Oleh: Florianus Agreisman Gahong (Mahasiswa PBSI Universitas Katolik Indonesia St Paulus Ruteng)
MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Pendidikan sering kali ramai membicarakan perubahan kurikulum, perkembangan teknologi, akreditasi sekolah, hingga pembangunan sarana dan prasarana. Semua itu penting. Namun, ada satu fondasi yang sering luput dari perhatian: literasi.
Tanpa kemampuan membaca, memahami, mengolah, dan menyampaikan informasi, kemajuan pendidikan berisiko menjadi bangunan yang berdiri tanpa landasan yang kuat.
Literasi tidak boleh dipahami sebatas kemampuan mengenali huruf dan membaca kalimat. Literasi adalah kemampuan memahami informasi, mengolah gagasan, berpikir kritis, menilai kebenaran suatu informasi, serta menyampaikan kembali pemikiran melalui tulisan maupun lisan. Seorang anak mungkin mampu membaca dengan lancar, tetapi belum tentu memahami makna dari apa yang dibacanya. Di sinilah tantangan pendidikan sesungguhnya berada.
Salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian adalah rendahnya kebiasaan membaca. Buku belum sepenuhnya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari peserta didik. Di sejumlah sekolah, perpustakaan masih belum menjadi ruang yang hidup. Koleksi buku terbatas, bacaan kurang beragam, dan suasana perpustakaan belum selalu mampu menarik minat siswa.
Persoalan tersebut semakin kompleks ketika akses terhadap bahan bacaan berkualitas di sejumlah daerah masih terbatas. Anak-anak yang seharusnya memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pengetahuan justru dapat menghadapi keterbatasan sumber belajar.
Di sisi lain, perkembangan teknologi digital menghadirkan tantangan baru. Gawai memang memberikan akses yang sangat luas terhadap informasi. Dalam hitungan detik, siswa dapat menemukan berbagai artikel, video, berita, dan materi pembelajaran. Namun, derasnya informasi tidak selalu berarti meningkatnya pengetahuan.
Internet juga dipenuhi informasi yang keliru, hoaks, judul provokatif, dan potongan informasi yang kehilangan konteks. Tanpa kemampuan literasi digital yang baik, peserta didik akan mudah menerima informasi tanpa memeriksa sumber dan kebenarannya.
Karena itu, literasi digital tidak boleh dipisahkan dari pendidikan. Siswa perlu diajarkan bukan hanya bagaimana mencari informasi, tetapi juga bagaimana memeriksa sumber, membandingkan informasi, memahami konteks, dan mengambil kesimpulan secara rasional.
Tantangan lainnya terletak pada pola pembelajaran. Pendidikan yang terlalu menekankan hafalan berpotensi membuat siswa terbiasa mencari jawaban, tetapi kurang terbiasa mengajukan pertanyaan. Padahal, budaya literasi justru tumbuh ketika siswa diberi ruang untuk membaca, berdiskusi, menulis, berpendapat, dan menguji gagasan.
Sekolah dapat memulai perubahan dari langkah sederhana. Misalnya, menyediakan waktu membaca secara rutin sebelum pembelajaran dimulai. Guru juga perlu menjadi teladan dengan menunjukkan bahwa membaca bukan sekadar tugas siswa, melainkan kebiasaan yang penting bagi semua orang.
Perpustakaan sekolah harus dihidupkan kembali dengan koleksi yang sesuai dengan kebutuhan dan minat peserta didik. Buku-buku tentang budaya lokal, sejarah daerah, cerita rakyat, lingkungan, hingga persoalan kehidupan sehari-hari dapat menjadi pilihan. Dengan demikian, membaca tidak terasa jauh dari kehidupan siswa.
Keluarga juga memiliki peran penting. Kebiasaan membaca tidak harus selalu dimulai dari kegiatan yang besar. Membaca bersama di rumah, berdiskusi mengenai sebuah buku, atau membiasakan anak menceritakan kembali apa yang dibacanya merupakan langkah sederhana yang dapat membangun budaya literasi.
Pemerintah daerah dan masyarakat pun perlu mengambil bagian melalui taman bacaan, pojok literasi, penyediaan buku, serta berbagai kegiatan membaca yang mudah dijangkau masyarakat.
Literasi tidak dapat dibangun secara instan. Ia tumbuh dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten. Karena itu, membangun budaya literasi bukan hanya tanggung jawab sekolah, melainkan tanggung jawab bersama.
Jika literasi diperkuat, pendidikan tidak hanya melahirkan siswa yang mampu menjawab soal, tetapi juga generasi yang mampu memahami persoalan, mempertanyakan sesuatu secara kritis, membedakan informasi yang benar dan keliru, serta menyampaikan gagasan secara bertanggung jawab.
Pada akhirnya, kemajuan pendidikan tidak cukup diukur dari gedung sekolah yang semakin megah atau teknologi yang semakin canggih. Pendidikan yang maju adalah pendidikan yang mampu membentuk manusia yang mampu membaca dunia, memahami perubahan, dan mengambil sikap berdasarkan pengetahuan.
Literasi bukan pelengkap pendidikan. Literasi adalah fondasinya.













