Opini  

Memutus Rantai Perundungan: Mewujudkan SMA Pancasila Borong yang Ramah Anak

Opini oleh Saldianus Nggawur (Mahasiswa UNIKA Santu Paulus Ruteng)

MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membentuk karakter dan masa depan generasi muda. Sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman, nyaman, dan inklusif bagi seluruh siswa untuk menimba ilmu serta mengasah potensi diri.

Namun, fenomena perundungan (bullying) yang masih marak terjadi di lingkungan sekolah kerap menjadi penghambat besar bagi tercapainya tujuan mulia pendidikan tersebut.

Kasus perundungan, baik dalam bentuk verbal, fisik, maupun siber (cyberbullying), mengancam kesehatan mental serta perkembangan akademis para siswa.

SMA Pancasila Borong sebagai salah satu lembaga pendidikan di Manggarai Timur memiliki peran strategis dalam mencetak generasi penerus yang berkarakter dan berintegritas.

Oleh karena itu, isu perundungan tidak boleh dianggap sebagai hal yang remeh atau sekadar “bagian dari proses pendewasaan”.

Perundungan adalah tindakan merusak yang dapat menimbulkan trauma mendalam bagi korban. Dampaknya tidak hanya dirasakan saat masa sekolah, tetapi juga dapat terbawa hingga siswa melangkah ke jenjang kehidupan dewasa.

Untuk mengatasi permasalahan ini, perlu ada langkah konkret dan sinergis dari berbagai pihak di lingkungan SMA Pancasila Borong.

Pertama, sekolah harus memiliki kebijakan tegas dan sistem pelaporan yang aman. Siswa sering kali takut melaporkan tindakan perundungan karena khawatir akan mendapat balasan dari pelaku.

Dibuatkannya kanal pengaduan yang menjamin kerahasiaan identitas pelapor akan mendorong korban atau saksi untuk berani bersuara.

Kedua, edukasi mengenai kepekaan sosial dan empati harus diintegrasikan ke dalam kegiatan pembelajaran maupun ekstrakurikuler.

Guru tidak hanya berperan sebagai pengajar materi akademis, tetapi juga sebagai pendamping moral yang peka terhadap dinamika interaksi para siswa di luar kelas.

Program bimbingan konseling perlu diperkuat agar dapat memberikan pendampingan yang tepat, baik bagi korban maupun pelaku perundungan.

Selain itu, peran orang tua dan masyarakat sekitar tidak kalah penting. Komunikasi yang terjalin harmonis antara pihak sekolah dan orang tua akan mempermudah deteksi dini terhadap perubahan perilaku anak.

Lingkungan keluarga yang penuh kasih sayang akan membentuk anak menjadi pribadi yang saling menghargai dan jauh dari perilaku intimidatif.

Menciptakan lingkungan belajar yang bebas dari perundungan di SMA Pancasila Borong bukanlah tanggung jawab satu pihak saja. Sinergi antara kepala sekolah, guru, siswa, orang tua, dan masyarakat merupakan kunci utama.

Dengan komitmen bersama, kita dapat mewujudkan SMA Pancasila Borong sebagai sekolah yang aman, humanis, dan melahirkan generasi berprestasi tanpa rasa takut.

Penulis: Nana Patris AgatEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *