MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Perayaan Natal Nasional 2025 disemarakkan dengan digelarnya Seminar Natal Nasional 2025 di Aula UNIKA St. Paulus Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur pada Sabtu (13/12/2025).
Mengusung tema “Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga” (Matius 1: 21-24), seminar ini memfokuskan diskusi pada Fenomena dan ancaman serius Judi Online (JUDOL) sebagai Jalan Pintas.
Gagasan seminar nasional ini secara kolektif menyepakati penguatan Literasi Digital sebagai solusi utama untuk memerangi fenomena jalan pintas yang merusak moral dan ekonomi bangsa.
Perempuan dan Anak Menjadi Korban Sekunder yang Paling Rentan
Keynote Speaker, Prita Ismayani Sriwidyarti, Sekretaris Deputi Bidang Kesetaraan Gender Kementrian PPPA, membuka diskusi dengan perspektif kebijakan publik.
Berdasarkan data dan pengalaman di lapangan, Prita menegaskan bahwa judi online telah memicu krisis dalam rumah tangga, di mana perempuan dan anak menjadi korban sekunder yang paling menderita.
“Tekanan utang dan konflik finansial akibat kecanduan judi sering kali berujung pada Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT), serta penelantaran hak anak mulai dari pendidikan hingga pemenuhan gizi,” jelasnya.
Untuk itu, Kementrian PPPA diakui Prita, memiliki komitmen penuh untuk memperkuat layanan perlindungan, khususnya dengan menyertakan edukasi literasi finansial berbasis gender sebagai upaya pencegahan dini.
Krisis Spiritual: Menolak Ilusi dan Mengukuhkan Pertaruhan Iman
Sesi pembicara inti dimulai dengan refleksi yang mendalam oleh Pendeta GPIB Dr. Cindy Cecilia Tumbelaka-van Munster.
Secara tegas, Pdt. Cindy menolak mentalitas “jalan pintas” yang ditawarkan JUDOL karena bertentangan dengan prinsip iman.
“Keajaiban Tuhan atau Intervensi Allah ketika kita mengalami kesusahan bukan melalui jalan pintas tetapi hasil perjuangan doa dan pertaruhan iman yang panjang,” tegasnya.
Menurutnya, keselamatan keluarga menuntut ketekunan doa, kesetiaan pada janji nikah, dan penolakan terhadap godaan instan.
Sementara itu, Ketua Presidium Pengurus Pusat PMKRI, Susana Florika Kandaimu, menyoroti JUDOL sebagai ancaman serius bagi keluarga muda – kalangan pelajar dan mahasiswa yang berada di usia produktif.
Susana menyerukan dan mengajak elemen organisasi pemuda untuk melakukan Edukasi dan Pencegahan yang masif.
Edukasi yang dimaksud adalah menyediakan Pendampingan Korban sebagai aksi nyata dan komitmen implementasi tema Natal yang harus diwujudkan melalui transformasi sosial.
“Sosialisasi mesti dilakukan secara masif. Tidak terbatas untuk kalangan mahasiswa, tetapi juga kepada masyarakat luas. Dukungan dan pendampingan juga disediakan bagi setiap individu dan keluarga yang terdampak,” ujar Susana.
Menyajikan sudut pandang ilmiah, Dr. Fransiska Widyawaty, menjelaskan bahwa judi online adalah perilaku adiktif yang memiliki mekanisme kerja biokimiawi mirip dengan narkoba.
Menurutnya, JUDOL memicu pelepasan dopamin yang berlebihan di otak, menciptakan lingkaran kecanduan yang merusak sistem penghargaan diri dan kontrol.
Dr. Fransiska mendesak setiap anggota keluarga untuk mengenali ciri-ciri kecanduan, seperti perilaku curang, emosi tidak stabil, dan tumpukan utang yang tidak jelas.
Ia menekankan bahwa keluarga harus memperkuat kontrol diri (self-control) sejak dini sebagai vaksin psikologis terhadap mentalitas serba instan.
Literasi Praksis Pembebasan Melawan Pemiskinan Sistemik
Kunci solusi kelembagaan diberikan oleh Wakil Ketua LPPM UNIKA St. Paulus, Dr. Maksimilianus Jemali.
Ia menamakan fenomena ini sebagai “Kulturisasi Judi Online” yang telah merasuk semua dimensi kehidupan.
Menurutnya, Kampus harus menjadi garda terdepan melalui Literasi sebagai Praksis Pembebasan, yaitu “usaha bersama membangun kesadaran (konsientisasi)” untuk membongkar hegemoni kapitalistik.
Gerakan literasi ini harus multi-dimensi, mencakup Literasi Digital (untuk mengenali modus penipuan), Literasi Finansial (untuk melawan utang), dan Literasi Budaya (sebagai benteng moral).
Ia juga mendorong Kolaborasi, yang melibatkan seluruh aktor—Pemerintah, Akademisi, Komunitas, Pebisnis, dan Media—untuk mengatasi penyebaran JUDOL secara sistemik.
Sebagai penutup yang menohok, Romo Dr. Martin Chen, Direktur Puspas Keuskupan Ruteng kembali menegaskan isu etis-teologis dengan data ekonomi yang menukik.
Romo Chen memaparkan, transaksi JUDOL mencapai Rp 1.200 triliun pada tahun 2025, yang mayoritas pelakunya sungguh memprihatinkan.
“Survei mencatat, 71,6% pelaku judi online adalah masyarakat golongan miskin yang berpenghasilan di bawah Rp5 juta. Fakta ini sungguh memprihatinkan dan harus segera diatasi bersama,” ujarnya.
Romo Chen menyimpulkan, JUDOL adalah dosa ketamakan yang merusak kebaikan bersama dan menyebabkan pemiskinan sistemik.
Fenomena ini, menurutnya melampaui sekadar masalah moral individu, tetapi juga krisis yang mengancam struktur sosial kebangsaan.
Agenda Nasional: Komitmen Natal Melalui Aksi Sosial
Untuk diketahui, perayaan seminar natal nasional tahun 2025 ini dilaksanakan di 9 kota berbeda. Selain seminar, serangkaian kegiatan lain juga dilaksanakan seperti bakti sosial, penyaluran bantuan bencana, bantuan beasiswa, bantuan perbaikan gereja, dan bantuan ambulans di lebih dari 10 titik wilayah di Indonesia.
Ketua Umum Panitia Natal Nasional 2025, Maruarar Sirait menjelaskan, seluruh agenda dilaksanakan untuk memperkuat pemahaman masyarakat mengenai pentingnya keluarga sebagai pusat pembentukan karakter, iman, dan ketahanan sosial bangsa.
“Semoga rangkaian kegiatan yang berjalan menjadi berkat bagi banyak keluarga di Indonesia dan menjadi pengingat bahwa pesan Natal tidak hanya dirayakan, tetapi dihidupi melalui tindakan yang membawa kebaikan dan harapan,” pungkasnya.
Seminar Natal Nasional 2025 di Ruteng ini telah menghasilkan kesimpulan kolektif yang positif.
Penguatan literasi digital, moral, dan finansial kini ditempatkan sebagai benteng pertahanan utama, memastikan pesan Natal tentang harapan dan keselamatan benar-benar terwujud dalam ketahanan sosial dan ekonomi keluarga Indonesia.














