Opini  

Tidak Ada Lagi Ruang Aman untuk Perempuan?

Andini Fatima Day Yesu, Mahasiswa STIPAS St Sirilus Ruteng

Oleh: Andini Fatima Day Yesu

 

“Perempuan adalah rahim peradaban.” Kalimat ini kerap kita dengar dalam pidato, seminar, hingga peringatan hari-hari besar. Perempuan dipuji sebagai fondasi peradaban, pendidik pertama bagi anak-anaknya, pengajar nilai-nilai kemanusiaan, sekaligus penjaga kasih sayang dalam keluarga. Namun di balik pujian yang terdengar indah itu, realitas menunjukkan ironi yang menyakitkan: perempuan yang disebut sebagai tonggak peradaban justru sering hidup dalam bayang-bayang ketakutan.

Hari ini, rasanya tidak berlebihan jika muncul pernyataan bahwa ruang aman bagi perempuan semakin menyempit.

Berita demi berita yang muncul hampir setiap hari memperlihatkan wajah kekerasan yang terus berulang—pelecehan seksual, kekerasan dalam rumah tangga, femisida, eksploitasi digital, hingga intimidasi di ruang publik. Data tahunan dari Komnas Perempuan secara konsisten menunjukkan bahwa angka kekerasan terhadap perempuan masih tinggi dan bahkan cenderung meningkat. Rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman justru kerap menjadi lokasi terjadinya kekerasan. Jalanan yang merupakan ruang publik bersama berubah menjadi ruang yang menuntut kewaspadaan. Bahkan dunia digital, yang seharusnya menjadi ruang ekspresi, sering kali berubah menjadi arena perundungan dan pelecehan berbasis gender.

Perempuan seakan hidup dalam dua lapis ketakutan: di dalam rumah dan di luar rumah.

Di dalam rumah, sebagian perempuan harus menahan luka yang tidak terlihat. Kekerasan dalam rumah tangga sering tersembunyi di balik tembok, ditutupi oleh budaya “aib keluarga”, atau dibungkam oleh ketergantungan ekonomi. Banyak korban memilih diam, bukan karena mereka tidak ingin melawan, tetapi karena sistem sosial belum sepenuhnya memberikan perlindungan dan keberpihakan.

Di luar rumah, perempuan pun belum sepenuhnya merasa bebas. Mereka harus berpikir dua kali ketika pulang malam, mengirim lokasi kepada teman atau keluarga, dan terus waspada terhadap tatapan, komentar, atau sentuhan yang tidak diinginkan. Bahkan cara berpakaian kerap dijadikan alasan pembenaran bagi pelaku kekerasan. Seolah-olah tanggung jawab keselamatan selalu dibebankan pada perempuan, bukan pada mereka yang melakukan pelanggaran.

Padahal, jika perempuan adalah tonggak peradaban, bagaimana mungkin peradaban itu tumbuh sehat jika tonggaknya terus diguncang?

Perempuan melahirkan generasi. Mereka mengajarkan nilai empati, kasih sayang, dan penghormatan terhadap sesama. Mereka adalah pendidik pertama yang mengenalkan anak pada dunia. Namun bagaimana mungkin nilai-nilai itu tumbuh kuat jika sang pengajar hidup dalam ketakutan? Bagaimana anak dapat belajar tentang rasa aman jika ibunya sendiri merasa tidak aman?

Ketika perempuan tidak memiliki ruang aman, yang terancam bukan hanya individu, melainkan masa depan kolektif masyarakat.

Masalah ini tentu tidak berdiri sendiri. Ia berakar pada budaya patriarki yang masih kuat, pada relasi kuasa yang timpang, pada normalisasi candaan seksis, serta pada kecenderungan menyalahkan korban. Selama masyarakat masih lebih sibuk mempertanyakan pakaian korban daripada perilaku pelaku, selama kekerasan dianggap sebagai “urusan rumah tangga”, dan selama pelecehan dipandang sebagai hal sepele, maka ruang aman bagi perempuan akan terus menyempit.

Ironisnya, perempuan sering diposisikan dalam dua peran yang saling bertolak belakang: diagungkan secara simbolik, tetapi diabaikan secara struktural. Mereka dipuji sebagai “tiang negara”, namun ketika bersuara tentang ketidakadilan, suara itu kerap dianggap berlebihan. Mereka diminta menjaga moral, tetapi perlindungan terhadap mereka sering kali belum maksimal.

Tidak adanya ruang aman juga terlihat dari beban mental yang terus dipikul perempuan. Rasa cemas yang konstan, kewaspadaan yang tidak pernah benar-benar padam, serta tekanan sosial untuk selalu terlihat kuat menciptakan luka psikologis yang tidak sedikit. Ketakutan yang terus-menerus bukanlah kondisi normal, tetapi bagi banyak perempuan, itulah kenyataan yang harus dihadapi setiap hari.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, dampaknya akan meluas. Peradaban yang sehat membutuhkan rasa aman. Rasa aman melahirkan kreativitas, keberanian, dan inovasi. Sebaliknya, ketakutan melahirkan pembatasan diri. Ketika perempuan membatasi langkahnya karena takut, ruang kontribusi mereka ikut menyempit. Dan ketika kontribusi perempuan menyempit, masyarakat kehilangan setengah dari potensinya.

Pertanyaannya kemudian: apakah kita akan terus membiarkan situasi ini menjadi hal yang dianggap normal?

Menciptakan ruang aman bukan hanya tanggung jawab perempuan. Ini adalah tanggung jawab kolektif. Negara harus memastikan hukum ditegakkan secara tegas dan berpihak pada korban. Institusi pendidikan perlu menanamkan nilai kesetaraan dan penghormatan sejak dini. Media harus berhenti menggunakan narasi yang menyudutkan korban. Keluarga juga memiliki peran penting dalam mendidik anak laki-laki dan perempuan dengan nilai yang sama tentang rasa hormat, batasan, dan tanggung jawab.

Ruang aman bukan sekadar tempat tanpa ancaman fisik. Ia adalah kondisi sosial di mana perempuan dapat berbicara tanpa takut dibungkam, berjalan tanpa takut dilecehkan, dan bermimpi tanpa takut direndahkan. Ruang aman adalah budaya yang menghormati martabat manusia tanpa syarat.

Mengatakan bahwa “tidak ada lagi ruang aman untuk perempuan” mungkin terdengar pesimis. Namun sesungguhnya pernyataan itu adalah sebuah alarm—peringatan bahwa ada sesuatu yang tidak sehat dalam sistem sosial kita. Ia adalah seruan agar kita tidak lagi menutup mata.

Peradaban tidak hanya dibangun oleh gedung tinggi, teknologi canggih, atau pertumbuhan ekonomi. Peradaban juga dibangun oleh rasa aman, keadilan, dan penghormatan terhadap sesama. Jika perempuan—yang disebut sebagai rahim dan tonggak peradaban—terus hidup dalam ketakutan, maka sesungguhnya peradaban kita sedang rapuh.

Bangunan tidak akan berdiri kokoh jika tiangnya retak.

Karena itu, sebelum berbicara tentang kemajuan bangsa atau membanggakan berbagai pencapaian global, ada pertanyaan mendasar yang perlu dijawab: sudahkah perempuan benar-benar merasa aman?

Jika jawabannya belum, maka pekerjaan kita masih jauh dari selesai. Sebab peradaban yang benar-benar maju adalah peradaban yang memastikan setiap perempuannya dapat hidup tanpa rasa takut—di rumah, di jalan, dan di mana pun ia berada.

IMG-20260217-WA0004
Penulis: Irenius Putra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *