MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Manggarai kembali memicu gelombang protes dari orang tua murid.
Kekecewaan orang tua memuncak setelah ditemukannya menu makanan berupa lauk ayam dan tahu yang diduga dalam kondisi membusuk serta tidak layak dikonsumsi oleh para siswa di SDN 1 Reo, Kecamatan Reo, Kamis (12/03/2026).
Melalui sebuah rekaman video berdurasi 2 menit 41 detik, salah satu orang tua murid menyampaikan protes terbuka yang ditujukan khusus kepada pengelola dapur MBG Reo 1.
“Hari ini dapur MBG Reo 1 berulah lagi. Mereka memberikan ayam dan tahu busuk yang tidak dapat dikonsumsi,” ujar orang tua murid dalam rekaman tersebut.
Baca Juga: Korwil BGN Manggarai Pamer Capaian Statistik, Bungkam soal Standarisasi Pangan dan Insiden Keracunan
Berdasarkan kesaksian narasumber dalam video tersebut, insiden ini merupakan pola berulang dari kelalaian pihak pengelola dapur yang sama.
Sebelum temuan ayam busuk ini mencuat, pihak dapur diduga pernah menyajikan telur dalam kondisi mentah hingga cairannya pecah di dalam wadah mika siswa.
“Terkhusus untuk para karyawan dapur mbg reo 1, hari ini reo 1 berulah lagi yang mana kalau kemarin dulu itu kasih telur mentah yang belum masak, belum matang dan muncrat di dalam mika,” ujar orang tua tersebut dengan nada cetus.
Ia juga menggugat integritas pengelola terkait standar nutrisi yang dijanjikan pemerintah.
Baca Juga: Gizi Menjelma Tragedi: Quo Vadis Makan Beracun Gratis!
Persoalan mengenai letak kandungan gizi, protein, hingga mineral menjadi poin utama yang dipertanyakan oleh narasumber, mengingat bahan baku yang disediakan justru dinilai mengancam kesehatan anak-anak.
“Bagaimana gizi, dimana letak gizinya, protein dan mineral dimana letaknya?,” tambahnya.
Rentetan kejadian di SDN 1 Reo ini menunjukkan adanya kendala serius pada kontrol kualitas di dapur produksi secara berkelanjutan.
Para orang tua murid menilai rentetan kejadian di SDN 1 Reo ini sebagai indikasi adanya kendala serius pada kontrol kualitas di dapur produksi secara berkelanjutan.
Merujuk pada protes warga sekolah, distribusi bahan pangan yang tidak segar serta olahan yang belum matang dianggap sebagai bentuk pengabaian terhadap standar kesehatan yang seharusnya diterima siswa.
Baca Juga: Evaluasi Program MBG, PMKRI Ruteng Ingatkan Potensi Korupsi dan Bahaya Keamanan Pangan
Rapor Merah Tata Kelola MBG di Manggarai
Kondisi ini memicu kekhawatiran kolektif mengenai jaminan keamanan pangan bagi anak-anak yang bergantung pada program ini setiap harinya.
Persoalan di SDN 1 Reo ini hanyalah puncak gunung es dari karut-marut tata kelola program MBG di Kabupaten Manggarai secara luas.
Masyarakat mencatat serangkaian insiden yang menunjukkan lemahnya pengawasan sistemik, mulai dari masalah distribusi logistik hingga kualitas bahan baku di berbagai kecamatan.
Sebelumnya, publik sempat dikejutkan dengan kasus dugaan keracunan makanan yang menimpa siswa di SDN Ulu Belang, Satar Mese, yang hingga kini menyisakan trauma bagi orang tua murid.
Baca Juga :Tinjauan Kritis Program MBG: Dilema Pemenuhan Nutrisi dan Disorientasi Akademik
Pihak Pengelola Bungkam
Hingga berita ini diturunkan, pihak pengelola dapur maupun manajemen vendor terkait belum memberikan keterangan resmi untuk memberikan klarifikasi atas temuan tesebut.
Upaya konfirmasi yang dilakukan media ini tidak membuahkan hasil, pihak pengelola cenderung menutup diri dari pertanyaan publik mengenai kegagalan berulang yang terjadi.
Sikap bungkam dari pihak pengelola ini semakin memperkuat desakan masyarakat agar Pemerintah Kabupaten Manggarai melalui instansi terkait segera melakukan audit total.
Tanpa adanya transparansi dan evaluasi mendasar, integritas program strategis nasional ini dikhawatirkan akan terus merosot dan mengancam kesehatan masyarakat Manggarai.














