Penulis: Maria filomena Alfi (Mahasiswa Prodi S1 Kebidanan STIKES St. Paulus Ruteng)
Ruteng, Pena1NTT.Com – Di era modern seperti sekarang, dunia mengalami perkembangan teknologi yang sangat pesat. Segala hal menjadi serba cepat dan praktis, termasuk dalam memperoleh informasi.
Namun, di balik kemajuan teknologi yang membawa berbagai kemudahan, ada satu persoalan besar yang sedang dihadapi oleh masyarakat, khususnya di Indonesia, yaitu menurunnya budaya literasi.
Budaya literasi yang dimaksud bukan hanya sekadar kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup kemampuan memahami, menganalisis, dan memanfaatkan informasi dengan bijak.
Fenomena menurunnya minat baca dan tulis menjadi tanda bahwa bangsa ini sedang menghadapi tantangan besar dalam membangun generasi yang cerdas, kritis, dan berwawasan luas.
Secara sederhana, literasi berarti kemampuan seseorang untuk mengenali, memahami, dan menggunakan informasi melalui kegiatan membaca dan menulis.
Namun, literasi dalam konteks yang lebih luas mencakup banyak hal, seperti literasi digital, literasi sains, literasi budaya, hingga literasi finansial. Semua bentuk literasi ini sangat penting dalam membentuk kualitas sumber daya manusia yang unggul.
Sayangnya, berbagai survei menunjukkan bahwa tingkat literasi masyarakat Indonesia masih tergolong rendah.
Berdasarkan data dari UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia hanya sekitar 0,001%, yang berarti dari 1.000 orang Indonesia, hanya satu orang yang benar-benar memiliki kebiasaan membaca secara rutin. Fakta ini sungguh memprihatinkan.
Fenomena menurunnya budaya literasi ini dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari. Di sekolah, misalnya, banyak siswa yang lebih suka membuka gawai untuk menonton video atau bermain gim daripada membaca buku pelajaran atau karya sastra.
Ketika diberi tugas membuat ringkasan atau resensi buku, sebagian besar siswa hanya menyalin dari internet tanpa benar-benar membaca isi buku tersebut.
Di masyarakat umum pun sama, kebiasaan membaca koran, majalah, atau buku sudah tergantikan oleh kebiasaan menggulir layar media sosial. Akibatnya, banyak orang lebih percaya pada informasi yang belum tentu benar, seperti hoaks, karena kurang memiliki kemampuan literasi digital yang baik.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan budaya literasi semakin menurun.
Pertama, perkembangan teknologi digital yang sangat cepat membuat masyarakat terbiasa dengan informasi instan. Informasi yang singkat dan cepat dianggap lebih menarik daripada tulisan panjang yang membutuhkan waktu dan konsentrasi untuk memahami.
Kedua, ketersediaan sarana dan prasarana membaca yang masih terbatas di beberapa daerah juga menjadi penyebab. Tidak semua wilayah memiliki perpustakaan yang layak atau akses internet yang memadai untuk mencari bahan bacaan berkualitas.
Ketiga, faktor lingkungan keluarga dan sekolah juga berpengaruh besar. Banyak orang tua yang tidak memberikan contoh atau dukungan kepada anak-anak untuk gemar membaca.
Di sekolah pun, kegiatan literasi sering kali hanya dijadikan formalitas tanpa upaya nyata untuk menumbuhkan minat baca siswa.
Selain itu, pengaruh media sosial juga sangat kuat dalam menurunkan minat baca. Platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube menyajikan hiburan singkat dan cepat yang membuat otak manusia terbiasa dengan informasi instan.
Akibatnya, ketika harus membaca teks panjang seperti buku atau artikel ilmiah, banyak orang merasa cepat bosan dan sulit berkonsentrasi. Padahal, membaca teks panjang sebenarnya melatih kemampuan berpikir kritis dan memperkaya kosakata.
Inilah salah satu bentuk “kemalasan intelektual” yang secara tidak langsung dibentuk oleh gaya hidup digital modern.
Menurunnya budaya literasi tentu membawa dampak negatif yang cukup serius. Dalam bidang pendidikan, rendahnya minat baca menyebabkan kemampuan memahami teks juga menurun.
Banyak siswa yang kesulitan menjawab soal bacaan karena kurang terbiasa menganalisis isi teks. Dalam jangka panjang, hal ini akan memengaruhi kualitas sumber daya manusia, karena kemampuan berpikir kritis dan analitis sangat dibutuhkan dalam dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat.
Dalam bidang sosial, rendahnya literasi juga menyebabkan mudahnya masyarakat terpengaruh oleh berita bohong, ujaran kebencian, atau informasi yang menyesatkan. Kurangnya kemampuan memverifikasi kebenaran informasi membuat banyak orang mudah terprovokasi.
Selain dampak negatif terhadap pendidikan dan sosial, rendahnya budaya literasi juga berpengaruh terhadap perkembangan budaya bangsa. Bangsa yang tidak gemar membaca akan kehilangan identitas dan daya saingnya.
Nilai-nilai luhur yang tertuang dalam karya sastra, sejarah, dan literatur klasik bisa terlupakan karena jarang dibaca dan dipelajari.
Padahal, literasi bukan hanya untuk mendapatkan pengetahuan, tetapi juga sebagai sarana untuk membentuk karakter, moral, dan rasa cinta terhadap budaya sendiri.
Bangsa yang gemar membaca akan lebih mudah memahami jati dirinya dan mampu menghadapi tantangan global tanpa kehilangan akar budaya.
Namun, menurunnya budaya literasi bukan berarti tidak bisa diperbaiki. Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk menumbuhkan kembali semangat literasi, baik oleh individu, keluarga, sekolah, maupun pemerintah.
Di lingkungan keluarga, orang tua memiliki peran penting dalam membiasakan anak untuk gemar membaca sejak dini. Misalnya dengan menyediakan buku cerita di rumah, mendampingi anak saat membaca, atau membacakan dongeng sebelum tidur.
Di sekolah, guru dapat menciptakan kegiatan literasi yang menyenangkan, seperti pojok baca, lomba resensi buku, atau hari khusus membaca bersama.
Pemerintah juga perlu mendukung dengan menyediakan akses buku murah dan memperbanyak perpustakaan umum yang nyaman dan modern.
Selain itu, masyarakat juga perlu memanfaatkan teknologi secara bijak untuk meningkatkan literasi digital. Internet sebenarnya bisa menjadi sumber pengetahuan yang luar biasa jika digunakan dengan benar.
Banyak platform digital yang menyediakan buku elektronik (e-book), jurnal, dan artikel edukatif secara gratis. Dengan literasi digital yang baik, seseorang dapat memilah informasi mana yang bermanfaat dan mana yang menyesatkan. Hal ini akan membentuk masyarakat yang cerdas, kritis, dan tidak mudah dipengaruhi berita palsu.
Upaya lain yang juga penting adalah menjadikan membaca sebagai gaya hidup. Kita perlu menanamkan kesadaran bahwa membaca bukan kegiatan yang membosankan, tetapi merupakan kebutuhan untuk menambah wawasan dan memperluas pandangan hidup.
Budaya literasi harus menjadi bagian dari keseharian, bukan hanya kegiatan sesekali. Misalnya, mengganti sebagian waktu bermain media sosial dengan membaca satu artikel atau beberapa halaman buku setiap hari. Kecil, tetapi jika dilakukan secara konsisten, hasilnya akan besar.
Sebagai generasi muda, kita memiliki tanggung jawab besar untuk menghidupkan kembali budaya literasi di tengah gempuran teknologi. Generasi muda adalah harapan bangsa, dan bangsa yang besar adalah bangsa yang gemar membaca.
Dengan literasi, kita bisa memahami dunia dengan lebih luas, berpikir lebih kritis, dan berkontribusi lebih baik bagi kemajuan bangsa. Membaca bukan hanya sekadar kewajiban akademik, tetapi juga kebutuhan hidup untuk bertumbuh sebagai manusia yang cerdas dan berkarakter.
Menurunnya budaya literasi di Indonesia merupakan tantangan serius yang harus segera diatasi bersama. Faktor penyebabnya berasal dari perkembangan teknologi, kurangnya fasilitas, minimnya contoh dari lingkungan keluarga, serta pengaruh media sosial yang menumbuhkan kebiasaan instan.
Dampaknya sangat luas, mulai dari rendahnya kualitas pendidikan hingga mudahnya masyarakat terpengaruh oleh informasi palsu.
Oleh karena itu, diperlukan kerja sama antara individu, keluarga, sekolah, dan pemerintah untuk membangkitkan kembali semangat membaca dan menulis.
Dengan membangun budaya literasi yang kuat, Indonesia akan mampu mencetak generasi yang cerdas, kritis, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan masa depan.














