MANGGARAI TIMUR, PENA1NTT.COM – Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Ruteng Sanctus Agustinus secara resmi memulai Masa Penerimaan Anggota Baru (MPAB) ke-30.
Bertempat di Biara Somascan Arvedi Jawang, Borong, kegiatan yang berlangsung pada 25–29 Januari 2026 ini menjadi langkah strategis organisasi dalam mencetak pemimpin tangguh di tengah tantangan dan disrupsi global.
Komitmen dan Transformasi Karakter Kader
Mengangkat tema “Membentuk Kader Militan yang Mampu Membumikan Tiga Benang Merah PMKRI”, agenda ini menjadi momentum krusial bagi regenerasi organisasi.
Ketua Presidium PMKRI Cabang Ruteng periode 2024-2026, Margaretha Kartika, menegaskan bahwa MPAB merupakan gerbang transformasi fundamental bagi setiap calon anggota.
Kartika memandang PMKRI sebagai tempat menempa diri agar setiap kader siap berkontribusi nyata di tengah masyarakat.
Proses intensif selama beberapa hari ke depan diharapkan mampu membentuk tunas muda yang berdaya guna bagi bangsa, tanah air, dan gereja
“Melalui proses yang dijalani selama beberapa hari ke depan, kami berharap teman-teman dapat tumbuh menjadi tunas muda yang berguna bagi bangsa, tanah air, dan gereja,” ungkapnya.
Menghadapi Ancaman AI dan Dinamika Zaman
Ketua Forum Komunikasi Alumni (Forkoma) PMKRI Manggarai Timur, Tino Rani, memberikan ulasan kritis mengenai arah kaderisasi saat ini.
Menurut Tino, militansi kader tidak boleh terjebak pada romantisme masa lalu, namun harus relevan dengan kemajuan teknologi, khususnya Artificial Intelligence (AI).
Ditegaskan olehnya, militansi sejati adalah kesediaan kader untuk mengesampingkan ego pribadi demi kepentingan sesama dan kemajuan organisasi.
“Dunia melaju sangat pesat tanpa kompromi. PMKRI harus menjadi wadah kolaborasi untuk menyiapkan kader yang mampu membaca tanda-tanda zaman sekaligus beradaptasi dengan perubahan dunia,” tegas Tino.
Laboratorium Pembinaan Kader
Mewakili Pengurus Daerah (PD) PMKRI NTT, Yosef Hardi Himan, secara resmi membuka kegiatan ini dengan menegaskan peran vital PMKRI sebagai “Rumah Besar Perjuangan”.
Dalam ulasannya, Hardi menekankan bahwa PMKRI adalah laboratorium kepemimpinan yang menuntut totalitas tanpa kompromi.
Ia memandang proses kaderisasi sebagai ruang pengujian, tempat kecerdasan intelektual wajib berpadu dengan kepekaan batin.
Hardi meyakini bahwa kualitas pemimpin masa depan ditentukan oleh ketangguhan seseorang dalam menempuh proses yang berat dan berjenjang.
“Peserta wajib menghadirkan pikiran dan keterlibatan hati secara penuh, bukan sekadar hadir secara fisik di ruangan ini. Setiap tahapan pendidikan memiliki esensi yang harus diserap secara mendalam,” pungkas Hardi.
Kegiatan MPAB ke-30 ini diharapkan menjadi titik awal lahirnya transformator sosial yang adaptif.
Dengan kolaborasi antara semangat spiritualitas dan penguasaan teknologi, PMKRI Cabang Ruteng optimis dapat melahirkan pemimpin masa depan yang mampu menjaga integritas organisasi di tengah kompleksitas arus perubahan dunia.
Kontributor: Edwin Dianto














