Oleh: Maria Joice Fladiani Mahasiswa Program Studi Pendidikan Keagamaan Katolik, STIPAS St. Sirilus Ruteng
PENA1NTT.COM – Perkembangan teknologi digital yang begitu pesat telah membawa perubahan besar dalam cara remaja mengakses informasi. Namun, di balik kemudahan tersebut, tersimpan persoalan serius: budaya membaca di kalangan remaja kian memudar. Buku yang dahulu menjadi jendela dunia kini mulai tergeser oleh gawai, media sosial, dan berbagai hiburan digital yang serba cepat dan instan.
Kondisi ini bukan sekadar asumsi. Data dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia melalui Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat menunjukkan bahwa tingkat literasi masyarakat Indonesia masih membutuhkan perhatian serius. Hasil studi Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) melalui Programme for International Student Assessment (PISA) juga mengungkapkan bahwa kemampuan literasi membaca siswa Indonesia masih berada di bawah rata-rata negara-negara anggota OECD. Fakta ini menjadi alarm keras bagi dunia pendidikan dan masyarakat luas.
Di tengah realitas tersebut, remaja semakin larut dalam arus media sosial, gim daring, dan video singkat. Aktivitas membaca buku yang menuntut konsentrasi dan kesabaran perlahan dianggap membosankan. Padahal, membaca memiliki peran fundamental dalam membentuk cara berpikir, karakter, dan kedalaman wawasan generasi muda.
Membaca bukan sekadar memahami rangkaian kata. Ia merupakan proses intelektual yang melatih konsentrasi, memperkaya kosakata, mengasah imajinasi, serta menumbuhkan kemampuan berpikir kritis dan analitis. UNESCO bahkan menegaskan bahwa literasi adalah fondasi utama dalam pembangunan kualitas sumber daya manusia. Tanpa budaya membaca yang kuat, mustahil melahirkan generasi yang reflektif dan berdaya saing.
Remaja yang terbiasa membaca cenderung lebih percaya diri dalam menyampaikan pendapat, mampu melihat persoalan dari berbagai sudut pandang, serta tidak mudah terjebak dalam arus informasi menyesatkan. Sebaliknya, rendahnya minat baca membuat remaja rentan terhadap hoaks dan informasi yang tidak terverifikasi—fenomena yang semakin marak di media sosial. Berbagai laporan menunjukkan bahwa sebagian besar waktu remaja saat ini dihabiskan untuk konsumsi media digital, bukan untuk kegiatan literasi yang mendalam.
Pudarnya budaya membaca tidak terjadi tanpa sebab. Kemudahan akses terhadap hiburan digital yang serba instan membentuk kebiasaan berpikir dangkal dan cepat puas. Konten pendek yang disajikan secara visual membuat remaja kurang terlatih untuk menyelami teks panjang yang membutuhkan pemahaman serius. Selain itu, minimnya dorongan dari lingkungan keluarga dan sekolah turut memperparah kondisi ini.
Padahal, melalui buku, seseorang dapat memperoleh pengetahuan yang lebih terstruktur dan mendalam. Buku memberi ruang untuk merenung, mengaitkan gagasan, serta membangun pemahaman yang utuh. Dalam dunia pendidikan, kebiasaan membaca berbanding lurus dengan peningkatan prestasi akademik dan kualitas berpikir peserta didik.
Oleh karena itu, upaya menghidupkan kembali budaya membaca harus menjadi tanggung jawab bersama. Sekolah dapat menghadirkan program literasi yang kreatif dan relevan dengan dunia remaja, seperti pojok baca, diskusi buku, lomba resensi, atau kegiatan membaca bersama. Program Gerakan Literasi Nasional yang dicanangkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia merupakan langkah konkret yang perlu terus diperkuat dan dievaluasi implementasinya.
Di sisi lain, teknologi tidak seharusnya diposisikan sebagai musuh literasi. Justru, teknologi dapat dimanfaatkan sebagai sarana alternatif untuk menumbuhkan minat baca melalui buku digital, artikel edukatif, dan platform literasi daring. Dengan pendekatan yang tepat, membaca dapat dikemas sebagai aktivitas yang menarik, relevan, dan menyenangkan bagi remaja masa kini.
Pada akhirnya, budaya membaca tidak boleh dibiarkan semakin pudar. Membaca adalah fondasi penting dalam membentuk generasi yang cerdas, kritis, dan berkarakter. Jika remaja Indonesia ingin mampu bersaing dan berkontribusi secara bermakna di masa depan, maka kebiasaan membaca harus dibangun kembali—dimulai dari sekarang, dari lingkungan terdekat, dan dari kesadaran bersama.














