Karya: Margareta Kartika (Ketua Presidium PMKRI Cabang Ruteng St. Agustinus)
MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Di bawah langit Ngada yang muram dan bisu, Seorang bocah sepuluh tahun melipat rindu. Bukan rindu pada mainan atau sepiring nasi, tapi pada selembar kertas untuk menuliskan arti.
Sepuluh tahun usia di mana dunia seharusnya seluas samudera, Namun baginya, semesta menyempit di dalam dompet ibu yang hampa.
“Ibu, guru bilang buku harus baru, pena di tanganku sudah habis tintanya membiru.” Kalimat itu bukan sekadar permintaan sederhana, Itu adalah lonceng duka yang berdentang di dada sang bunda.
Ibu hanya mampu menggenggam jemari yang gemetar, menghitung lembaran kusut di atas tikar yang kian usang, Di mana angka-angkanya tak pernah cukup untuk membeli hari, Apalagi untuk menyuap masa depan agar tidak lari.
Sepuluh ribu rupiah hanya selembar kertas remeh, di meja pejabat, ia hanyalah untaian kertas yang tak bernilai. Uang receh yang jatuh di sela kursi mobil mewah, Atau sekadar harga parkir dari mereka yang hidup berlimpah.
Di Jakarta, ia hanyalah asap knalpot yang lewat tanpa bekas, Namun di Ngada, ia adalah algojo yang mencekik napas dengan keras.
Lihatlah tinta itu, kini berubah menjadi merah, mengalir dari nadi seorang anak yang dipaksa menyerah. Ia tak lagi butuh buku untuk mengeja kata “Keadilan”, Sebab di negeri ini, keadilan hanyalah barang pajangan.
Tertulis rapi di dinding kelas dan lobi-lobi kantor kementerian, namun tak pernah menyentuh lantai rumah yang beralas tanah dan kesunyian.
Wahai tuan-tuan yang duduk di singgasana birokrasi, Yang bicaranya tinggi tentang Indonesia Emas dan teknologi. Kalian sibuk berdebat soal kurikulum yang berganti nama, Sementara di sudut NTT, maut menjemput anak yang tak punya apa-apa.
Lihatlah nisan kecil ini, bacalah dengan mata hati: “Mati karena sepuluh ribu, di negeri yang katanya sudah mandiri.”
Kalian pamerkan angka pertumbuhan ekonomi yang gemilang, Presentasi PowerPoint yang penuh warna dan grafik yang menjulang. Namun grafik itu tak mampu memotret tangisan di balik bukit, tentang bagaimana kemiskinan merobek harapan hingga sakit.
Sekolah gratis katanya? Itu hanyalah igauan di atas kertas, jika seorang anak harus mati karena malu, karena harta yang ampas.
Martabat tidak gratis, tuan. Ia harus dibayar mahal, Oleh mereka yang miskin, yang sisa harapannya semakin dangkal. Di sana, di ruang kelas yang seharusnya menjadi pelita, ternyata menjadi penjara bagi mereka yang kalah dalam kasta.
Siapa yang salah? Guru yang menagih atau sistem yang tuli? Atau kita semua yang membiarkan nurani mati perlahan-lahan di sini?
Pena itu kini patah, bukunya tak sempat terisi satu huruf pun, Hanya menyisakan luka yang merambat seperti embun di pagi hari yang pikun.
Ngada bersaksi, bahwa miskin itu memang menyakitkan, Terlebih saat negara lebih memilih buta dan sibuk dengan pencitraan. Negara hadir hanya saat memungut suara di bilik suara, Namun raib saat seorang ibu tak mampu membeli alat tulis untuk anaknya.
Jangan lagi bicara tentang kurikulum yang hebat dan mendunia, Jika untuk sepucuk pena saja, nyawa harus menjadi tumbalnya. Darah di Ngada adalah tinta hitam di wajah sejarah kita, Tentang sebuah bangsa yang gagal menjemput mereka yang menderita.
Hari ini, langit NTT meneteskan hujan yang terasa asin, meratapi sebuah pena berdarah, dan matinya keadilan bagi si miskin.














