Berita  

Penerimaan Pastor Katolik di Nangalanang: Kepok Curu dan Pengalungan oleh Saudara Muslim, Pelajaran Nyata Toleransi Sejati

Penerimaan Pastor Katolik di Nangalanang: Kepok Curu dan Pengalungan oleh Saudara Muslim, Pelajaran Nyata Toleransi Sejati

MANGGARAI TIMUR, PENA1NTT.COM – Paroki Bunda Maria Dari Fatima (BMDF) Nangalanang kembali memperlihatkan wajah iman yang membumi dan sarat nilai kemanusiaan. Penerimaan Pastor Vikaris pada Sabtu, 24 Januari 2026, menjadi peristiwa yang bukan hanya religius, tetapi juga sosial dan kultural. Prosesi adat kepok curu dan pengalungan dipercayakan kepada keluarga Muslim, sebuah praktik yang menegaskan bahwa toleransi di Nangalanang hidup dan bertumbuh dalam tindakan nyata.

 

Di tengah berbagai narasi perpecahan atas nama identitas dan agama, Nangalanang justru menghadirkan kisah sebaliknya. Dalam prosesi penjemputan Pastor Vikaris Paroki BMDF Nangalanang, Romo P. Laurensius Nggou, MSSCC, peran jubir adat (kepok curu) dan pengalungan dilakukan oleh Abdul Gagus, perwakilan umat Muslim dari Kampung Ende Nangalanang. Sebuah simbol kuat persaudaraan lintas iman yang lahir dari kepercayaan dan rasa saling menghormati.

Ketua Panitia penerimaan Pastor Vikaris, Gun Jehabut, menyampaikan rasa syukur dan apresiasi mendalam atas keterlibatan umat Muslim dalam seluruh rangkaian penerimaan tersebut.

“Kami sangat bersyukur dan bangga. Keterlibatan saudara-saudari umat Muslim, khususnya Bapak Abdul Gagus yang melakukan kepok curu dan beberapa umat Muslim lainya hari ini, adalah bukti bahwa toleransi di Nangalanang bukan sekadar slogan, tetapi sikap hidup yang kami rawat bersama,” ungkapnya.

prossesi pengalungan terhadap Pastor Katolik Oleh Saudari Beragama Muslim

Gun Jehabut menegaskan bahwa kepercayaan yang diberikan kepada umat Muslim untuk menjalankan prosesi adat yang sakral mencerminkan kedewasaan sosial masyarakat Nangalanang dalam menyikapi keberagaman.

“Perbedaan agama tidak pernah menjadi penghalang bagi kami untuk hidup rukun. Justru dari perbedaan itulah kami belajar saling menghargai, saling menjaga, dan saling menguatkan sebagai satu keluarga besar masyarakat Nangalanang,” tambahnya.

Praktik toleransi ini memiliki akar yang kuat. Pada kunjungan kegembalaan Yang Mulia Mgr. Siprianus Hormat pada Juli 2023, keluarga Muslim juga dipercaya menjadi jubir adat sekaligus pengalungan dalam prosesi penjemputan Uskup. Setelah Pastor Paroki Rd. Faustus Manuel, Pr mempromosikan keindahan alam serta Gua Simpang Lima, Mgr. Siprianus secara terbuka menyampaikan kekagumannya—bukan hanya pada potensi wisata rohani Nangalanang, tetapi terutama pada kehidupan sosial umat yang rukun, damai, dan inklusif.

 

Kekaguman tersebut kemudian berbuah pengakuan resmi. Pada 26 Oktober 2025, melalui Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Manggarai Timur, Nangalanang ditetapkan sebagai “Kampung Toleransi”, dengan seruan bersama: “Dari Nangalanang untuk Manggarai Timur, Kita Wujudkan Hidup Bersama yang Rukun, Santun, dan Penuh Kasih.”

Semangat itu kembali diwujudkan dalam penerimaan Pastor Vikaris kali ini. Prosesi kepok curu oleh Abdul Gagus dan pengalungan dilakukan oleh Saudari Beragama Muslim lainnya, sementara prosesi kepok kapu di Rumah Pastoran dipercayakan kepada umat Katolik yang diwakili Bapak Simon Monggor. Pembagian peran ini menjadi pesan simbolik yang kuat: iman boleh berbeda, tetapi persaudaraan adalah milik bersama.

prosesi kepok kapu di Rumah Pastoran dipercayakan kepada umat Katolik yang diwakili Bapak Simon Monggor

Di Paroki Bunda Maria Dari Fatima Nangalanang, toleransi tidak berhenti pada seremoni atau piagam. Ia hidup dalam adat yang dibagi bersama, dalam kepercayaan lintas iman, dan dalam komitmen untuk merawat damai sebagai nilai bersama.

Nangalanang hari ini tidak hanya menerima seorang Pastor Vikaris. Ia sedang memberi pelajaran berharga—bahwa keberagaman yang dirawat dengan kasih akan selalu melahirkan harapan.

IMG-20260217-WA0004

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *