Oleh: Yohana Kurniati Dalmun
Mahasiswa STIPAS St. Sirilus Ruteng
PENA1NTT.COM– Bayangkan sebuah ruang kelas di mana hampir seluruh siswa menunduk menatap layar ponsel, sementara buku-buku pelajaran tergeletak tak tersentuh di atas meja Pemandangan ini bukan lagi pengecualian, melainkan potret keseharian di banyak sekolah di Indonesia. Minat membaca di kalangan pelajar terus merosot secara mengkhawatirkan. Ini bukan sekadar soal kebiasaan, melainkan sebuah darurat literasi yang mengancam kualitas generasi penerus bangsa.
Laporan UNESCO menunjukkan bahwa Indonesia berada di peringkat kedua terbawah dari 61 negara dalam hal minat baca. Sementara itu, hasil survei Programme for International Student Assessment (PISA) secara konsisten menempatkan kemampuan literasi siswa Indonesia jauh di bawah rata-rata negara-negara anggota OECD. Angka-angka ini bukan sekadar statistik dingin; ia adalah sirene peringatan keras yang menandakan kegagalan sistemik dalam membangun budaya membaca.
Akar Masalah: Lebih dari Sekadar Malas Membaca
Rendahnya minat baca pelajar tidak bisa disederhanakan sebagai kemalasan individual. Persoalannya jauh lebih kompleks dan berlapis.
Pertama, derasnya arus hiburan digital—media sosial, gim daring, dan platform video—telah menciptakan kompetitor serius bagi buku. Konten digital dirancang untuk memberikan kepuasan instan, memicu dopamin dalam hitungan detik, sementara membaca menuntut kesabaran, ketekunan, dan konsentrasi.
Kedua, sistem pendidikan kita secara ironis turut berkontribusi terhadap masalah ini. Membaca kerap diposisikan sebagai kewajiban akademik yang sarat penilaian, bukan sebagai kebutuhan intelektual atau sumber kenikmatan. Siswa membaca demi nilai dan tugas, bukan demi pemahaman. Ketika membaca diasosiasikan dengan beban, maka wajar jika ia ditinggalkan begitu tekanan akademik mengendur.
Ketiga, lingkungan keluarga yang miskin teladan literasi memperparah situasi. Anak-anak yang tumbuh tanpa melihat orang tua membaca akan sulit mengembangkan kecintaan pada buku. Dalam konteks ini, absennya budaya membaca di rumah menciptakan ruang kosong yang dengan mudah diisi oleh layar gawai.
Dampak yang Tidak Boleh Diabaikan
Rendahnya minat baca bukan sekadar persoalan akademis, melainkan ancaman serius bagi masa depan bangsa. Kemampuan berpikir kritis, analitis, dan kreatif bertumbuh melalui kebiasaan membaca yang mendalam. Pelajar yang jarang membaca cenderung lemah dalam menulis dan berargumentasi, kesulitan memahami gagasan kompleks, serta lebih rentan terpapar hoaks dan disinformasi yang merajalela di ruang digital.
Dalam era persaingan global yang semakin ketat, bangsa yang tidak membaca adalah bangsa yang tertinggal. Negara-negara seperti Finlandia, Jepang, dan Korea Selatan menjadikan budaya membaca sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia. Hasilnya tampak jelas pada kualitas inovasi, produktivitas, dan daya saing warganya.
Solusi: Membangun Ekosistem, Bukan Sekadar Kampanye
Mengatasi krisis literasi tidak cukup dengan slogan “Ayo Membaca” atau seremoni peringatan Hari Buku. Yang dibutuhkan adalah pendekatan sistemik dan berkelanjutan. Sekolah perlu menyediakan waktu khusus untuk membaca bebas tanpa tekanan penilaian, memberi ruang bagi siswa memilih bacaan sesuai minat mereka. Praktik ini telah terbukti efektif menumbuhkan kecintaan membaca di berbagai negara.
Orang tua harus didorong menjadi teladan literasi di rumah. Pemerintah berkewajiban memastikan akses buku yang terjangkau dan merata, sekaligus memperkuat perpustakaan sekolah dan daerah. Di sisi lain, penulis dan penerbit perlu menghadirkan bacaan yang relevan, kontekstual, dan dekat dengan realitas anak muda.
Teknologi pun tidak harus selalu diposisikan sebagai musuh literasi. Platform e-book, audiobook, dan aplikasi baca digital justru dapat menjadi jembatan bagi generasi yang tumbuh bersama layar untuk tetap bersentuhan dengan dunia bacaan—asal dimanfaatkan secara sadar dan terarah.
Penutup: Tanggung Jawab Kita Bersama
Rendahnya minat membaca di kalangan pelajar adalah cermin rapuhnya ekosistem literasi kita. Ini bukan kegagalan siswa semata, melainkan kegagalan kolektif dalam membangun budaya yang menghargai pengetahuan. Setiap buku yang berdebu di sudut kelas adalah potensi yang terabaikan; setiap anak yang tidak membaca adalah masa depan yang perlahan meredup.
Sudah saatnya kita bergerak melampaui kampanye simbolik dan aksi seremonial. Literasi sejati dibangun secara konsisten—hari demi hari, buku demi buku, halaman demi halaman. Dan perjuangan itu harus dimulai dari kita sendiri: dari rumah, dari sekolah, dari ruang-ruang kecil tempat masa depan bangsa sedang dibentuk. Karena bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang kaya sumber daya, tetapi bangsa yang gemar membaca dan berpikir.














