
Manggarai-Pena1NTT.com -Diskusi yang digelar oleh TitikTemu_genz melalui Google Meet malam tadi menjadi ruang yang sangat penting untuk berbagi pandangan tentang realitas sosial yang tengah kita hadapi bersama.
Tema yang diangkat, “Stop Bullying: Membangun Kesadaran dan Empati untuk Lingkungan yang Aman dan Peduli,” bukan sekadar topik akademis, tapi sebuah seruan moral untuk meninjau ulang cara kita memperlakukan sesama.
Diskusi ini diisi oleh Kak Tika sebagai pemateri utama, dimoderatori oleh Yuyun, dan diikuti oleh sejumlah peserta muda, di antaranya Gusto selaku founder TitikTemu_genz, Rony Kung, Lauren, Joshua, dan Nelion.
Masing-masing memberikan pandangan dari sudut yang berbeda, namun semuanya bertemu pada satu titik: perlunya kesadaran baru dalam menghadapi fenomena bullying yang kian kompleks.Kak Tika, dalam pemaparannya, menekankan bahwa bullying tidak bisa dilihat hanya sebagai perilaku individu, melainkan bagian dari persoalan sosial yang lebih luas.
Ia menyinggung bahwa tekanan ekonomi sering kali mendorong individu menjadi lebih sensitif, emosional, dan mencari pelampiasan dalam bentuk yang salah.
Menurutnya, faktor ekonomi ini sering tak disadari sebagai pemicu munculnya sikap agresif di kalangan anak muda. Ia juga menyoroti bagaimana media digital berperan besar dalam memperluas ruang kekerasan verbal.
“Media sosial seharusnya digunakan untuk membangun solidaritas, bukan untuk menjatuhkan,” tegasnya.
Ia menambahkan, setiap individu perlu memiliki etika bermedia, sebab di era digital, satu komentar bisa melukai lebih dalam dari sekadar kata-kata di dunia nyata.
Sementara itu, Yuyun sebagai moderator memberikan penekanan pada pentingnya kesadaran diri. Ia mengatakan bahwa setiap tindakan kita, sekecil apa pun, berpengaruh terhadap orang lain.
Menurutnya, perubahan sosial yang nyata tidak lahir dari seruan besar, tetapi dari keberanian individu mengoreksi dirinya sendiri.
“Kesadaran diri adalah fondasi dari empati,” ujarnya. Ia mengajak para peserta untuk mulai dari hal sederhana: berhenti menertawakan kekurangan orang lain, mendengar tanpa menghakimi, dan menumbuhkan kepedulian tanpa pamrih.Pandangan menarik juga disampaikan oleh Gusto, selaku founder TitikTemu_genz.
Ia menilai bahwa persoalan bullying tidak bisa diserahkan hanya pada individu atau lembaga pendidikan. Ada peran besar pemerintah dan lembaga sosial yang harus turut aktif menciptakan kebijakan dan ruang aman bagi generasi muda.
Ia menegaskan bahwa negara perlu hadir, bukan hanya lewat aturan, tetapi juga lewat kebijakan yang menumbuhkan karakter dan literasi emosional di sekolah serta kampus.
“Pemerintah harus melihat masalah ini sebagai bagian dari pembangunan manusia, bukan sekadar kasus sosial biasa,” ucap Gusto.
Kemudian, Lauren menambahkan perspektif yang bersifat historis. Ia mengatakan bahwa bullying bukanlah fenomena baru, melainkan sudah ada sejak lama dalam berbagai bentuk. Bedanya, kini ruangnya lebih luas dan dampaknya lebih cepat karena teknologi.
“Dulu mungkin hanya di sekolah, tapi sekarang bisa di mana saja, bahkan lewat satu pesan singkat,” kata Lauren. Ia mengingatkan bahwa banyak luka lama yang belum sembuh karena budaya diam dan anggapan bahwa bullying hanyalah candaan.
Padahal, kata Lauren, luka psikologis dari perundungan bisa bertahan sangat lama dan memengaruhi cara seseorang berinteraksi di masa depan.Sementara Joshua menyoroti kaitan antara ketimpangan ekonomi dan bullying. Ia menyampaikan bahwa anak-anak dari keluarga tidak mampu sering kali menjadi korban ejekan karena kondisi sosial mereka.
Menurut Joshua, hal ini menunjukkan betapa tajamnya kesenjangan yang terbentuk dalam mentalitas masyarakat kita.
“Kalau kita masih menilai orang dari penampilan dan status ekonomi, berarti kita belum belajar menjadi manusia yang utuh,” katanya.
Ia menegaskan bahwa keadilan sosial harus dimulai dari cara kita memperlakukan orang lain dalam keseharian.Pandangan Rony Kung, selaku Ketua PMKRI Yogyakarta, memberikan arah reflektif terhadap topik ini.
Ia menegaskan bahwa setiap manusia memiliki karakter yang berbeda, dan perbedaan itu adalah anugerah, bukan ancaman.
“Kita terlalu sering menuntut orang lain untuk sama dengan kita. Padahal kekuatan sebuah komunitas justru lahir dari keragaman,” ujarnya.
Menurut Rony, memahami perbedaan karakter adalah kunci dalam mencegah konflik sosial. Ia menekankan pentingnya pendidikan karakter yang menumbuhkan rasa hormat terhadap perbedaan, baik dalam lingkungan akademik maupun sosial.Di sisi lain, Nelion menambahkan pandangan yang memperkuat arah diskusi malam itu.
Ia menilai bahwa akar masalah bullying sering kali muncul karena hilangnya ruang dialog antarindividu. Banyak orang lebih suka menilai daripada mendengarkan.
“Kalau kita mau jujur, banyak konflik terjadi bukan karena kebencian, tapi karena kurangnya komunikasi yang sehat,” ujarnya.
Ia mengajak generasi muda untuk berani membuka ruang bicara yang jujur dan terbuka, tanpa rasa takut dihakimi. Bagi Nelion, solusi terhadap bullying tidak hanya soal sanksi, tapi soal membangun kembali hubungan sosial yang sehat di lingkungan sekitar.
Dari seluruh pandangan yang muncul dalam diskusi malam itu, ada satu kesimpulan penting: bullying bukan sekadar persoalan moral, tapi cermin dari krisis empati yang sedang dihadapi masyarakat kita.
Krisis ini lahir dari tekanan ekonomi, penggunaan media yang tidak bijak, serta hilangnya ruang komunikasi yang sehat. Oleh karena itu, membangun kesadaran dan empati menjadi tugas bersama — bukan hanya pemerintah, lembaga pendidikan, atau organisasi sosial, tapi juga setiap individu.
Diskusi di Google Meet malam itu mungkin sederhana, tetapi maknanya besar. Ia menjadi pengingat bahwa perubahan sosial dimulai dari kesadaran kecil dalam diri kita sendiri. Saat kita berani menghormati perbedaan, menahan diri dari komentar yang melukai, dan belajar memahami orang lain, maka di situlah awal dari masyarakat yang benar-benar beradab.

