Manggarai Timur,Pena1NTT.com– Sungai Wae Mokel terus menjadi saksi bisu penderitaan warga di Kampung Munda, Desa Gunung Baru, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur. Sudah bertahun-tahun masyarakat mendambakan jembatan penghubung kampung Munda dan kampung Mbata desa Rana Mbata yang dapat mempermudah aktivitas mereka, namun harapan itu terus tertunda.
Belum lama ini, kesedihan bercampur kelelahan dirasakan warga ketika terpaksa menggotong jenazah menyeberangi Sungai Wae Mokel. Tidak adanya jembatan membuat prosesi pemakaman yang seharusnya berjalan khidmat, justru dipenuhi rasa was-was. Warga harus berjalan kaki menyusuri jalur licin dan derasnya arus sungai yang bisa membahayakan keselamatan mereka.
“Bayangkan, jenazah harus kami pikul sambil menyeberangi sungai yang dalam dan arusnya deras. Itu bukan hanya melelahkan, tapi juga menyedihkan,” tutur Vinsensius Joman, warga Kampung Munda, kepada wartawan Selasa,9 September 2025.
Janji yang Tak Pernah Terpenuhi
Yang membuat masyarakat semakin kecewa, pada periode sebelumnya, Bupati Manggarai Timur Agas Andreas pernah berjanji akan membangun jembatan tersebut. Janji itu sempat memberi harapan besar bagi warga Gunung Baru. Namun, hingga saat ini, pembangunan tak kunjung terealisasi.
Bupati Manggarai Timur Andreas Agas pernah berjanji untuk membangun jembatan Wae Mokel yang menghubungkan Mbata, Desa Rana Mbata dengan Munda, Desa Gunung Baru itu.
“Catat. Saya bicara di depan ketua DPRD dan Pak Sekda, jembatan Wae Mokel di Munda, akan kami bangun tahun depan,” kata Agas di hadapan ratusan masyarakat saat peresmian gedung Puskesmas Afirmasi Wae Lengga pada Kamis, 28 Maret 2019, dikutip media Floresa.co.
Janji itu kala itu membangkitkan harapan besar masyarakat di dua desa tersebut. Mereka percaya, akses yang selama ini sulit akan segera terbuka. Namun, setelah lima tahun berlalu, yang mereka lihat hanyalah janji tanpa bukti. “Kami sudah dengar janji itu sejak 2019. Kami percaya waktu itu, tapi sekarang sudah 2025 dan jembatan itu belum juga dibangun. Rasanya kami seperti dibohongi,” lanjut Vinsen.
Jembatan yang Menjadi Urat Nadi Kehidupan
Jembatan Wae Mokel bukan sekadar penghubung fisik antarwilayah, tetapi urat nadi kehidupan masyarakat. Jembatan ini akan menghubungkan dua kampung besar: Kampung Munda di Desa Gunung Baru dan kampung Mbata Desa Rana Mbata. Tanpa jembatan, warga kesulitan mengakses pasar, sekolah, puskesmas, hingga lahan pertanian mereka. Saat musim hujan, kondisi semakin membahayakan karena sungai sering meluap.
Kondisi ini juga berdampak pada perekonomian. Hasil pertanian warga sering membusuk karena sulit dibawa ke pasar. Banyak pedagang enggan masuk ke daerah mereka karena akses yang sulit dan berbahaya.
Rasa Kecewa yang Terus Menggunung
Peristiwa penggotongan jenazah melewati sungai menjadi puncak kekecewaan warga. Bagi mereka, itu adalah bukti nyata bahwa pemerintah daerah telah mengabaikan hak mereka atas infrastruktur yang layak. “Setiap tahun kami merayakan kemerdekaan Indonesia, tapi di sini kami belum merdeka. Tidak ada listrik yang memadai, jalan rusak, sekolah kurang, dan jembatan pun tidak ada. Kami merasa seperti warga yang ditinggalkan,” tambah Vinsen.
Beberapa tokoh masyarakat bahkan berencana akan menggelar aksi damai untuk menuntut pemerintah daerah segera merealisasikan pembangunan jembatan tersebut. Mereka ingin agar suara mereka benar-benar didengar.
Harapan untuk Masa Depan
Meski kecewa, masyarakat tetap menyimpan harapan. Mereka ingin pemerintah daerah menunjukkan itikad baik dengan segera memulai pembangunan.
Bagi warga Gunung Baru jembatan Wae Mokel bukan hanya soal akses, tetapi simbol dari perhatian pemerintah terhadap mereka. Selama jembatan itu belum dibangun, rasa kemerdekaan yang sesungguhnya belum mereka rasakan. “Kami hanya ingin hidup lebih layak, tidak lebih. Semoga pemerintah benar-benar mendengar suara kami,” tutup Vinsen dengan nada lirih.














