Opini oleh Melisa Indriati Kasi (Mahasiswi UNIKA Santu Paulus Ruteng)
MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Menjadi mahasiswa diera digital sering kali diartikan dengan kesibukan tanpa henti. Kuliah pagi, organisasi siang, rapat sore, hingga mengerjakan tugas atau freelance sampai larut malam.
Budaya ini dikenal dengan istilah hustle culture sebuah pola pikir yang mengagungkan kerja keras berlebihan dan menganggap istirahat sebagai bentuk kemalasan.
Fenomena ini semakin marak dibagikan di media sosial, menciptakan standar tidak tertulis bahwa mahasiswa yang “sukses” Adalah mereka yang tidak punya waktu luang.
Di satu sisi, dorongan untuk produktif membawa dampak positif. Mahasiswa menjadi lebih aktif mengasah soft skill, membangun jejaring ( networking), dan mempersiapkan diri menghadapi persaingan kerja yang semakin ketat.
Namun, di sisi lain, dorongan ini berubah menjadi tekanan psikologis yang berat. Banyak mahasiswa merasa FOMO ( Fear of Missing Out) atau cemas Ketika melihat rekan sebayanya memamerkan segudang prestasi atau kesibukan.
Akibatnya, batas antara produktivitas yang sehat dan eksploitasi diri menjadi kabur. Kurang tidur, pola makan yang tidak teratur, hingga gejala burnout ( kelelahan mental akut) kini menjadi hal yang menjadi dinormalisasi di kalangan kampus.
Padahal, tubuh dan otak memiliki keterbatasan. Memaksa diri terus bekerja tanpa jeda justru menurunkan konsentrasi dan kualitas hasil kerja itu sendiri.
Hustle culture bukanlah tolak ukur tunggal dari kesuksesan seorang mahasiswa. Produktivitas yang sesungguhnya bukan tentang seberapa sedikit waktu yang anda miliki untuk tidur, tetapi seberapa efektif dan sadar anda dalam mengelola diri.
Kampus dan mahasiswa perlu duduk bersama untuk menciptakan lingkungan akademik yang suportif.
Mahasiswa perlu belajar menetapkan batasan ( boundaries ), menyadari kapan harus beristrahat, dan memahami bahwa menjaga kesehatan mental bukanlah sebuah kelemahan, melainkan bagian dari tanggung jawab diri untuk bisa terus melangkah dalam jangka panjang.













