Berita  

Potret Warga dusun watu roga serise luwuk dan lengkololok Yang Jauh dari Kata Merdeka

Manggari Timur 20/092025/pena1 ntt.com /Keriuhan peringatan ke 75 tahun kemerdekaan Indonesia, sejenak melupakan sulitnya hidup terisolir . Seperti potret ,warga yang tinggal di desa Satar Punda Kecamatan Lamba Leda Kabupaten Manggarai Timur NTT, yang masih jauh dari kata Merdeka.

Sabtu 20 september 2025. menjadi hari melelahkan bagai Para ibu ibu yang jatuh tersungkur, setelah memikul ember berisikan air .  Empat kali bolak balik mengambil air dengan jarak 300 meter, terletak di ujung kampung membuat sekujur tubuhnya dibasahi keringat.Namun bagi ibu ibu dan warga lainya di desa satar punda dusun watu roga , pekerjaan mengambil air sudah menjadi pekerjaan sehari-hari.

capek mori,” ucap sala seorang ibu sambil menyeka keringat.

Meski sudah siang, suasana di dusun itu, tidak terlalu panas. karena Dusun tersebut terletak di di bawa bukit gunung dan masih kelilingi pepohonan.

Bagi warga setempat, hidup di desa yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan punya beban besar. Baginya harus banyak bersabar dan banyak mensyukuri atas karunia yang Tuhan berikan.

Memang Mereka jarang menikmati dan melihat suasana kota. Selain karena keterbatasan ekonomi, akses menuju kota sangat jauh.

Sektor ekonomi, pendidikan, kesehatan dan infrastruktur jalan dan jaringan telepon sangat jauh tertinggal. Seperti itulah yang dialami warga Desa satar punda dusun watu roga serise yang berpenduduk kurang lebi 344 jiwa ini.Desa satar Punda merupakan salah satu Desa di Kecamatan Lamba Leda Kabupaten Manggarai Timur , boleh dibilang jauh dri kata Merdeka.Angi sala satu warga mengungkapkan, jika warga di sini masih mengandalkan Air sungai untuk kebutuhan Sehari-hari.“Kalau untuk mandi, cuci dan memasak kita masih ambil air di dekat sungai. Tapi sudah kita buatkan seperti sumur kecil,” kata anggi sambil menghisap rokoknya.Namun ketika hujan lebat, apalagi air sudah bercampur lumpur, mereka harus mengambil air di sumur lain. Untuk menjadi kebutuhan sehari-hari.

Semua sarana di desa ini katanya, masih sangat tertinggal. Mulai dari jalan, jaringan telepon, pendidikan serta kesehatan. Untuk menuju di desa tersebut, bukan perkara yang mudah. Sebab, harus melewati anak sungai, jalan berbatu penuh lumpur, dan tanjakan Makanya tidak ada transportasi angkutan umum menuju ke desa kami katanya.“Kalau mobil, hanya ada mobil pick up yang mengangkut hewan seperti,kuda ,sapi dan kambing , untuk dibwa ke sulawesi kata anggi.

Meski Indonesia sudah Merdeka 75 Tahun Silam, tapi tidak bagi masyarakat di dusun waaru roga serise lengkololok dan luwuk. 75 tahun merdeka, bukanlah waktu yang singkat. Merobek isolasi desa tertinggal layaknya pungguk merindukan rembulan.“Ya, saat ini kita belum merasakan arti dari Kemerdekaan sesungguhnya,” kata pria pria payu bara itu, iya mengaku hingga kini banyak warga yang belum mempunyai KTP dan kartu keluarga. Alasannnya, karena belum punya biaya transportasi menuju ke kantor Capil di ibu kota kabupaten Manggarai Timur.

Untuk menuju ke ibu kota kabupaten, butuh biaya kurang lebih 300 ribu.

Jalan serise luwuk dan batu roga dengan panjang kurang lebi 15 kilo meter itu memang belum di rabat apalagi di aspal. Hal itu membuat dirinya harus mencari biaya untuk transportasi. Belum lagi ditambah untuk makan sesampai nya di kota kabupaten.

Dia menyebut, perkembangan kehidupan masyarakat di daerah kami khususnya di desa satar puda ini belum merata. Warga masih mengeluhkan infrastruktur berupa jalan yang hingga kini belum terlihat jelas pembangunannya.“Kita berharap, dengan HUT ke 75 kemerdekaan Indonesia kmrin, jalan sudah bisa dibangun. Kalau tidak, masyarakat akan terus menjerit.Anggi menceritakan, hampir setiap pagi dan sore, warga di sini mendatangi sungai untuk mandi, cuci, dan kebutuhan air bersih untuk minum dan memasak.Meski begitu, air yang mereka konsumsi setiap hari diyakini masih jernih karena sumber mata air berasal dari kalitersebutSelain mengandalkan air sungai, masyarakat setempat juga terpaksa menghemat ketersediaan air bersi untuk di minum. Kalau untuk mandi, bisa di sungai,” sambung javarKetika ditanya media pena 1 Ntt,com, apa yang harus dilakukan pemerintah untuk Desa desa ini?. Anggi menghela nafas panjang. Seketika, seolah ada jutaan beban yang menumpuk dipikirannya. Raut mukanya langsung berubah serius.“Kami berharap ada perhatian dari pemerintah untuk kami di sini. Air minum bersi belum ada, jalan belum di aspal. Kasihan kami stiap hari anak.kami.kalau kesekola harus berjalan kaki , kalau ada yang sakit, bisa mati di jalan,” ungkap anggi.Dia hanya berharap, mesk kami.jauh dri perkota,n, jangan sampai kami terlupakan.Saat ini Indonesia telah berumur 75 tahun. Dan seperti biasa, naskah proklamasi itu kembali dibacakan oleh para pemimpin Negeri ini.Boleh saja kita berbangga bersorak merdeka, sebab  puluhan tahun lalu penjajah telah hengkang dari bumi pertiwi. Namun sayangnya, penjajahan masih terus berlanjut dan dirasakan bagi warga yang tinggal di tampat yang tak perna tersentuh sdikit pun ole perintah Desa ,Kabupaten maupun PemeeintahPusat. Lantas, masih pantaskah melakukan euforia kemerdekaan di negeri ini?. Sementara kesejahteraan rakyat semakin jauh dari harapan.Meski begitu, warga di desa tersebut masih memperingatinya. Lihatlah, meski HUT yang dilaksanakan setiap tanggal 17 Agustus, namun bendera merah putih yang masih berkibar dan masih tertancap di depan rumah. Hal itu sebagai bentuk ungkapan rasa terima kasih atas perjuangan yang telah memerdekaan bangsa ini. Manggari Timur /pena1 ntt.com /Keriuhan peringatan ke 75 tahun kemerdekaan Indonesia, sejenak melupakan sulitnya hidup terisolir . Seperti potret ,warga yang tinggal di desa Satar Punda Kecamatan Lamba Leda Kabupaten Manggarai Timur NTT, yang masih jauh dari kata Merdeka.Sabtu 20 september 2025. menjadi hari melelahkan bagai Para ibu ibu yang jatuh tersungkur, setelah memikul ember berisikan air .  Empat kali bolak balik mengambil air dengan jarak 300 meter, terletak di ujung kampung membuat sekujur tubuhnya dibasahi keringat.Namun bagi ibu ibu dan warga lainya di desa satar punda dusun watu roga , pekerjaan mengambil air sudah menjadi pekerjaan sehari-hari.“capek mori,” ucap sala seorang ibu sambil menyeka keringat.Meski sudah siang, suasana di dusun itu, tidak terlalu panas. karena Dusun tersebut terletak di di bawa bukit gunung dan masih kelilingi pepohonanBagi warga setempat, hidup di desa yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan punya beban besar. Baginya harus banyak bersabar dan banyak mensyukuri atas karunia yang Tuhan berikan.Mereka jarang menikmati dan melihat suasana kota. Selain karena keterbatasan ekonomi, akses menuju kota sangat jauh.Sektor ekonomi, pendidikan, kesehatan dan infrastruktur jalan dan jaringan telepon sangat jauh tertinggal. Seperti itulah yang dialami warga Desa satar punda dusun watu roga serise yang berpenduduk kurang lebi 344 jiwa ini.Desa satar Punda merupakan salah satu Desa di Kecamatan Lamba Leda Kabupaten Manggarai Timur , boleh dibilang jauh dri kata merdeka.Angi sala satu warga mengungkapkan, jika warga di sini masih mengandalkan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari.“Kalau untuk mandi, cuci dan memasak kita masih ambil air di dekat sungai. Tapi sudah kita buatkan seperti sumur kecil,” kata anggi sambil menghisap rokoknya.Namun ketika hujan lebat, apalagi air sudah bercampur lumpur, mereka harus mengambil air di sumur lain. Untuk menjadi kebutuhan sehari-hari.Semua sarana di desa ini katanya, masih sangat tertinggal. Mulai dari jalan, jaringan telepon, pendidikan serta kesehatan. Untuk menuju di desa tersebut, bukan perkara yang mudah. Sebab, harus melewati anak sungai, jalan berbatu penuh lumpur, dan tanjakanMakanya tidak ada transportasi angkutan umum menuju ke desa kami katanya.“Kalau mobil, hanya ada mobil pick up yang mengangkut hewan seperti,kuda ,sapi dan kambing , untuk dibwa ke sulawesi kata anggi.Meski Indonesia sudah Merdeka 75 Tahun Silam, tapi tidak bagi masyarakat di dusun waaru roga serise lengkololok dan luwuk. 75 tahun merdeka, bukanlah waktu yang singkat. Merobek isolasi desa tertinggal layaknya pungguk merindukan rembulan.“Ya, saat ini kita belum merasakan arti dari Kemerdekaan sesungguhnya,” kata pria pria payu bara itu, iya mengaku hingga kini banyak warga yang belum mempunyai KTP dan kartu keluarga. Alasannnya, karena belum punya biaya transportasi menuju ke kantor Capil di ibu kota kabupaten. Untuk menuju ke ibu kota kabupaten, butuh biaya kurang lebih 300 ribu.Jalan serise luwuk dan batu roga dengan panjang kurang lebi 15 kilo meter itu memang belum di rabat apalagi di aspal. Hal itu membuat dirinya harus mencari biaya untuk transportasi. Belum lagi ditambah untuk makan sesampai nya di kota kabupaten.Dia menyebut, perkembangan kehidupan masyarakat di daerah kami khususnya di desa satar puda ini belum merata. Warga masih mengeluhkan infrastruktur berupa jalan yang hingga kini belum terlihat jelas pembangunannya.“Kita berharap, dengan HUT ke 75 kemerdekaan Indonesia kmrin, jalan sudah bisa dibangun. Kalau tidak, masyarakat akan terus menjerit.Anggi menceritakan, hampir setiap pagi dan sore, warga di sini mendatangi sungai untuk mandi, cuci, dan kebutuhan air bersih untuk minum dan memasak.Meski begitu, air yang mereka konsumsi setiap hari diyakini masih jernih karena sumber mata air berasal dari kalitersebutSelain mengandalkan air sungai, masyarakat setempat juga terpaksa menghemat ketersediaan air bersi untuk di minum. Kalau untuk mandi, bisa di sungai,” sambung javarKetika ditanya media pena 1 Ntt,com, apa yang harus dilakukan pemerintah untuk Desa desa ini?. Anggi menghela nafas panjang. Seketika, seolah ada jutaan beban yang menumpuk dipikirannya. Raut mukanya langsung berubah serius.“Kami berharap ada perhatian dari pemerintah untuk kami di sini. Air minum bersi belum ada, jalan belum di aspal. Kasihan kami stiap hari anak.kami.kalau kesekola harus berjalan kaki , kalau ada yang sakit, bisa mati di jalan,” ungkap anggi.Dia hanya berharap, mesk kami.jauh dri perkota,n, jangan sampai kami terlupakan.Saat ini Indonesia telah berumur 75 tahun. Dan seperti biasa, naskah proklamasi itu kembali dibacakan oleh para pemimpin Negeri ini.Boleh saja kita berbangga bersorak merdeka, sebab  puluhan tahun lalu penjajah telah hengkang dari bumi pertiwi. Namun sayangnya, penjajahan masih terus berlanjut dan dirasakan bagi warga yang tinggal di tampat yang tak perna tersentuh sdikit pun ole perintah Desa ,Kabupaten maupun PemeeintahPusat. Lantas, masih pantaskah melakukan euforia kemerdekaan di negeri ini?. Sementara kesejahteraan rakyat semakin jauh dari harapan.Meski begitu, warga di desa tersebut masih memperingatinya. Lihatlah, meski HUT yang dilaksanakan setiap tanggal 17 Agustus, namun bendera merah putih yang masih berkibar dan masih tertancap di depan rumah. Hal itu sebagai bentuk ungkapan rasa terima kasih atas perjuangan yang telah memerdekaan bangsa ini.

IMG-20260217-WA0004

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *