Opini  

Urgensi Pendidikan Karakter: Pintar Saja Tidak Cukup!

Penulis: Rolintina Oden (Ketua HMPS Prodi PGSD UNIKA St. Paulus Ruteng)

MANGGARAI, PENA1NTT.COM — Fenomena degradasi moral di lingkungan sekolah kembali mengguncang ruang publik.

Sebuah rekaman video berdurasi singkat yang viral di media sosial memperlihatkan seorang siswa berseragam putih-abu dengan frontal menantang gurunya di tengah proses pembelajaran.

Gesturnya lantang, tatapannya menanggalkan rasa segan, sementara rekan sejawatnya justru terjebak dalam apatisme—sebagian merekam, sebagian tertawa, dan sisanya sekadar menjadi penonton pasif.

Ironisnya, dalam berbagai insiden serupa, guru sering kali justru menjadi pihak yang disudutkan. Padahal, fondasi pendidikan yang pertama dan utama adalah keluarga.

Pembentukan karakter—baik maupun buruk—sejatinya merupakan tanggung jawab fundamental lingkungan rumah, bukan sepenuhnya beban yang dipikul institusi sekolah semata.

Kejadian miris ini bukan lagi anomali atau peristiwa langka. Kasus-kasus serupa bermunculan secara masif layaknya jamur di musim penghujan; cepat, meluas, dan mengkhawatirkan.

Lebih memprihatinkan lagi, fenomena ini tidak lagi dianggap sebagai urgensi nasional yang patut mendapat atensi serius.

Sebaliknya, ia telah terdegradasi menjadi “tontonan umum” yang hanya bertahan viral selama beberapa hari sebelum terkubur oleh hiruk-pikuk konten lainnya.

Mari sejenak merefleksi masa lalu. Dahulu, kehadiran sosok guru di sudut lapangan sekolah saja sudah cukup memicu refleks spontan untuk merapikan penampilan dan sikap.

Sapaan hormat seperti “Selamat pagi, Bu” atau “Permisi, Pak” mengalir natural tanpa perlu instruksi.

Guru bukan sekadar pengajar materi, mereka adalah figur otoritas yang disegani bukan karena represi, melainkan karena wibawa dan rasa hormat yang tumbuh secara organik.

Hubungan guru dan murid kala itu memang akrab dan hangat. Siswa tetap bisa bercanda atau mengeluhkan beban tugas, namun terdapat batas tak kasat mata yang tidak pernah dilanggar: kesantunan.

Rasa hormat tersebut adalah kristalisasi dari pendidikan karakter yang ditanamkan secara konsisten di rumah, sekolah, dan lingkungan sosial.

Kini, sekat-sekat kehormatan itu kian memudar, digantikan oleh sikap arogan yang kerap berlindung di balik dalih kebebasan berekspresi.

Lantas, di mana letak kekeliruannya? Mengapa generasi yang diklaim lebih cerdas, kritis, dan mahir teknologi ini justru kehilangan nilai-nilai fundamental kemanusiaan?

Jawabannya barangkali terletak pada sistem pendidikan kita yang terlampau terobsesi pada pencapaian akademik kuantitatif.

Institusi pendidikan terjebak dalam perlombaan akreditasi, standar nilai ujian yang tinggi, dan angka kelulusan yang sempurna.

Guru dibebani beban administratif yang membelenggu, sementara siswa dipaksa mengonsumsi rumus dan teori hanya untuk direproduksi di atas kertas ujian.

Dampaknya sangat nyata, lahir siswa dengan nilai 90 yang tidak memahami esensi terima kasih. Muncul lulusan berpredikat cumlaude yang asing dengan etika menghargai orang yang lebih tua.

Kita tengah memanen generasi yang cerdas secara intelektual, namun miskin empati dan karakter. Pendidikan karakter akhirnya hanya menjadi jargon kosong dalam buku panduan kurikulum.

Mata pelajaran seperti Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) atau Pendidikan Agama sering kali hanya dianggap sebagai pelengkap “kasta kedua” di bawah Matematika atau Bahasa Inggris.

Tentu, tidak adil jika tudingan hanya diarahkan pada sekolah. Keluarga adalah madrasah pertama, dan orang tua adalah pendidik utama.

Namun realitas hari ini menunjukkan banyak orang tua yang—karena tuntutan karier—kehilangan kendali atas pengawasan moral anak.

Gawai akhirnya mengambil alih peran pengasuh. Media sosial menjadi ruang pengakuan utama.

Konten tanpa filter merasap ke dalam kognisi anak-anak yang belum memiliki filter moral yang kuat.

Era digital juga membawa efek samping berupa ilusi kesetaraan. Akses informasi yang tanpa batas membuat anak merasa sejajar dengan orang dewasa, sehingga rasa hormat terhadap senioritas dan pengalaman hidup perlahan luntur.

Kita tidak boleh terus menormalisasi fenomena ini sebagai dinamika remaja biasa. Ketika seorang siswa berani melawan gurunya, itu bukan sekadar pelanggaran disiplin; itu adalah cermin kegagalan sistemik dalam mendidik manusia seutuhnya.

Pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan (transfer of knowledge), melainkan pembentukan manusia yang beradab.

Kepintaran tanpa akhlak hanya akan melahirkan kesombongan yang destruktif. Sudah saatnya kita merevisi obsesi terhadap angka.

Rapor dengan nilai sempurna tidak memiliki nilai intrinsik jika pemiliknya tidak memiliki integritas dan adab.

Mari kita kembalikan esensi pendidikan: mencerdaskan pikiran sekaligus memanusiakan manusia.

Masyarakat tidak membutuhkan deretan individu pintar yang arogan, melainkan generasi yang cerdas sekaligus santun—mereka yang tidak hanya mampu menjawab soal ujian, tetapi juga tahu cara menghargai tangan yang telah membimbing mereka.

Kesantunan bukanlah tanda kelemahan, dan menghormati guru bukanlah ketundukan buta. Itu adalah indikator kematangan intelektual dan kemanusiaan yang utuh.

Jangan sampai kita hanya mampu bernostalgia tentang masa lalu yang lebih beradab, sementara generasi mendatang kehilangan identitas moralnya sama sekali.

IMG-20260217-WA0004
Penulis: Nana Patris AgatEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *