
Desa adalah fondasi utama pembangunan bangsa. Kepemimpinan anak muda menjadi salah satu kunci penting dalam mewujudkan desa yang maju, mandiri, dan berkelanjutan. Hal ini juga berlaku bagi Desa Golo Nobo, Kecamatan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat, yang seperti banyak desa lainnya menghadapi tantangan besar dalam memberdayakan pemuda agar berperan aktif dalam pembangunan.
Brito Hamsi, salah satu tokoh muda Desa Golo Nobo, melalui perspektif akademisnya menegaskan pentingnya keberpihakan pemuda sebagai “remote control” bagi roda pemerintahan desa.
Menurutnya, perkembangan zaman yang semakin canggih sering kali membuat generasi muda terlena. Banyak anak muda yang terjebak pada gengsi, sehingga merasa pekerjaan tertentu tidak sesuai dengan “levelnya”. Akibatnya, mereka lebih memilih menganggur meski sebenarnya membutuhkan pekerjaan. Sikap gengsi seperti ini, kata Brito, secara perlahan membunuh potensi diri dan pada akhirnya menyeret mereka pada jurang kemiskinan.
Namun di sisi lain, Brito menekankan bahwa pemuda sejatinya adalah sosok yang cerdas, kritis, proaktif, dan visioner. Sebagai kaum terdidik, pemuda selalu identik dengan gagasan-gagasan segar yang lahir dari pemikiran kritis dan inovatif. Dengan energi, kepedulian, serta kemampuan adaptasi yang dimiliki, pemuda berpotensi menjadi motor penggerak pembangunan desa.
“Nilai meritokrasi dan integritas bangsa selalu memberi ruang khusus bagi pemuda. Mereka adalah penggagas, pencipta ide, sekaligus pelaku nyata pembangunan,” ungkap Brito.
Meski demikian, realitas hari ini menunjukkan bahwa masih banyak generasi muda yang belum diberdayakan secara optimal. Kondisi ini menimbulkan kesenjangan dan degradasi harapan di tingkat desa. Padahal, generasi muda memiliki banyak kemampuan yang bisa dimanfaatkan, mulai dari kewirausahaan, literasi informasi, manajemen kegiatan, hingga keterampilan di bidang pertanian dan sektor lainnya sesuai kebutuhan masyarakat desa.
Brito menegaskan, generasi muda tidak boleh disia-siakan. Mereka adalah calon pemimpin masa depan yang adil sejak dalam pikiran, dan lebih-lebih dalam tindakan. Karena itu, masyarakat dan pemerintah desa harus menciptakan ruang agar potensi pemuda benar-benar terarah demi kesejahteraan bersama.
“Jika generasi muda diabaikan, maka kita sedang berjalan menuju ambang kemiskinan, kemerosotan, dan ketertinggalan. Sebaliknya, jika diberdayakan, mereka akan menjadi lokomotif kebangkitan desa,” tutup Brito penuh harap.














