Oleh Marsel Robot – Dosen Bahasa dan Sastra FKIP Undana
KUPANG, PENA1NTT.COM – Aku mencoba mendaraskan doa di bawah rindang sunyi antara pusara para pahawan. Terasa nisan-nisan bergerak kecil menujuku. Angin berembus halus mengafirmasi keadaan. Kian kuat aku merunduk pada pusara, malah kulihat pusara tergenang air mata. Setiap tetes air mata dari pusara itu mendesah suara sunyi yang terdengar syahdu: “Mengapa kau khianati cintaku kepada negeri ini dengan ketidakjujuran dan ketamakan?” “Apa arti nyawa dan darahku yang kupersembahkan kepada negeri ini?” Aku tersedak oleh kepiluan yang memalukan. Dan aku merasa, tanah pusara memuai. Suara sunyi menggelindingkan lagi pertanyaan: “Mengapa darah kami menjadi air mata rakyat yang kau tembak dengan peluru ketidakadilan?”
Angin asin berembus dari Selatan menerpah pertanyaan itu, hingga pertanyaan itu begitu wangi. Kemudian, beberapa pertanyaan itu berangkat bersama kelepak elang senja hendak pulang keperaduan. Dan pertanyaan tersisah mulai keriput dilabrak kerakusan kekuasaan dan kelabakan yang memangsai rakyatnya sendiri. Aku berusaha bersimpuh di antara nisan. Dari pusara terus mengguyur gerimis air mata dan tiba pula di pikiranku. Lagi-lagi, dari kedalaman kesunyian pusara terdengar suara imbauan: “Jangan mencari aku pada tugu yang kau tegakan di halaman, di perempatan jalan. Tugu itu harus berdiri tegak dalam hati nuranimu. Patung itu telah berzirah dari halam kantor dan kini berdiri tegak di halaman kesadaranmu untuk menolak ketidakadilan. Jangan kau tembakan mesiu ke musuh, tetapi, bumihanguskan kebohongan dan kerakusan dengan mesiu kejujuranmu.” Mataku rabun oleh air mata. Terlihat pula pusara para pahlawan membiru. Mungkin arwah pahlawan murkah dan marah. Sebab, darah dan nyawa yang diserahkan untuk negeri ini telah dikhianati. Lantas, anak-anak negeri hanya menghargai nyawa dan darah mereka sekadar dongeng yang juga sudah jatuh dari dompet ingatan.
Aku ditawan dalam kesadaran. Berguman di tepi pusara: Dulu kalian berjuang mengoversi nyawa dan darah menjadi tanah air. Kini kami mengoversi kemerdekaan dengan membiarkan korupsi merajalela dan bahkan diterima sebagai rahmat Tuhan. Dulu kalian mengangkat senjata sambil berdoa, “Aku berkorban untuk orang banyak.” Kini kami berdoa sambil menimbun laba, “Banyak orang berkorban karena aku.” Teringat kata Soekarno, “Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah. Perjuanganmu lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” Kata-kata itu bagai firman yang kualitas kebenarannya tak lekang oleh musim dan tak hanyut oleh waktu. Kami memang sedang berperang melawan bangsa sendiri. Lebih-lebih melawan nurani sendiri. Bahkan, musuh paling sengit dan sulit dikalahkan adalah nurani sendiri. Kini, kami berperang bukan dengan senjata, melainkan dengan lonsongan senyuman yang berisikan butir-butir kelicikan. Kini kami berperang melawan kebangkrutan moral yang pengap harum dengan parfum jabatan.
Negeri ini terasa mengecil dikeroyok mentalitas rente yang setiap jabatan menghitung laba. Kini peluru kami adalah uang dan yang kami tembak adalah nurani kami sendiri. Negeri ini, mengalami pendarahan batin yang hebat oleh kanalisme dan kanibalisme sesama melalui nepotisme, suap, dan saling melindungi antarpencuri. Kami memuja kalian dalam upacara, tapi melupakan ketulusanmu dalam keseharian. Dan setiap 10 November, bendera merah putih menetes air mata penyesalan. Warna putih melambangkan kesucian perjuangan dan merah melambangkan darahmu yang dikorbankan menjadi tanah air mata. Kini konser kebohongan menghibur masyarakat hingga masyarakat memakhlumi keadaan dan melarat di tanah yang kaya.
Senja mulai membopong matahari menuju peraduan dan tenggorakan malam perlahan mereguknya, seperti keserakahan mereguk kekayaan negeri ini. Gerimis jatuh di tepi pusara. Setiap tetesnya seperti penyesalan yang tak terucap dan kasih yang lesap di kesadaran yang retak. Mereka rela menyerahkan nyawa demi negeri. Persis sabda Yesus, “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” Mereka menyalibkan kepentingan pribadi demi kehidupan banyak orang. Kami menyalipkan kepentingan banyak orang untuk kehidupan pribadi. Gotong-royong telah pula diekstrak menjadi koruspsi berjemaah. Dan di tengah Indonesia yang kian kurus dan rakus, kata-kata Injil ini bergantung terang setiap nisan di pusara pahlawan itu.
Sunyi di taman makam itu sesunyi suara rakyat dilengkungkan oleh regulasi yang merawat ketamakan di antara mereka hingga rakyat menerima kemiskinan sebagai takdir. Nyawa dan darah mereka masih meleleh dan pusara menggigil mengingatkan aku segera pulang ke kesadaran. Namun, aku lebih memilih kembali ke dalam kesadaran melalui titian yang terbuat dari puisi ini:
Di atas kesunyian pusaramu tumbuh salib dari darah dan nyawamu
Di antara daun kaboja yang diimbuh sunyi
Aku mendengar suara Yesus dari atas bukit:
“Berbahagialah mereka yang lapar dan haus akan kebenaran,karena mereka akan dipuaskan.”
Kesadaranku mulai ranum tentang pahlawan
Di tengah anak negeri yang kesurupan oleh harta
Dan menyusun undang untuk menguatkan kemunafikan
Dan kini, di antara nisan-nisan yang keriput
Terbaca ruas-ruas keberanaran yang mulai luruh dan lirih
Seakan mengirimkan pesan pada telingku yang tuli
Oleh konser tepuk tangan para pejabat di atas punggung penderitaan rakyat
Mencangkul kesadaran
Agar negeri jangan dibiarkan menjadi kuburan bagi kejujuran
Sebab, setiap ketimpangan dan ketidakadilan
Adalah cara paling menyakitkan menghargai pahlawan














