Berita  

Para Korban Pengerusakan Tiga Rumah di Lembor Selatan Kembali Datangi Polres Mabar, Tuntut Keadilan

MANGGARAI BARAT, PENA1NTT.COM — Para korban pengerusakan tiga unit rumah di Kampung Wae Togo, Desa Watu Waja, Kecamatan Lembor Selatan, kembali mendatangi Polres Manggarai Barat untuk memberikan keterangan tambahan, Jumat (28/11/2025) pukul 12.00 Wita. Pemeriksaan lanjutan ini menindaklanjuti laporan yang telah diterima kepolisian sejak 17 November 2025, sesuai surat pemanggilan Nomor: B/254/XI/RES 1.10/2025, perihal Wawancara Klarifikasi Perkara.

Namun di tengah proses hukum yang masih berjalan, kondisi para korban semakin memprihatinkan. Mereka mengaku mengalami tekanan emosional, psikologis, serta gangguan kesehatan akibat insiden tersebut. Hingga kini, belum ada bantuan darurat berupa tempat tinggal sementara dari Pemerintah Desa Watu Waja maupun Pemerintah Kecamatan Lembor Selatan.

Akibatnya, para korban memilih mengungsi sementara ke rumah keluarga di Labuan Bajo untuk menghindari ancaman lanjutan dan kekhawatiran atas keselamatan mereka. Puing-puing bangunan yang hangus terbakar kini menjadi saksi bisu peristiwa yang mereka sebut sebagai “kejadian tragis” dalam hidup.

Keluarga korban mendesak aparat kepolisian agar segera menangkap semua pelaku dan memastikan proses hukum berjalan tanpa pandang bulu.

Keluhan Korban: “Kami Takut Pulang, Semua Aset Lenyap”

Ignasius Ransung, salah satu korban, menyampaikan keluhannya kepada wartawan usai pemeriksaan di Polres Manggarai Barat.

“Saya ini dalam keadaan sakit, Pak. Kasihan kami para korban ini. Apakah kami akan terus seperti ini? Mau pulang ke rumah di Wae Togo juga takut. Semua aset lenyap, anak istri terlantar, bahkan sekarang mereka tinggal di gubuk kebun,” ujarnya dengan nada gemetar.

Kisah Pius Hadun: Rumah Hancur, Tabungan Hidup Terbakar

Pius Hadun (71), seorang petani lansia, menjadi pelapor pertama dalam kasus ini. Ia mendaftarkan laporan dengan nomor LP/B/187/XI/2025/SPKT/POLRES MANGGARAI BARAT, setelah sekitar 30 orang yang diduga berasal dari Kampung Pela menyerbu lokasi Jl. Watu Waja RT/RW 001 sambil membawa alat tajam pada Senin (17/11/2025).

Kepada media, Pius mengatakan bahwa kedatangannya hari ini adalah untuk memenuhi panggilan kedua dari penyidik terkait klarifikasi perkara.Pius tak mampu menutupi emosinya.

“Kami minta para terduga pelaku pembongkaran rumah kami ditangkap secepatnya. Sakit hati kami, Pak. Saya orang tua lansia, tapi mereka tega mengebiri keberadaan kami di Wae Togo seakan kami bukan pemilik tanah asli,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa keberadaan mereka di Wae Togo adalah sah secara adat maupun sejarah.

“Kami punya tanah, rumah, kebun, semuanya warisan turun-temurun dari leluhur. Kampung kami punya Rumah Adat Gendang sendiri dan ulayat sendiri. Lalu bagaimana mungkin pihak terduga pelaku seenaknya mengklaim tanah kami?” tegasnya.

Pius juga berharap kepolisian turun langsung memeriksa lokasi kejadian.

“Rumah itu bukan sekadar bangunan. Itu harapan keluarga kami. Kami ingin pelaku diproses seadil-adilnya,” ujarnya.

Kerugian Besar, Trauma MendalamSelain rumah Pius yang hancur total, rumah milik Raimundus (72) juga mengalami kerusakan pada rangka beton dan dinding dengan estimasi kerugian sekitar Rp60 juta. Sementara rumah Ignasius Ransung (55) rusak pada bagian dinding depan dan teras dengan kerugian mencapai Rp30 juta.

Pius mengalami kerugian terparah. Kayu bangunan yang disimpannya sebagai tempat menyembunyikan uang tunai Rp16 juta ikut terbakar. Total kerugian mencapai Rp75 juta — tabungan hidup yang ia kumpulkan bertahun-tahun.

Keluarga Hadun: “Jangan Biarkan Pelaku Berkeliaran”

Salah satu putra Pius, Yulius Hadun, mengatakan bahwa keluarganya kini hidup dalam ketakutan.

“Kami tidak tidur dengan tenang sejak kejadian itu. Bapak trauma, kami semua trauma. Kami minta polisi jangan biarkan para pelaku bebas berkeliaran. Kalau dibiarkan, kami takut kejadian ini akan terulang,” tegasnya.

Ignasius Ransung menambahkan bahwa anak-anak mereka pun masih syok dan menolak pulang ke rumah.

“Kami takut mereka datang lagi. Sampai sekarang anak-anak tidak berani pulang,” katanya.

IMG-20260217-WA0004
Penulis: RickyEditor: Irenius Putra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *