Opini  

Lentera di Pelosok: Menjemput Asa Literasi Generasi Muda NTT

Opini oleh Filomena Priska Isa (Mahasiswi UNIKA Santu Paulus Ruteng)

MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Di era digital saat ini, arus informasi mengalir begitu cepat melalui layar gawai.

Namun, di balik kemudahan teknologi tersebut, ada sebuah kenyataan pahit yang masih membayangi dunia pendidikan kita di Nusa Tenggara Timur (NTT): rendahnya tingkat literasi atau minat baca anak-anak, terutama mereka yang tinggal di wilayah pelosok pedesaan.

Buku sering kali disebut sebagai jendela dunia. Sayangnya, bagi sebagian besar anak-anak di pedalaman Flobamora, jendela itu masih tertutup rapat atau bahkan belum pernah terpasang.

Jangankan gawai canggih dengan kuota internet melimpah, akses untuk menyentuh buku bacaan yang berkualitas dan menarik pun masih menjadi barang mewah yang sulit dijangkau.

Tantangan literasi di daerah kita tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengandalkan kurikulum formal di sekolah yang durasinya terbatas.

Rendahnya minat baca ini bukan karena anak-anak kita malas, melainkan karena ekosistem yang mendukung mereka untuk membaca belum terbentuk secara merata.

Perpustakaan sekolah banyak yang kondisinya memprihatinkan, koleksi bukunya usang, dan jarang ada ruang baca publik yang ramah anak di tingkat desa.

Padahal, kemampuan literasi dasar—membaca dan memahami bacaan—adalah fondasi utama dari seluruh proses belajar.

Tanpa kemampuan literasi yang kuat, anak-anak akan kesulitan menyerap ilmu pengetahuan lain, termasuk matematika dan sains. Kita tidak bisa mencetak generasi emas jika pondasi dasarnya rapuh.

Oleh karena itu, penanganan krisis literasi ini membutuhkan gerakan bersama yang melintasi batas ruang kelas.

Ada beberapa langkah strategis yang bisa diinisiasi:

Pertama, Memanfaatkan Dana Desa untuk Perpustakaan Desa. Pemerintah desa harus mulai melihat bahwa pembangunan manusia tidak kalah penting dari pembangunan fisik.

Mengalokasikan sedikit anggaran untuk mendirikan pojok baca desa dan menyuplai buku-buku cerita bermutu akan menjadi langkah awal yang luar biasa.

Kedua, Menghidupkan Komunitas Penggerak Literasi. Kita butuuh lebih banyak relawan, pemuda, dan mahasiswa yang mau bergerak menjadi “kurir buku” keliling atau membuka lapak baca gratis di akhir pekan.

Gerakan akar rumput seperti ini terbukti lebih organik dan menyentuh langsung anak-anak agar bisa meningkatkan literasi belajarnya.

Ketiga, Sinergi Orang Tua dan Sekolah. Budaya membaca harus dimulai dari rumah. Sekolah bisa membuat program sederhana, seperti kewajiban membaca buku non-pelajaran selama 15 menit sebelum kelas dimulai, yang kemudian diceritakan kembali di rumah bersama orang tua.

Meningkatkan literasi di NTT memang bukan perkara membalikkan telapak tangan. Ini adalah kerja panjang yang sunyi namun dampaknya sangat masif bagi masa depan daerah.

Mari kita bersama-sama membuka jendela dunia itu untuk anak-anak kita. Sebab, dari halaman-halaman buku yang mereka baca hari ini, akan lahir pemimpin-pemimpin hebat NTT di masa depan.

Penulis: Nana Patris AgatEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *