Berita  

Lewat Teater Monolog dan Puisi, Mendi Project Suarakan Kepedulian Sosial di Hari Sumpah Pemuda, dalam pergelaran Panggung kreasi Rumah Literasi Cakrawala NTT

Mendi Project alam pergelaran Panggung kreasi Rumah Literasi Cakrawala NTT

KUPANG, PENA1NTT.COM —Semangat Sumpah Pemuda kembali menyala di Nusa Tenggara Timur (NTT). Melalui kegiatan literasi dan seni yang tumbuh dari akar masyarakat, anak-anak dan komunitas lokal menunjukkan bahwa nilai persatuan dan kebangsaan masih hidup dan terus diwariskan lintas generasi.

Hal itu tampak dalam Panggung Kreasi Rumah Literasi Cakrawala NTT, yang digelar Sabtu (25/10/2025) di Desa Noelbaki, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang. Kegiatan tersebut menjadi ruang ekspresi bagi anak-anak untuk menampilkan bakat mereka melalui paduan suara, pembacaan puisi, pidato, dan fashion show.

Komunitas Mendi Project turut memberi dukungan dengan penampilan teater monolog dan musikalisasi puisi yang menggugah penonton.

Salah satu yang paling menarik perhatian adalah teater monolog berjudul “Jeritan Malam”, yang mengangkat isu kekerasan terhadap perempuan dan anak — persoalan yang masih marak terjadi di NTT. Berdasarkan data UPTD PPA Provinsi NTT, kasus kekerasan meningkat dari 140 kasus pada 2020 menjadi 398 kasus pada 2024, dan hingga Mei 2025 telah tercatat 241 kasus.

Melalui karya tersebut, Mendi Project mengajak masyarakat untuk peduli dan berperan aktif dalam melindungi perempuan dan anak dari kekerasan.

Selain teater, Mendi Project juga membawakan musikalisasi puisi “Masa Gelap” — sebuah refleksi terhadap situasi sosial dan politik pasca demonstrasi 25 Agustus 2025, di mana sejumlah mahasiswa dan masyarakat sipil menjadi korban.

“Puisi ‘Masa Gelap’ kami hadirkan sebagai bentuk refleksi atas keadaan bangsa. Bahwa perjuangan dan suara rakyat tidak boleh padam meski di tengah duka,” ujar Dewi Sartika, anggota Mendi Project.

Founder Mendi Project, Enji Juna, menegaskan pentingnya kegiatan semacam ini bagi tumbuhnya ruang ekspresi anak-anak dan masyarakat.

“Rumah Literasi Cakrawala NTT telah membuka ruang bagi anak-anak untuk belajar, berekspresi, dan berani tampil di depan publik. Melalui seni, mereka belajar peka terhadap realitas sosial,” ungkapnya.

Acara ini juga dihadiri pemerintah desa, pihak GMIT, serta tokoh masyarakat yang memberikan dukungan penuh. Dalam sambutannya, Direktur Rumah Literasi Cakrawala NTT, Gusty Rikarno, menyampaikan apresiasi kepada para relawan dan komunitas yang selama ini mendampingi anak-anak belajar.

“Kami berterima kasih kepada semua pihak yang mau meluangkan waktu untuk anak-anak. Kami membuka ruang bagi siapa pun yang ingin terlibat, dua jam saja setiap akhir pekan bersama anak-anak,” ujarnya.

Momentum kegiatan ini juga menjadi ajang penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Rumah Literasi Cakrawala NTT, Komunitas Belajar Mengajar (KBM) Universitas Muhammadiyah Kupang, dan Mendi Project. Kolaborasi ini diharapkan memperkuat pendampingan anak-anak dalam bidang literasi, numerasi, serta pengembangan karakter melalui seni dan pendidikan berbasis komunitas.

Ketua KBM, Yeremia A. Hiyetingkai, menjelaskan bahwa komunitasnya beranggotakan mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Kupang yang berkomitmen menyiapkan calon guru profesional melalui kegiatan pengabdian di masyarakat.

“Kami berharap kehadiran kami bisa membantu anak-anak di desa agar berkembang dan memiliki kesempatan belajar yang sama dengan teman-teman mereka di kota,” katanya.

Sejak berdiri pada 2016, Rumah Literasi Cakrawala NTT di bawah naungan Yayasan Media Cakrawala NTT terus menjadi pelopor gerakan membaca dan menulis di berbagai daerah. Salah satu program unggulannya adalah “Sampahmu Tiket Baca” — sebuah inovasi yang mengajarkan anak-anak menukar sampah anorganik seperti botol plastik dengan kesempatan membaca buku.

Melalui kolaborasi komunitas, pendidikan, dan seni, kegiatan ini membuktikan bahwa semangat Sumpah Pemuda tetap hidup di NTT. Di panggung sederhana itu, literasi, seni, dan kepedulian sosial berpadu menjadi wujud nyata cinta pada tanah air.

IMG-20260217-WA0004
Penulis: Irenius PutraEditor: Irenius

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *