Dirilis oleh: Emanuel Gervasius Tua
SUMBA TIMUR, PENA1NTT.COM – Gereja Katolik Paroki Maria Bunda Selalu Menolong (MBSM) Kambajawa di Waingapu, Sumba Timur, lahir dari sejarah panjang kehadiran Gereja Katolik di Pulau Sumba sejak akhir abad ke-19 dan berkembang menjadi salah satu gereja terbesar serta termegah di Sumba Timur pada awal abad ke-21.
Puncak perjalanan panjang ini tampak dalam pembangunan gedung gereja baru yang dimulai tahun 2015 dan diresmikan pada 7 Oktober 2025 setelah proses selama sekitar 10 tahun.
Kehadiran Gereja Katolik di Sumba berawal pada 21 April 1889 ketika misionaris Yesuit tiba di Pakamandara, Loura, dan menjadikan Sumba sebagai bagian dari wilayah misi Larantuka.
Dari pusat awal di Sumba Barat itu, karya pastoral kemudian meluas ke seluruh pulau, termasuk ke wilayah Waingapu dan Sumba Timur, melalui pembukaan stasi dan kemudian paroki-paroki baru.
Seiring pertumbuhan jumlah umat di Waingapu dan sekitarnya, dibentuklah Paroki Maria Bunda Selalu Menolong di Kambajawa sebagai salah satu paroki di bawah Keuskupan Weetabula, yang secara resmi tercatat dalam daftar paroki-paroki Sumba Timur.
Paroki ini mengambil Maria Bunda Selalu Menolong sebagai pelindung, untuk menegaskan devosi umat kepada Bunda Maria yang diyakini selalu mendampingi dan menolong dalam perjuangan hidup sehari-hari.
Memasuki dekade 2010-an, gedung gereja lama tidak lagi memadai untuk menampung jumlah umat yang terus bertambah, sehingga muncul cita-cita membangun rumah ibadat yang lebih layak dan besar.
Pada 14 Desember 2015 dilaksanakan peletakan batu pertama pembangunan gedung gereja baru Paroki MBSM Kambajawa, menandai dimulainya proyek besar yang disebut sebagai “ziarah iman” umat paroki.
Pembangunan gereja berlangsung kurang lebih 10 tahun dengan berbagai tantangan, baik dari sisi pendanaan maupun teknis, hingga menghabiskan biaya sekitar Rp23 miliar.
Dana dan tenaga dihimpun dari umat paroki, para dermawan, dan berbagai pihak yang beritikad baik, sehingga gereja ini sungguh lahir “dari peluh umat” yang berkorban melalui materi, pikiran, tenaga, dan doa.
Gedung gereja baru berukuran sekitar 37 x 56 meter ini akhirnya diresmikan dan dikonsekrasikan pada Selasa, 7 Oktober 2025, oleh Uskup Weetabula Mgr. Edmund Woga, CSsR, dan didedikasikan oleh Nunsius Apostolik untuk Indonesia, Mgr. Piero Pioppo.
Pada momen ini pemerintah daerah Sumba Timur juga menegaskan bahwa gereja MBSM bukan hanya simbol iman umat Katolik, tetapi juga tanda persatuan, kebersamaan, dan kerukunan antarumat beragama di Sumba Timur.
Sejak diresmikan, Gereja MBSM Kambajawa menjadi salah satu ikon rohani di Sumba Timur, sering disebut sebagai salah satu gereja terbesar dan termegah di wilayah tersebut.
Lebih dari sekadar bangunan megah, gereja ini dimaknai sebagai panggilan agar umat menjadi “gereja hidup” yang kokoh dalam iman, teguh dalam pengharapan, dan berakar dalam kasih, serta sebagai pusat pelayanan pastoral dan karya sosial bagi masyarakat sekitar.














