Penjaga Lahan Bongkar Kronologi Batu Gosok: Rombongan Disebut Datang Bawa Parang Lebih dari Dua Orang

Penjaga Lahan Bongkar Kronologi Batu Gosok: Rombongan Disebut Datang Bawa Parang Lebih dari Dua Orang

MANGGARAI BARAT, PENA1NTT.COM — Kesaksian baru penjaga lahan terkait peristiwa di kawasan Batu Gosok, Kelurahan Labuan Bajo, Kecamatan Komodo, Manggarai Barat, kembali mencuat ke publik. Keterangan ini sekaligus menjadi bantahan atas pernyataan Pater Marsel Agot, SVD, yang sebelumnya menegaskan tidak adanya intimidasi serta menepis tudingan datang bersama rombongan bersenjata tajam.

Mansur, penjaga lahan yang berada langsung di lokasi kejadian, membeberkan kronologi detail peristiwa yang berlangsung selama dua hari berturut-turut, yakni pada 26 dan 27 Januari 2026. Menurutnya, situasi di lapangan jauh berbeda dengan pernyataan yang disampaikan ke publik.

Hari Pertama: Plang Dicabut, Rombongan Naik ke Puncak

Mansur menuturkan, pada Minggu, 26 Januari 2026 pagi, ia tiba lebih dulu di kawasan Batu Gosok dan mendapati plang penanda lahan yang sebelumnya terpasang telah dicabut oleh orang tak dikenal pada malam sebelumnya.

Siang harinya, ia melihat sekelompok pekerja naik menuju puncak Batu Gosok, tepat di sekitar pondok milik Alo Oba. Rombongan tersebut terlihat duduk dan berfoto-foto di area puncak yang dikenal sebagai lokasi “view” dan saat itu dalam kondisi kosong.

Mansur mengaku menunggu di pondok dengan asumsi rombongan tersebut akan mampir. Namun karena cukup lama menunggu, ia memutuskan turun dan berpapasan dengan Pater Marsel Agot, SVD, yang juga datang ke lokasi.

“Seperti biasa, orang akan kaget melihat seorang pastor datang ke lokasi seperti itu. Saya turun menyapa karena sebelumnya kami sudah beberapa kali bertemu,” ujar Mansur kepada media, Minggu (1/2/2026).

Situasi kemudian berubah ketika Mansur mendengar penyebutan istilah “tengger”, istilah yang saat itu belum ia pahami. Ia mengaku kemudian dijelaskan bahwa istilah tersebut kerap diasosiasikan, dalam konflik tanah di Manggarai, sebagai sebutan bagi orang-orang yang disewa untuk melakukan penyerangan.

“Saya kaget dan mulai cemas. Pater mengatakan kepada saya, oe Kraeng Tenggernya Alo Oba e. Analisa saya waktu itu, saya seolah-olah dianggap tukang pukul, orang bayaran, bahkan pembunuh,” tuturnya.

Kecemasan Mansur semakin meningkat ketika mendengar pernyataan yang menurutnya mengarah pada pengakuan soal kekuatan atau kemampuan tertentu.

Hari Kedua: Penanaman Pilar dan Telepon Panggilan Massa

Pada Senin, 27 Januari 2026 sekitar siang hari, Mansur kembali ke lokasi Batu Gosok dan mendapati aktivitas lanjutan berupa penanaman pilar serta pengecoran di puncak lokasi oleh rombongan pekerja.

Saat itu, ia bersama beberapa penjaga lahan lainnya, di antaranya Om Jon dan Sipri. Dari puncak, mereka melihat sejumlah orang berdiri di jalur lokasi pilar.

Mansur kemudian menghubungi pihak yang dikenalnya untuk menegaskan bahwa mereka hanya bertugas menjaga lahan dan tidak terlibat dalam aktivitas pembangunan.

Namun situasi kembali memanas. Mansur mengaku melihat Pater Marsel Agot melakukan panggilan telepon di hadapan mereka, meminta agar orang-orang segera datang ke lokasi dengan membawa perlengkapan.

“Beliau sempat bilang, ‘biar kita mati di sini’. Ini namanya wajo kampong purak mukang (masuk wilayah orang untuk berperang). kami takut dan memilih pulang,” ungkap Mansur.

Menurutnya, pernyataan tersebut membuat para penjaga lahan merasa tertekan dan memilih meninggalkan lokasi dengan alasan makan, sebelum akhirnya benar-benar pulang karena situasi dianggap tidak kondusif.

Bertemu Rombongan di Lembah, Disebut Lebih dari Dua Orang yang Bawah Parang

Dalam perjalanan turun menuju lembah dekat lahan milik Alo Oba, Mansur kembali berpapasan dengan rombongan yang sama. Ia mengaku melihat sejumlah orang berkumpul dan duduk di area tersebut.

Ia juga menyebut bertemu beberapa orang yang belakangan baru diketahui identitasnya, termasuk seseorang bernama Om Alex.

Mansur menegaskan, saat itu ia melihat secara langsung lebih dari dua orang membawa parang, berbeda dengan klaim yang menyebut tidak ada atau hanya satu-dua orang yang membawa senjata tajam.

“Saya lihat langsung. Yang bawa parang itu lebih dari dua orang,” tegasnya.

Bantah Pernyataan Pater Marsel Agot

Berdasarkan rangkaian peristiwa tersebut, Mansur secara tegas membantah pernyataan Pater Marsel Agot, SVD, yang menyebut tidak ada intimidasi dan tidak datang bersama rombongan bersenjata tajam.

“Pernyataan itu tidak benar. Pater datang bersama rombongan dan membawa parang, jumlahnya lebih dari dua orang,” tandasnya.

Kesaksian serupa juga disampaikan oleh dua penjaga lahan lainnya, Jhon dan Sipri, yang berada di lokasi saat peristiwa pemasangan patok di area sengketa.

Jhon menegaskan, pihaknya tidak pernah melakukan pencegatan ataupun intimidasi terhadap aktivitas pemasangan patok yang dilakukan oleh pihak Pater Marsel Agot sebelumnya.

“Ite sudah pasang patok, kami tidak cegat, dan sekarang giliran kami pasang patok,” ujar Jhon menirukan situasi di lokasi.

Menurut Jhon, setelah menyampaikan maksud pemasangan patok kepada Pater Marsel Agot, ia justru diminta agar Alo Oba datang sendiri ke lokasi.

“Ketika kami sampaikan ke Pater Marsel Agot, beliau meminta agar Alo Oba datang sendiri ke lokasi,” ungkapnya.

Jhon juga menuturkan adanya ungkapan bernada lokal yang disampaikan Pater Marsel Agot dalam bahasa Manggarai.

“Ini namanya purak mukang wajo kampung,” jelas Jhon, menirukan pernyataan yang ia dengar.

Sementara itu, Sipri mengaku mendengar langsung pernyataan bernada ancaman yang disampaikan di lokasi.

“Kalau kamu masih pasang plang itu, saya akan datangkan orang dari kampung. Biar kita mati sama-sama di sini,” kata Sipri.

Kesaksian para penjaga lahan ini menambah daftar keterangan yang saling berseberangan terkait peristiwa di kawasan Batu Gosok, yang kini menjadi sorotan publik di Manggarai Barat.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada klarifikasi lanjutan dari pihak Pater Marsel Agot, SVD, terkait kesaksian terbaru tersebut. Redaksi masih berupaya menghubungi pihak-pihak terkait guna memperoleh keterangan yang berimbang.

IMG-20260217-WA0004
Penulis: Redaksi pena1ntt.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *