Opini oleh Magdalena Anut (Mahasiswi UNIKA Santu Paulus Ruteng)
MANGGARAI, PENA1NTT.COM — Bagi mahasiswa hari ini, membuka media sosial sudah seperti menyalakan lampu saat bangun tidur. Instagram, TikTok, dan WhatsApp menjadi ruang belajar, hiburan, sekaligus tempat bersosialisasi.
Namun, di balik kemudahan itu, ada persoalan yang jarang dibicarakan secara serius di kampus: dampaknya bagi kesehatan mental mahasiswa.
Tidak adil jika media sosial hanya disalahkan. Bagi mahasiswa perantauan, termasuk yang jauh dari kampung halaman di berbagai pelosok NTT, media sosial menjaga hubungan dengan keluarga.
Ia juga membuka akses informasi, beasiswa, dan komunitas belajar. Banyak mahasiswa menemukan minat dan peluang justru dari sana.
Masalah muncul ketika media sosial berubah dari alat menjadi tolok ukur hidup. Setiap hari, mahasiswa disuguhi unggahan teman yang lulus lebih cepat, berprestasi, jalan-jalan, atau tampak selalu bahagia.
Tanpa sadar, kita membandingkan kehidupan nyata kita yang penuh tugas, revisi, and keterbatasan dengan potongan terbaik hidup orang lain. Perbandingan ini melahirkan rasa minder, cemas, dan merasa tertinggal.
Ada pula fenomena fear of missing out (FOMO), yaitu rasa takut ketinggalan tren atau momen. Akibatnya, banyak mahasiswa sulit lepas dari gawai, begadang menggulir layar, dan mengorbankan waktu istirahat. Kurang tidur, sulit fokus kuliah, dan mudah lelah emosional adalah efek berantai yang sering dianggap sepele.
Yang lebih memprihatinkan, mahasiswa kerap memendam tekanan ini sendirian. Stigma bahwa bercerita soal beban pikiran berarti lemah masih kuat.
Padahal, kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Kampus pun belum tentu menyediakan layanan konseling yang mudah diakses dan ramah bagi mahasiswa.
Karena itu, ada beberapa langkah yang patut dilakukan:
Pertama, mahasiswa perlu belajar mengatur diri: membatasi waktu layar, mematikan notifikasi saat belajar dan tidur, serta mengikuti akun yang membawa dampak positif.
Kedua, perguruan tinggi perlu memperkuat layanan konseling dan mengadakan edukasi literasi digital serta kesehatan mental secara rutin.
Ketiga, kita perlu membangun budaya saling peduli. Menanyakan kabar teman secara sungguh-sungguh sering kali lebih berarti daripada seribu like.
Media sosial tidak akan hilang, dan memang tidak perlu dihilangkan. Yang perlu diubah adalah cara kita memakainya. Mahasiswa adalah generasi penerus yang akan memimpin daerah ini.
Jika pikiran dan jiwa kita sehat, kita bisa memanfaatkan teknologi untuk tumbuh, bukan untuk terpuruk.
Pada akhirnya, hidup tidak perlu terlihat sempurna di layar. Cukup dijalani dengan jujur, seimbang, dan saling menguatkan.













