebagai candaan biasa, terutama ketika tindakan tersebut membuat korban merasa terancam atau direndahkan. Guru dan pihak sekolah harus mendengarkan laporan korban, memeriksa kejadian secara adil, serta mengambil langkah yang tepat untuk melindungi peserta didik.
Sebagai contoh, apabila seorang siswa melihat temannya diejek karena kondisi keluarganya, ia sebaiknya tidak ikut menertawakan korban. Ia dapat memberikan dukungan kepada korban dan melaporkan kejadian tersebut kepada guru atau orang dewasa yang dipercaya.
Kasus yang diberitakan oleh media mengenai dugaan perundungan terhadap seorang siswi yatim piatu di Borong, Kabupaten Manggarai Timur, menjadi pengingat bagi masyarakat bahwa perlindungan anak harus menjadi perhatian bersama.
Berdasarkan berita yang ditampilkan, terdapat dugaan bahwa seorang siswi mengalami perlakuan yang tidak pantas. Namun, kebenaran dan rincian kejadian tersebut tetap perlu dipastikan melalui pemeriksaan pihak berwenang.
Menurut saya, peristiwa seperti ini harus menjadi bahan refleksi bagi dunia pendidikan. Anak yang kehilangan orang tua atau berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi yang sulit tidak boleh diperlakukan secara berbeda.
Mereka justru membutuhkan dukungan, perhatian, dan lingkungan yang memberikan rasa aman. Sekolah harus menjadi tempat yang membantu anak tumbuh dan berkembang, bukan tempat yang membuat mereka merasa takut atau kehilangan harapan.
Pentingnya Perlindungan terhadap Anak dalam Pendidikan
Setiap anak memiliki hak untuk mendapatkan perlindungan dan pendidikan yang layak. Hak tersebut tidak boleh dibatasi oleh keadaan ekonomi, latar belakang keluarga, kondisi fisik, ataupun perbedaan lainnya.
Menurut pendapat saya, perlindungan terhadap anak merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pendidikan. Anak yang merasa aman akan lebih mudah berkonsentrasi, berinteraksi dengan teman, dan mengembangkan potensinya. Sebaliknya, lingkungan yang penuh ancaman dapat menghambat perkembangan akademik maupun sosial mereka.
Oleh karena itu, sekolah perlu memiliki aturan yang jelas mengenai pencegahan kekerasan dan perundungan. Aturan tersebut harus disertai tindakan nyata, seperti memberikan pendidikan karakter, menyediakan layanan konseling, membangun komunikasi yang baik antara guru dan peserta didik, serta melibatkan orang tua dalam penyelesaian masalah.
Selain itu, peserta didik perlu diajarkan untuk menghargai martabat setiap manusia. Mereka harus memahami bahwa perbedaan bukan alasan untuk melakukan penghinaan. Setiap orang memiliki latar belakang dan pengalaman hidup yang berbeda sehingga membutuhkan sikap saling menghormati.
Saya berharap lembaga pendidikan dapat membangun budaya yang mengutamakan kepedulian dan keadilan. Dengan demikian, setiap peserta didik dapat belajar tanpa merasa terancam dan memiliki kesempatan yang sama untuk mencapai cita-citanya.
Peran Guru, Orang Tua, dan Masyarakat
Peningkatan mutu pendidikan tidak dapat dilakukan oleh sekolah saja. Guru, orang tua, pemerintah, dan masyarakat perlu bekerja sama untuk menciptakan lingkungan belajar yang baik.
Guru memiliki tanggung jawab untuk mengajar, membimbing, dan memberikan teladan kepada peserta didik. Guru juga perlu mengenali perubahan perilaku siswa yang mungkin menunjukkan adanya masalah, seperti kesulitan bergaul, menurunnya semangat belajar, atau ketakutan untuk mengikuti kegiatan sekolah.
Orang tua berperan memberikan perhatian, kasih sayang, dan dukungan kepada anak. Komunikasi yang terbuka dapat membantu anak merasa nyaman untuk menceritakan masalah yang mereka hadapi. Dengan demikian, persoalan yang terjadi dapat diketahui lebih awal dan ditangani secara tepat.
Sementara itu, masyarakat perlu menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan anak. Masyarakat tidak seharusnya membiarkan tindakan kekerasan atau perundungan terjadi tanpa kepedulian. Apabila menemukan masalah yang membahayakan anak, masyarakat perlu melaporkannya kepada pihak yang berwenang.
Menurut saya, kerja sama antara semua pihak tersebut dapat membantu menciptakan pendidikan yang lebih manusiawi, adil, dan berkualitas. Namun, penggunaan teknologi juga menghadirkan tantangan. Informasi yang tidak benar dapat menyebar dengan cepat, sedangkan media sosial dapat digunakan untuk menyebarkan hinaan atau melakukan perundungan secara daring.
Oleh karena itu, menurut saya, pendidikan pada era digital harus disertai kemampuan berpikir kritis dan tanggung jawab dalam menggunakan teknologi. Peserta didik perlu belajar memeriksa kebenaran informasi, menghormati privasi orang lain, serta menggunakan bahasa yang sopan ketika berkomunikasi melalui internet.
Guru dan orang tua juga perlu membimbing anak agar dapat memanfaatkan teknologi secara bijaksana. Teknologi seharusnya digunakan untuk memperluas pengetahuan, mengembangkan kreativitas, dan mendukung pembelajaran, bukan untuk merugikan orang lain.
Dengan penggunaan teknologi yang tepat, pendidikan dapat menjangkau lebih banyak peserta didik dan membuka kesempatan belajar yang lebih luas.
Pendidikan sebagai Investasi Masa Depan
Menurut saya, pendidikan merupakan investasi jangka panjang bagi individu, keluarga, masyarakat, dan bangsa. Melalui pendidikan, generasi muda dapat mengembangkan kemampuan untuk menghadapi perubahan zaman, menciptakan lapangan kerja, dan memberikan kontribusi bagi pembangunan.
Namun, investasi dalam pendidikan tidak hanya berkaitan dengan pembangunan gedung sekolah atau penyediaan fasilitas belajar. Investasi tersebut juga mencakup peningkatan kualitas guru, pengembangan kurikulum, pemerataan akses pendidikan, dan pembentukan lingkungan belajar yang aman.
Pendidikan yang baik harus mampu membantu peserta didik menemukan potensi mereka. Tidak semua anak memiliki kemampuan dan minat yang sama. Ada anak yang unggul dalam bidang akademik, seni, olahraga, bahasa, teknologi, atau keterampilan praktis. Karena itu, sekolah perlu memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan bakat sesuai dengan kemampuannya.
Saya berharap pendidikan di Indonesia semakin memperhatikan kebutuhan peserta didik secara menyeluruh. Dengan demikian, generasi muda tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga keterampilan, karakter, dan kepedulian sosial yang diperlukan untuk membangun masa depan yang lebih baik.
Berdasarkan uraian tersebut, saya berpendapat bahwa pendidikan merupakan fondasi penting dalam membentuk manusia yang cerdas, berkarakter, dan bertanggung jawab. Pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada nilai akademik, tetapi juga harus menanamkan nilai kemanusiaan, kejujuran, kedisiplinan, dan kepedulian terhadap sesama.
Permasalahan perundungan, kekerasan, dan kurangnya perlindungan terhadap anak menunjukkan bahwa dunia pendidikan masih menghadapi berbagai tantangan. Oleh karena itu, semua pihak harus bekerja sama untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, adil, dan mendukung perkembangan peserta didik.
Kasus dugaan perundungan terhadap siswi yatim piatu di Borong, Manggarai Timur, sebagaimana diberitakan dalam artikel yang menjadi bahan tulisan ini, mengingatkan kita bahwa setiap anak berhak memperoleh perlindungan dan perlakuan yang bermartabat. Keadaan keluarga atau latar belakang ekonomi tidak boleh menjadi alasan untuk merendahkan seseorang.
Akhirnya, saya berharap pendidikan di Indonesia semakin maju dan mampu memberikan kesempatan yang setara kepada semua anak. Guru hendaknya menjadi pembimbing yang bijaksana, orang tua menjadi pendukung utama, dan masyarakat menjadi lingkungan yang peduli terhadap perkembangan generasi muda.
Untuk menjadi manusia yang menghargai, melindungi, dan menghormati sesama. Dengan pendidikan yang berkualitas dan berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan, kita dapat membangun generasi yang cerdas, berakhlak baik, serta siap menghadapi masa depan.













