Seribu Lilin Keadilan: Cinta Umat dan Jalan Sunyi Mgr. Paskalis Bruno Syukur

Umat Katolik yang tergabung dalam ”Solidaritas Umat untuk Mgr. Paskalis Bruno Syukur, OFM” menggelar aksi ”Seribu Lilin dan Doa” di depan Nunciatura Apostolik (Kedutaan Besar Vatikan), Selasa (10/2/2026).

MANGGARAI, PENA1NTT.COM — Nyala seribu lilin dan doa yang melantun di depan Kedutaan Besar Vatikan (Nunciatura Apostolik) menjadi simbol luka sekaligus harapan besar umat Katolik terhadap nasib gembalanya.

Gerakan yang diinisiasi oleh Solidaritas Umat untuk Mgr. Paskalis Bruno Syukur, OFM ini digelar sebagai bentuk dukungan moral yang mendalam setelah Mgr. Paskalis kembali ke Rumah Persaudaraan OFM pada 7 Februari 2026.

Langkah ini menyusul pengumuman mengejutkan terkait pengunduran diri Mgr. Paskalis pada 19 Januari 2026 yang menyisakan tanda tanya besar dan kejanggalan serius bagi umat Katolik di seluruh Indonesia.

Dalam pernyataan pengunduran dirinya, Mgr. Paskalis mengungkapkan sebuah fakta yang menggetarkan hati umat bahwa keputusan tersebut diambil meski ada tekanan dan situasi sulit yang mengikutinya.

Pengakuan jujur tersebut memicu kegelisahan mendalam mengenai kekuatan apa yang sebenarnya mampu mendorong seorang Uskup, bahkan calon Kardinal, untuk meletakkan jabatannya di tengah situasi yang penuh tekanan.

“Aksi ini berangkat dari keprihatinan tentang simpang siur seputar pengunduran diri Monsinyur Paskalis. Kami ingin mendorong keterbukaan, transparansi, dialog, dan rekonsiliasi,” kata, Yustinus Prastowo seusai aksi, Selasa (10/02/2026).

Tabir Kejanggalan dan Investigasi Independen

Sebelum pengunduran diri tersebut diputuskan, terdapat dua peristiwa krusial yang menjadi sorotan tajam Solidaritas Umat.

Pertama, beredarnya surat berisi tuduhan sumir dari dua pribadi yang dibiarkan menyebar luas dan viral tanpa kendali.

Kedua, penunjukan Visitator Apostolik yang ditugaskan untuk memeriksa tuduhan-tuduhan tersebut.

Namun secara ironis, keputusan terhadap Mgr. Paskalis justru diambil bahkan sebelum kebenaran atas tuduhan-tuduhan itu terbukti secara meyakinkan.

Kondisi inilah yang mendasari pertanyaan kritis umat mengenai apakah Mgr. Paskalis telah diperlakukan secara benar, adil, dan bermartabat oleh sistem yang ada.

“Kami berharap ada klarifikasi mengenai alasan yang sebenarnya supaya tidak menimbulkan spekulasi. Mungkin juga perlu pemeriksaan ulang agar semuanya jelas,” tambah Yustinus.

Seruan Profetis dan Harapan Pemulihan Gereja

Solidaritas ini merupakan sebuah panggilan nurani sekaligus seruan profetis agar para gembala di Indonesia senantiasa menggunakan otoritas rohaninya untuk merangkul dan melayani kebenaran.

Fokus utama gerakan ini bukan untuk menuntut kembalinya Mgr. Paskalis sebagai gembala di Keuskupan Bogor, tetapi harapan tulus agar Gereja katolik berbenah.

“Solidaritas ini merupakan seruan profetis dan harapan tulus kepada Gereja Katolik di Indonesia agar para gembala Gereja menggunakan otoritas rohaninya untuk merangkul, melayani, dan mengajarkan kebenaran, bukan untuk menekan dengan logika kekuasaan yang menyerupai praktik politik duniawi,” tegas Prof Dr Robertus Robert dari Solidaritas Umat untuk Mgr Paskalis Bruno Syukur, OFM yang juga ikut hadir dalam aksi tersebut.

Demi transparansi dan pemulihan kepercayaan, Solidaritas Umat mengajukan satu tuntutan tegas kepada Takhta Suci Vatikan untuk melakukan investigasi melalui sebuah tim independen yang imparsial.

Investigasi ini diperlukan guna mengevaluasi seluruh rangkaian proses visitasi hingga pengunduran diri Mgr. Paskalis Bruno Syukur, sebagai manifestasi cinta umat agar Gereja tetap menjadi rumah yang adil bagi setiap anggotanya.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Nunciatura Apostolik maupun Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) belum memberikan tanggapan resmi terkait tuntutan tersebut

“Umat Katolik Indonesia adalah umat yang sudah terdidik dalam tradisi demokrasi dan penghormatan terhadap hak asasi manusia. Kami berhak mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi dengan gembala kami, bagaimana keputusan diambil, dan bagaimana keadilan ditegakkan dalam tubuh Gereja,” pungkas Robertus.

IMG-20260217-WA0004
Penulis: Nana Patris AgatEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *