Berita  

Jangan bermain-main dengan alam: peringatan untuk manusia.

Sebuah Refleksi Filosofis, Theologis dan Sosial dari bencana banjir Sumatra dan Aceh.

Oleh: Ellyas Mbipi Jepa Jome (Penulis Opini ini merupakan Seorang Katekis, Seorang Penulis Aktif dan Kontributor PENA1NTT.COM)

PENA1NTT.COM– Kurang lebih 2 minggu terakhir, mata publik tanah air maupun dunia tertuju pada daerah Sumatra dan Aceh yang terkena banjir bandang dan longsor yang besar.Banjir yang terjadi pada tanggal 25 -27 November 2025 ini memperlihatkan kepada kita semua bagaimana kemarahan alam itu dapat mengambil apa saja yang menjadi kebanggaan manusia. Keindahan yang dibangun bertahun-tahun dihapus dengan waktu satu hari.

Data BNPB mencatat pada rabu (10/12/2025; sumber detik news), korban meninggal berjumlah 969 orang, korban hilang mencapai 252 orang, korban luka mencapai 5000 orang, begitu juga fasilitas yang ada, 158 ribu rumah rusak, 498 jembatan, 1200 fasilitas umum rusak, 581 fasilitas pendidikan rusak, hingga 219 fasilitas kesehatan rusak.

Angka ini bukan sekadar statistik. Ia adalah cermin dari penderitaan, kehilangan, dan kerugian yang tak terukur. Pertanyaannya: berapa tahun dibutuhkan untuk membangun semuanya kembali?

Trauma yang muncul mungkin saat ini dirasakan sebagai sebuah penyesalan yang tak bisa kembali, hanya mau menyampaikan bahwa jangan sampai hal ini terjadi kembali. Tentu banyak yang bertanya mengapa hal ini terjadi? Ada beragam jawaban yang muncul mulai dari faktor alam sendiri sampai pada faktor prilaku manusia. Tapi yang pasti apa yang terjadi meninggalkan luka yang mendalam yang akan tercatat di dalam sejarah bahwa alam kita secara khususnya maupun dunia secara umumnya sedang tidak baik-baik saja.

Pertanyaan lain yang muncul adalah: siapa yang harus disalahkan atas peristiwa ini? Jawaban pasti tentu tidak mudah. Namun satu hal jelas—tidak ada yang patut dibanggakan ketika alam tidak lagi menjaga dan berpihak pada manusia. Hubungan manusia dengan alam selayaknya berjalan dua arah: ketika manusia menjaga alam, maka alam pun akan menjaga manusia.

Sikap ini hanya dapat terwujud jika ketamakan, keegoisan, dan keserakahan berhasil ditekan dalam diri setiap individu. Pembalakan hutan secara membabi buta adalah bukti nyata lemahnya pengawasan, bukan hanya dari pemerintah, tetapi juga dari masyarakat yang hidup di sekitarnya. Banjir bukan sekadar peristiwa meluapnya air ke daratan, tetapi akumulasi dari tindakan manusia yang abai terhadap kelestarian lingkungan.

Hal menarik yang saya jumpai ketika seorang filsuf Indonesia sekaligus pengamat politik ROCKY GERUNG melalui sosial medianya mengatakan: “Palestina, Malaysia, Thailand, Korea juga banjir tetapi Cuma di Indonesia yang banjirnya pakai kayu Gelondongan”.

Sederhana, menarik, menggelitik, lucu ketika melihat apa yang ditulis, tetapi ini menjadi tamparan keras bagi kita semua. Ini bukan saja tanggapan tetapi sindiran positif untuk dicerna. Apa yang disampaikan sangat singkat tetapi sarat akan makna dan kritikan. Yang artinya apa? Berarti ada sesuatu yang salah dari hal ini.

Dari keseluruhan bingkai situasi yang terjadi hal penting yang diambil adalah bagaimana memposisikan diri kita sebagai makhluk yang berpikir, bermoral, beriman dan beragama akan berjalan? Masikah perlu peringatan alam ini kepada manusia ini terjadi secara dahsyat? Cuma dari kita, oleh kita dan untuk kita yang bisa lakukan. Mari awasi secara bersama.

Melihat dari aspek Filosofis, Theologis dan sosial

Dari aspek Filosofis

Segala sesuatu yang dilakukan memiliki konsekuensi baik secara langsung maupun tidak langsung. K. Bertens dalam bukunya Etika, menulis secara filosofis kondisi dekadensi moral membawa orang kepada dua keadaan: Immoral, yaitu Sadar tentang norma-norma moral tetapi bertindak menentangnya dan keadaan Amoral, yaitu hilangnya kesadaran tentang adanya nilai-nilai baik dan buruk.

Secara kasar keadaan amoral menyamakan manusia itu sudah mati, karena predikat manusia yang mampu berpikir itu sudah hilang. Tentunya antara sadar dan bertindak itu harus selaras dan sejalan. Manusia harus menyadari, dua kondisi ini harus hilang karena tidak akan ada lagi yang bisa mencegah dan yang pastinya keadaan lingkungan khususnya akan rusak atas hilangnya kesadaran.

Dalam kaitannya dengan menyikapi bencana yang terjadi, pertanyaan inti yang muncul adalah bagaimana caranya menjaga lingkungan? Untuk apa lingkungan itu dijaga? Dan mengapa lingkungan itu dijaga? Pertanyaan-pertanyaan ini dapat dijawab ketika pemahaman akan kesadaran lingkungan, kesadaran akan relasi manusia dan alam serta konsekuensi dari segala prilaku itu dipahami. Panggilan aksi nyata dari pemahaman itu menjadi tanggung jawab bersama untuk saling mengingatkan.

Dari Aspek Theologis.

Dalam perspektif agama Katolik khususnya, lingkungan menjadi objek yang tidak terpisahkan dari manusia. Bencana yang terjadi dikatakan sebagai ujian dari Allah, kemurkahan Allah atas prilaku manusia. Dalam kitab kejadian (1:2, 2:15) memberikan mandat kepada manusia agar mengelola, memelihara dan mengusahakan bumi, bukan untuk menaklukkannya secara sewenang-wenang tetapi tanggung jawab untuk menjaganya. Ketika mandat diberikan tetapi tidak diindahkan maka Allah punya cara sendiri menanganinya sebagai peringatan dan hanya Allah sendiri yang tahu.

Ajakan untuk bertanggung jawab atas apa yang telah diajarkan melalui kitab suci maupun pesan dari imam sebagai pembina iman umat wajib dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab.

Lirik lagu dari penyanyi Indonesia, Ebit G Ade seperti ini “Barang kali di sana ada jawabnya, mengapa di tanahku terjadi bencana, mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa, atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita, coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang”.

Lirik lagu indah ini memberikan pesan yang mendalam bahwa ketika alam marah, tidak ada yang bisa menjawab, hanya kesadaran sebagai Makhluk Tuhan yang lemah akan membuka hati untuk bersiap diri dan berubah.

Dari Aspek sosial

Dalam sisi sosial, bencana bukan saja merupakan fenomena sosial tetapi melibatkan interaksi manusia secara individu, masyarakat, serta institusi (pemerintah) untuk segera menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan yang drastis.

Dalam bingkai kejadian bencana yang terjadi di Sumatra dan Aceh, sangat terlihat jelas bagaimana situasi yang dialami, mulai dari ketidakmampuan institusi pemerintah daerah menanganinya, akses masuk yang sulit menuju korban bencana hingga bagaimana sikap toleransi dan empati memberikan perhatian moral sebagai sesama.

Apa yang mau diajarkan kepada kita serta pelajaran apa yang dapat dilakukan? Bencana memberikan alarm agar membangun relasi yang baik antara manusia dengan alam, manusia dengan sesama manusia, karena manusia itu rapuh ketika berhadapan dengan alam yang marah.

Membangun kesadaran ekologis dan memahami hukum lingkungan menjadi penting dalam meningkatkan kesigapan dimasa depan.

Tantangan Pemimpin dan Tanggung Jawab Moral.

Di beberapa media nasional memuat berita tentang salah satu bupati Aceh selatan “Mirwan Ms” keluar daerah untuk melaksanakan umroh di tengah kondisi bencana alam yang menimpah daerahnya.Atas perbuatan ini, terjadi berbagai macam kemarahan publik mulai dari presiden sampai tingkat masyarakat. Atas apa yang dilakukan, timbul sebuah pertanyaan: Dimanakah rasa empati seorang pemimpin? Apakah jabatan yang diemban dulu bukan dari rakyat? Ini merupakan tantangan tersendiri bagi seorang pemimpin. Lalu bagaimana menyikapinya?

Bukan hanya untuk orang tersebut, ini adalah pelajaran penting bagi kita terutama kalangan muda apabila kelak menjadi seorang pemimpin. Bahwa pemahaman akan kepemimpinan itu sangat penting, kecerdasannya adalah hal utama bukan karena saya mempunyai harta, kepetingan pribadi, atau jabatan.

Pemimpin harus berdiri dititik paling depan untuk melihat, merasakan, mengambil tindakan cepat, melindungi, menghibur, mencari solusi serta mencegah agar apa yang terjadi tidak terulangi. Atas apa yang terjadi, panggilan tugas kepemimpinan dapat diuji: Mampukah melihat secara mendalam atas apa yang terjadi? mampukah mencari jalan keluar untuk mengatasinya? Perlu disadari segala perbuatan pasti memiliki konsekuensi. Tak dipungkiri ketidak percayaan masyarakat akan menambah luka dari apa yang terjadi.

John C. Maxwell Mengatakan kepercayaan adalah mata uang kepemimpinan. Ini adalah integritas penting. Hilangnya kepercayaan maka tak ada artinya pemimpin.

Saya teringat pada tahun 2013, saya pernah menulis di majalah PROFETIK (majalah mahasiswa STIPAS) tentang gaya kepemimpinan yang mengutip pandangan dari Muchtar Buchori dalam bukunya Indonesia Mencari Demokrasi. Gaya kepemimpinan itu dikenal ada 4 macam:

  • Pertama, gaya tirani (gaya yang menggunakan paksaan)
  • kedua, gaya manipulatif (gaya yang disertai dengan bujukan dan tipuan),
  • ketiga, gaya transaksional (gaya yang disertai dengan tindakan jual beli),
  • keempat, gaya kepemimpinan Transformasional (gaya kepemimpinan yang selalu menjadi teladan bagi pengikutnya); Gaya kepemimpinan seperti ini mengandung keseimbangan antara apa yang dikatakan dengan apa yang dibuat. Memahaminya akan menentukan dimana posisi pijak seorang pemimpin.

Ajakan Membangun Kesadaran Ekologis.

Isu lingkungan saat ini menjadi isu Global yang menjadi perhatian utama. Ajakan menjaga lingkungan selalu menggema di seluruh dunia. Tetapi kembali lagi, pekerjaan rumah kita adalah bagaimana cara menghilangkan keserakahan manusia untuk tidak mengeksploitasi alam secara sewenang-wenang?

Salah satu celah mengapa kerusakan alam itu tetap terjadi adalah lemahnya penegakkan hukum bagi pelaku pengrusakan lingkungan, lemahnya pengawasan dalam hal ini yang paling utama adalah lemahnya kesadaran memahami pentingnya menjaga alam. Oleh karena itu menjadi tanggung jawab bersama, saling mengingatkan bahwa bencana kapan saja bisa terjadi apabila pemahaman dan kebiasaan buruk tidak dihilangkan.

Aktivitas kesadaran ekologis dimulai dari hal kecil yaitu tanggung jawab memberikan kontribusi terhadap komponen alam salah satunya mengambil bagian dari gerakkan penghijauan ataupun kampanye kebersihan di lingkungan serta kampanye akan bahayanya merusak lingkungan. Dalam UU No. 23 tahun 1997 tentang lingkungan hidup dituliskan bahwa kualitas lingkungan ditentukan oleh apa yang berada di dalam dan sekitarnya.

Alam sehat tergantung diri kita sendiri, menjauhkan bencana adalah tanggung jawab bersama serta menyadari diri kita sebagai makhluk Tuhan yang memerlukan alam adalah prioritas utama.

IMG-20260217-WA0004
Editor: Irenius Putra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *