Opini  

Urgensi Infrastruktur bagi Kelangsungan Hidup Anak di Manggarai Timur

Penulis: Frederikus Bulman

MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Kabupaten Manggarai Timur, sebagai salah satu wilayah di NTT dengan tantangan pembangunan yang signifikan, menghadapi pilihan krusial dalam menentukan prioritas pembangunan.

Meskipun Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah memberikan bantuan langsung bagi anak-anak di daerah ini, pembangunan infrastruktur dasar merupakan hal yang harus menjadi prioritas utama.

Tanpa fondasi infrastruktur yang kokoh, tidak ada program apa pun yang mampu membawa perubahan berkelanjutan bagi masa depan anak-anak Manggarai Timur.

Kabupaten Manggarai Timur memiliki luas wilayah sekitar 2.640 kilometer persegi dengan kondisi geografis yang berbukit dan bergunung, sehingga pembangunan infrastruktur menjadi tantangan tersendiri.

Data tahun 2025 menunjukkan kondisi infrastruktur di daerah ini sangat memengaruhi status gizi anak secara langsung.

Kondisi jaringan jalan saat ini memprihatinkan, hanya 38% desa di Manggarai Timur yang dihubungkan dengan jalan aspal layak, sementara 45% sisanya hanya memiliki jalan tanah yang tidak dapat dilewati saat musim hujan.

Realitas ini membuat distribusi makanan segar dan layanan kesehatan menjadi sangat sulit, bahkan di beberapa desa terpencil seperti Wae Rii dan Borong, akses hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama 3-5 jam.

Krisis infrastruktur ini juga merambah pada ketersediaan air bersih, di mana sebanyak 62% rumah tangga di daerah pedesaan masih bergantung pada sumber air permukaan yang tidak terjamin kebersihannya.

Keadaan tersebut menyebabkan angka penyakit menular seperti diare pada anak-anak mencapai 28% per tahun, sebuah kondisi yang menghambat penyerapan gizi serta berkontribusi besar pada angka stunting.

Selain itu, keterbatasan fasilitas penyimpanan dan pengolahan pangan semakin memperburuk keadaan.

Hanya tersedia tiga gudang penyimpanan pangan yang memenuhi standar di seluruh kabupaten, mengakibatkan hasil panen jagung, ubi kayu, dan sayuran lokal sering mengalami kerusakan hingga 40% sebelum sempat dipasarkan atau digunakan sebagai bahan baku MBG.

Akibat rentetan kendala fisik ini, prevalensi stunting di Manggarai Timur mencapai 23,7% pada tahun 2024, angka yang jauh lebih tinggi dari rata-rata nasional sebesar 19,8%. Sebagian besar kasus stunting ini terkonsentrasi di desa-desa terpencil yang memiliki infrastruktur paling minim.

Program MBG telah beroperasi di Manggarai Timur sejak awal 2024 melalui lima Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) aktif yang menjangkau sekitar 18.500 penerima manfaat di empat kecamatan utama.

Meskipun menunjukkan hasil positif, seperti penurunan angka absensi siswa dari 22% menjadi 11%, efektivitas program tetap sangat terbatas akibat kondisi infrastruktur yang buruk.

Kualitas makanan sering kali menurun karena waktu distribusi yang panjang, terkadang memakan waktu hingga 2-3 hari dari dapur pusat ke sekolah di daerah terpencil, sehingga makanan sering tiba dalam kondisi tidak segar.

Pada bulan September 2025, ditemukan 15% paket makan yang disalurkan ke kecamatan Borong memiliki sayuran yang sudah layu dengan nilai gizi yang berkurang.

Kondisi jalan yang buruk turut memicu tingginya biaya distribusi, mencapai 42% dari total anggaran MBG di kabupaten ini, angka yang jauh melampaui rata-rata nasional.

Anggaran yang seharusnya dialokasikan untuk meningkatkan kualitas makanan justru terserap oleh biaya transportasi yang tidak efisien.

Akibatnya, cakupan program menjadi sangat terbatas karena hanya 32% anak-anak di wilayah pedalaman yang mampu dijangkau oleh MBG.

Di kecamatan Ruteng Timur dan Langke Rembong, banyak sekolah belum menerima bantuan makanan karena nihilnya akses transportasi yang layak serta kurangnya fasilitas dapur sekolah yang memenuhi standar sanitasi.

Sebaliknya, contoh positif terlihat di Desa Komodo, Kecamatan Sambi Rampas, yang perbaikan jalan desanya rampung pada pertengahan 2025.

Setelah akses diperbaiki, distribusi makanan MBG menjadi lebih lancar, kualitas nutrisi meningkat, dan cakupan program dapat diperluas ke dua sekolah tambahan di desa sekitar.

Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur telah menetapkan beberapa proyek infrastruktur utama yang diproyeksikan memberikan dampak besar bagi kesejahteraan anak-anak.

Pembangunan Jalan Trans-Manggarai Timur sepanjang 120 kilometer akan menghubungkan kecamatan utama dengan desa-desa terpencil di wilayah pedalaman.

Hingga Februari 2026, proyek ini telah mencapai 45% progres dan diharapkan rampung pada akhir tahun 2026, yang diharapkan tidak hanya memudahkan distribusi MBG, namun juga meningkatkan akses anak-anak ke fasilitas kesehatan dan pendidikan.

Selain akses jalan, pembangunan 50 sumur bor akan dilakukan di desa-desa dengan masalah air bersih, didampingi 15 sistem penyaringan air untuk sekolah-sekolah.

Proyek air bersih ini krusial untuk mengurangi risiko penyakit menular dan meningkatkan kualitas sanitasi makanan dalam program MBG.

Pemerintah juga merencanakan pembangunan 10 gudang penyimpanan pangan lokal serta 25 dapur sekolah yang memenuhi standar keamanan pangan demi memastikan bahan baku tersimpan baik dan makanan disiapkan secara higienis.

Terakhir, pembangunan delapan jembatan penyeberangan akan menghubungkan desa-desa yang terpisahkan oleh sungai, menghilangkan bahaya yang selama ini dihadapi anak-anak saat berangkat sekolah atau menjemput bantuan makanan.

Pembangunan infrastruktur di Manggarai Timur bukan sekadar pendukung program MBG, namun merupakan investasi dengan manfaat yang meluas bagi masa depan generasi muda.

Akses pendidikan akan meningkat secara signifikan; dengan jalan yang baik, anak-anak dari desa terpencil bisa pergi ke sekolah dengan lebih mudah dan tepat waktu.

Di daerah yang telah mendapatkan perbaikan infrastruktur, angka kelulusan siswa SD tercatat meningkat sebesar 18% dalam kurun waktu satu tahun.

Dampak ekonomi juga terasa pada pemberdayaan keluarga petani, di mana infrastruktur transportasi dan penyimpanan yang baik akan meningkatkan pendapatan mereka, sehingga kebutuhan gizi anak-anak dapat dipenuhi secara mandiri.

Sebagai contoh, kemudahan memasarkan hasil panen membuat petani jagung di Kecamatan Sambi Rampas mampu meningkatkan konsumsi protein anak-anak mereka sebesar 25%.

Selain itu, akses yang lebih baik ke fasilitas kesehatan memungkinkan anak-anak mendapatkan pemeriksaan gizi berkala serta perawatan medis yang tepat.

Bagi Kabupaten Manggarai Timur, pembangunan infrastruktur adalah prioritas paling utama yang tidak dapat ditunda lagi.

Walaupun program MBG memberikan bantuan yang sangat dibutuhkan saat ini, manfaatnya akan tetap terbatas tanpa dukungan infrastruktur memadai.

Infrastruktur merupakan fondasi yang memastikan setiap upaya peningkatan status gizi, pendidikan, dan kualitas hidup anak-anak Manggarai Timur berjalan secara efektif serta berkelanjutan.

Dengan memprioritaskan pembangunan jalan, air bersih, dan fasilitas pendukung, kita tidak hanya membantu anak-anak mendapatkan makanan bergizi hari ini, namun juga membuka jalan bagi mereka untuk memiliki masa depan yang lebih baik, mandiri, dan penuh harapan.

Untuk masa depan anak-anak Manggarai Timur, infrastruktur bukan sekadar proyek fisik, melainkan investasi yang menentukan kualitas hidup generasi mendatang.

IMG-20260217-WA0004
Penulis: Nana Patris AgatEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *