MANGGARAI BARAT, PENA1NTT.COM – Seorang pemasok utama bahan baku dapur Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Siru, Kecamatan Lembor, Manggarai Barat, diduga melakukan intimidasi terhadap wartawan melalui sambungan telepon WhatsApp. Dalam percakapan tersebut, narasumber menyebut wartawan tidak beretika hingga mengancam akan menempuh jalur hukum.
Narasumber bernama Saipul, yang disebut-sebut sebagai supplier tunggal kebutuhan bahan lokal dapur MBG Siru, juga diduga memiliki hubungan keluarga dengan Aleks, pemilik sekaligus pengelola dapur MBG tersebut.
Kronologi Intimidasi Melalui Telepon
Awalnya, nomor WhatsApp Saipul diberikan langsung oleh Aleks kepada wartawan atas permintaan konfirmasi. Informasi dari masyarakat setempat menyebutkan bahwa Saipul merupakan pemasok utama bahkan tunggal bahan baku dapur MBG Siru.
Sesuai etika jurnalistik, wartawan lebih dahulu mengirim pesan konfirmasi dengan memperkenalkan identitas berupa nama, profesi, dan media tempat bekerja. Namun, sekitar dua jam setelah pesan tersebut dikirim, Saipul justru menghubungi wartawan melalui panggilan WhatsApp pada pukul 22.49 WITA
Dalam percakapan tersebut, Saipul menyebut bahwa konfirmasi melalui WhatsApp merupakan pelanggaran kode etik jurnalistik. Ia bahkan menyatakan wartawan tidak beretika dan mengancam akan membawa persoalan tersebut ke ranah hukum.
“Saya hanya berupaya menyelamatkan Ite. Ketemu saya di depan Joyo Pangestu. Tidak perlu menghubungi saya lewat WA karena tidak benar menurut kode etik jurnalistik. Meliput itu harus ketemu narasumber dan menunjukkan kartu pers. Tidak begitu cara meliput,” kata Saipul melalui telepon, Kamis (29/1/2026).
Saat wartawan menjelaskan bahwa yang dilakukan adalah konfirmasi, bukan peliputan lapangan, Saipul tetap bersikeras dengan pendiriannya.
“Ya konfirmasi bukan begitu caranya. Etika itu sudah diatur dalam undang-undang. Konfirmasi lewat WA tidak benar karena sudah diatur dalam Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999. Wartawan harus ketemu saya dan menunjukkan kartu pers baru saya jawab,” ujarnya.
Menanggapi pernyataan tersebut, wartawan mempersilakan Saipul untuk menempuh jalur hukum apabila merasa konfirmasi yang dilakukan melanggar kode etik jurnalistik.
“Silakan bapak melakukan proses hukum bila konfirmasi saya melanggar kode etik,” jawab wartawan.
Hambatan Saat Konfirmasi di Dapur MBG Siru
Sikap tertutup juga dialami wartawan saat mendatangi langsung dapur MBG Siru milik Aleks, yang berlokasi di Kelurahan Tangge, Kecamatan Lembor, Kamis (28/1/2026). Dapur tersebut diketahui dikelola oleh Aleks, yang juga disebut sebagai saudara dari politisi NasDem Yopi Widianti.
Kepala dapur bernama Elen awalnya mengarahkan wartawan ke ruang kerja untuk meminta keterangan terkait menu MBG berupa labu parut jeruk asam dan tempe hambar yang sebelumnya menuai sorotan publik.
Setelah wartawan memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud kedatangan, Elen tiba-tiba meninggalkan ruangan untuk menerima sebuah panggilan telepon. Usai menerima panggilan tersebut, Elen kembali dan meminta wartawan menunggu kedatangan Aleks, sembari meminta agar wartawan menunjukkan surat tugas.
Namun, setelah surat tugas diperlihatkan, Elen justru menyampaikan bahwa pihaknya tidak dapat memberikan keterangan karena adanya larangan dari atasan.
“Kami dilarang memberikan keterangan karena atasan menyuruh untuk tidak boleh memberikan keterangan,” kata Elen, yang mengaku pernah berprofesi sebagai wartawan media di Labuan Bajo.
Aleks selaku pemilik dapur juga menyampaikan hal serupa. Ia mengaku tidak dapat memberikan keterangan apa pun karena telah dilarang oleh koordinator BGN Manggarai Barat.
Akibatnya, upaya konfirmasi wartawan terhenti dan tidak mendapatkan jawaban substantif. Baik pemilik dapur maupun kepala dapur memilih bungkam terkait pengelolaan serta menu MBG yang disajikan kepada penerima manfaat di Siru.
Klarifikasi Saipul
Sementara itu, saat kembali dihubungi media ini, Saipul memberikan klarifikasi terkait sikapnya. Ia menyebut bahwa maksudnya bukan untuk mengintimidasi wartawan, melainkan menginginkan agar proses wawancara atau konfirmasi dilakukan secara langsung.
“Sebenarnya saya hanya ingin supaya media yang mau wawancara atau minta konfirmasi itu datang dan bertemu langsung, bukan lewat WhatsApp,” kata Saipul.
Menurutnya, keinginan tersebut didasari oleh kekhawatiran akan terjadinya kesalahpahaman dalam penyampaian informasi.
“Ada beberapa pertimbangan, takutnya nanti terjadi salah bahasa atau salah penafsiran. Karena itu saya maunya bertemu langsung saja,” ujarnya.
Meski demikian, klarifikasi tersebut disampaikan setelah sebelumnya Saipul menyebut konfirmasi melalui WhatsApp sebagai pelanggaran etika jurnalistik dan mengancam akan menempuh proses hukum terhadap wartawan.














