Opini  

Krisis Literasi: Ketika Membaca Tak Lagi Dicintai

Kunigunda Dahul (Dok. Pribadi)

Oleh: Kunigunda Dahul
Mahasiswa Prodi Pendidikan Keagamaan Katolik STIPAS ST.Sirilus Ruteng

PENA1NTT.COM – Literasi membaca merupakan salah satu fondasi terpenting dalam membangun peradaban sebuah bangsa. Membaca bukan sekadar kemampuan mengenali huruf dan merangkainya menjadi kata, melainkan kemampuan memahami, menafsirkan, serta merefleksikan informasi secara kritis dan mendalam. Bangsa yang literat adalah bangsa yang mampu berpikir, berdialog, dan membangun dirinya sendiri dari dalam.

Namun kenyataan yang kita hadapi hari ini justru bertolak belakang dengan cita-cita tersebut. Berbagai data menunjukkan bahwa tingkat literasi membaca masyarakat Indonesia masih berada pada kondisi yang mengkhawatirkan. Di tengah kemajuan teknologi dan melimpahnya akses informasi, kebiasaan membaca justru semakin terpinggirkan. Buku-buku berdebu di rak, perpustakaan sepi pengunjung, dan ruang-ruang diskusi intelektual perlahan kehilangan denyut kehidupannya.

Laporan UNESCO menempatkan Indonesia di peringkat bawah dalam minat baca global. Sementara hasil OECD melalui Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 menunjukkan skor literasi membaca siswa Indonesia hanya 359 poin, jauh di bawah rata-rata OECD yang mencapai 476 poin. Data Badan Pusat Statistik tahun 2022 pun mencatat bahwa rata-rata masyarakat Indonesia hanya membaca buku sekitar 4,7 jam per minggu—angka yang sangat kecil jika dibandingkan dengan waktu yang dihabiskan untuk media sosial dan hiburan digital.

Perpustakaan yang Sepi, Layar yang Ramai

Sebagai mahasiswa yang tinggal dan belajar di Ruteng, Flores, saya menyaksikan krisis literasi ini secara nyata dalam kehidupan kampus. Setiap pagi, ketika melintasi perpustakaan STIPAS St. Sirilus Ruteng, pemandangan yang saya lihat nyaris selalu sama: kursi-kursi kosong, rak buku yang sunyi, dan suasana yang nyaris tanpa kehidupan intelektual.

Sebaliknya, kantin kampus dan sudut-sudut taman justru dipenuhi mahasiswa dengan kepala tertunduk, jari-jari sibuk menggulir layar ponsel. Pemandangan ini telah menjadi rutinitas yang dianggap wajar, padahal sesungguhnya menyimpan kejanggalan serius. Kita adalah mahasiswa—kaum terdidik yang seharusnya menjadikan membaca sebagai denyut utama kehidupan akademik. Namun perpustakaan, yang seharusnya menjadi jantung intelektual kampus, justru menjadi ruang paling sepi.

Ketika Membaca Berubah Menjadi Beban

Saya ingin jujur: saya pun bagian dari problem ini. Ada masa ketika buku adalah sahabat terbaik saya. Di bangku sekolah dasar, saya tidak bisa tidur sebelum menyelesaikan satu cerita. Buku adalah dunia kedua, tempat saya melarikan diri dari sempitnya rutinitas. Namun ketika memasuki dunia kampus, relasi saya dengan membaca berubah drastis.

Membaca tidak lagi hadir sebagai kenikmatan, melainkan sebagai kewajiban akademik. Jurnal, buku teks, dan referensi dibaca demi ujian, makalah, dan presentasi—bukan karena rasa ingin tahu. Ketika membaca dilakukan karena paksaan, ia kehilangan rohnya. Ia berubah dari petualangan intelektual menjadi beban yang ingin segera diselesaikan, lalu dilupakan.

Godaan layar digital memperparah situasi ini. Media sosial menawarkan kepuasan instan tanpa tuntutan konsentrasi. Berbeda dengan buku yang menuntut kesabaran, ketekunan, dan kemampuan berpikir mendalam—kemewahan yang terasa semakin langka di era serba cepat.

Akar Masalah Literasi

Rendahnya literasi membaca di Indonesia bukan sekadar persoalan individu, melainkan masalah struktural dan kultural.

Pertama, faktor ekonomi dan akses. Harga buku masih relatif mahal, sementara distribusi perpustakaan belum merata, terutama di daerah-daerah terpencil seperti Flores.

Kedua, faktor budaya. Indonesia memiliki tradisi lisan yang kuat, namun tradisi membaca belum benar-benar mengakar dalam kehidupan sehari-hari. Budaya hiburan digital yang instan semakin menyingkirkan kebiasaan membaca yang membutuhkan usaha kognitif.

Ketiga, faktor sistem pendidikan. Pendidikan kita masih terlalu menekankan hafalan dan capaian nilai, bukan pemahaman dan pemikiran kritis. Paulo Freire menyebut sistem semacam ini sebagai banking education—pendidikan yang mematikan daya reflektif peserta didik.

Harapan di Tengah Krisis

Di balik situasi yang tampak suram, harapan itu masih ada. Era digital, yang sering dituduh sebagai penyebab runtuhnya minat baca, justru menyimpan potensi besar. Platform seperti iPusnas milik Perpustakaan Nasional Republik Indonesia membuka akses ribuan buku gratis bagi masyarakat, termasuk mahasiswa di daerah dengan keterbatasan toko buku.

Selain itu, gerakan literasi berbasis komunitas—taman bacaan, perpustakaan jalanan, dan komunitas diskusi—menunjukkan bahwa perubahan tidak harus selalu datang dari atas. Ia dapat tumbuh dari kesadaran kolektif warga.

Menjembatani Harapan dan Kenyataan

Untuk membangun kembali budaya membaca, diperlukan langkah konkret dan berkelanjutan. Membaca harus dikembalikan sebagai pilihan yang menyenangkan, bukan sekadar kewajiban akademik. Kampus perlu menghidupkan perpustakaan sebagai ruang belajar yang ramah dan relevan.

Pemerintah harus berani menurunkan harga buku, memperluas jaringan perpustakaan hingga ke desa-desa, serta mendukung komunitas literasi secara nyata. Reformasi sistem pendidikan mutlak diperlukan agar literasi kritis menjadi kompetensi inti, bukan pelengkap.

Janji dan Ajakan

Tulisan ini saya awali dengan pengakuan jujur bahwa saya pernah meninggalkan kebiasaan membaca. Saya ingin menutupnya dengan janji—kepada diri sendiri dan kepada sesama mahasiswa—untuk kembali menjadikan buku sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Sebagai calon pendidik agama Katolik, saya percaya bahwa mencerdaskan pikiran melalui membaca adalah bentuk penghargaan terhadap anugerah akal budi. Santo Agustinus pernah mengatakan bahwa hati manusia tidak akan tenang sampai ia beristirahat dalam kebenaran. Dan kebenaran itu menuntut kita untuk membaca, merenung, dan berpikir.

Masa depan sebuah bangsa ditentukan oleh kualitas pikiran warganya. Dan kualitas pikiran tidak pernah bisa dipisahkan dari kualitas bacaan yang dikonsumsi. Mari kita kembalikan buku ke tangan kita. Mari buktikan bahwa mahasiswa NTT, mahasiswa Ruteng, adalah generasi yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga kaya literasi dan kaya pikiran—satu halaman buku pada satu waktu.

IMG-20260217-WA0004
Penulis: Irenius Putra Editor: Irenius Putra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *