Opini oleh Maria Riniati Benge (Mahasiswi UNIKA Santu Paulus Ruteng)
MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan.
Saat ini, siswa dapat memanfaatkan AI untuk mencari informasi, memahami materi pelajaran, dan menyelesaikan berbagai tugas sekolah. Kehadiran teknologi ini memberikan banyak kemudahan dalam proses pembelajaran.
Namun, di balik kemajuan tersebut, muncul pertanyaan penting: apakah kecerdasan buatan dapat menggantikan peran guru dalam membentuk karakter siswa?
Menurut saya, guru tetap menjadi kunci utama dalam pembentukan karakter siswa meskipun teknologi kecerdasan buatan semakin berkembang.
Pendidikan bukan hanya tentang menyampaikan pengetahuan, tetapi juga tentang membentuk manusia yang memiliki sikap, moral, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama.
Guru memiliki peran penting dalam menanamkan nilai-nilai karakter kepada siswa sejak dini.
Di sekolah dasar, misalnya, guru tidak hanya mengajarkan membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga membimbing siswa agar terbiasa bersikap jujur, disiplin, sopan, bertanggung jawab, serta menghormati orang lain.
Nilai-nilai tersebut sangat penting karena menjadi dasar bagi perkembangan kepribadian siswa pada masa mendatang.
Kecerdasan buatan memang dapat memberikan informasi tentang pentingnya kejujuran, kedisiplinan, dan tanggung jawab.
Akan tetapi, memberikan informasi tentang karakter berbeda dengan membimbing seseorang untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam hal ini, guru memiliki keunggulan karena dapat memberikan teladan secara langsung, memahami keadaan siswa, memberikan nasihat, serta membimbing mereka ketika menghadapi masalah.
Sebagai contoh, ketika seorang siswa menyontek saat mengerjakan tugas, guru tidak cukup hanya memberikan jawaban yang benar.
Guru perlu menjelaskan mengapa kejujuran itu penting, mengajak siswa memahami akibat dari perbuatannya, dan memberikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan.
Melalui proses tersebut, siswa belajar bahwa kejujuran bukan sekadar aturan sekolah, melainkan nilai yang harus diterapkan dalam kehidupan.
Selain itu, perkembangan AI juga menghadirkan tantangan baru. Siswa dapat menjadi terlalu bergantung pada teknologi untuk mengerjakan tugas tanpa berusaha memahami materi secara mandiri.
Jika tidak mendapatkan bimbingan yang tepat, kebiasaan tersebut dapat mengurangi tanggung jawab, kemandirian, dan kemampuan berpikir kritis siswa. Oleh karena itu, guru perlu mengajarkan cara menggunakan AI secara bijaksana, jujur, dan bertanggung jawab.
Guru juga perlu menyesuaikan metode pembelajaran dengan perkembangan zaman. Teknologi AI sebaiknya tidak dianggap sebagai musuh pendidikan, melainkan sebagai alat bantu yang dapat mendukung proses belajar.
Guru dapat memanfaatkan teknologi untuk memperkaya materi, memberikan contoh yang menarik, dan membantu siswa memahami pelajaran.
Namun, penggunaan teknologi harus tetap disertai dengan pendampingan agar siswa tidak hanya pintar secara akademis, tetapi juga memiliki karakter yang baik.
Dalam konteks pendidikan sekolah dasar, keteladanan guru sangat berpengaruh terhadap perilaku siswa. Ketika guru datang tepat waktu, berbicara dengan sopan, bersikap adil, dan menghargai setiap siswa, mereka memberikan contoh nyata yang dapat ditiru.
Hal ini menunjukkan bahwa pembentukan karakter tidak cukup dilakukan melalui teori atau teknologi, tetapi membutuhkan kebiasaan, interaksi, dan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan uraian tersebut, saya berpendapat bahwa guru tetap menjadi kunci pembentukan karakter siswa di era kecerdasan buatan.
Teknologi AI dapat membantu siswa memperoleh pengetahuan dengan lebih mudah, tetapi pendidikan karakter membutuhkan bimbingan, keteladanan, empati, dan interaksi manusiawi yang diberikan oleh guru.
Oleh karena itu, guru tidak boleh kehilangan perannya di tengah kemajuan teknologi. Sebaliknya, guru harus terus meningkatkan kemampuan dan memanfaatkan AI secara bijaksana untuk mendukung pembelajaran.
Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari seberapa tinggi nilai akademis siswa atau seberapa mahir mereka menggunakan teknologi, tetapi juga dari bagaimana mereka bersikap, mengambil keputusan, menghargai orang lain, dan bertanggung jawab atas tindakannya.
AI dapat membantu mencerdaskan siswa, tetapi guru tetap memiliki peran penting dalam membimbing mereka menjadi manusia yang berkarakter.













