Penulis: Sardianus Edwin Dianto
MANGGARAI, PENA1NTT.COM –Di era digital yang bergerak secepat denyut nadi, wajah duka telah mengalami pergeseran radikal dalam cara ia menyapa nurani kemanusiaan.
Kabar kematian atau tragedi pilu kini tidak lagi mengetuk pintu rumah melalui khidmatnya tradisi ba wero atau dinginnya surat kawat.
Kabar tersebut justru meledak seketika melalui getar notifikasi di genggaman, mengubah ponsel kita menjadi pembawa berita duka yang tak kenal waktu.
Facebook, dengan algoritma yang haus akan interaksi tinggi, telah bertransformasi menjadi panggung raksasa bagi masyarakat untuk mencurahkan duka cita secara massal.
Namun, di balik riuhnya gelombang simpati tersebut, muncul sebuah ironi yang mengusik moralitas, kapan sebuah unggahan merupakan bentuk empati yang tulus, dan kapan ia berubah menjadi eksploitasi demi engagement semata.
Empati Sebagai Perekat Sosial
Pada hakikatnya, membagikan berita tragedi atau ucapan duka di Facebook adalah manifestasi dari sifat dasar manusia sebagai makhluk sosial.
Kehadiran fitur seperti tombol Peduli (Care) atau kolom komentar memungkinkan komunitas untuk memberikan dukungan moral secara instan kepada mereka yang sedang berada dalam masa kelam.
Kekuatan penyebaran informasi di platform ini terbukti sangat membantu dalam aksi kemanusiaan nyata, mulai dari penggalangan dana hingga mempercepat pencarian orang hilang.
Di sinilah empati menjalankan fungsi luhurnya sebagai perekat yang menyatukan orang-orang dalam rasa kemanusiaan yang sama.
Pergeseran Menuju Eksploitasi dan Komodifikasi
Ironi muncul ketika tragedi mulai diperlakukan tidak lebih dari sekadar materi konten.
Kita kerap menyaksikan pemandangan memilukan di mana foto atau video korban disebarkan tanpa sensor, dibalut dengan keterangan yang memancing emosi secara berlebihan hanya demi mendapatkan ribuan bagikan dan komentar “amin”.
Secara sistemik, fenomena ini adalah bentuk komodifikasi kesedihan, di mana penderitaan mendalam orang lain dikonversi menjadi statistik jangkauan (reach) untuk mendongkrak popularitas sebuah akun.
Gejala eksploitasi ini menjadi sangat nyata ketika seseorang lebih memprioritaskan kecepatan unggahan dan narasi dramatis yang bersifat clickbait daripada menghormati martabat atau perasaan keluarga korban.
Analisis Regulasi dan Dampak Psikologis
Jika ditinjau dari kacamata hukum, penyebaran konten yang melanggar privasi atau merendahkan martabat korban sebenarnya bersinggungan langsung dengan semangat UU ITE di Indonesia.
Namun, di luar jerat hukum, dampak yang paling merusak justru terjadi pada sisi kemanusiaan yang paling dasar.
Kita sering kali terlampau sibuk menggeser layar hingga lupa bahwa di balik setiap gambar tersebut, ada keluarga korban yang mungkin sedang berjuang menghadapi trauma hebat.
Menyaksikan foto orang yang dicintai tersebar luas dalam kondisi tragis di beranda Facebook bukanlah sebuah bentuk dukungan, melainkan serangan trauma yang berulang-ulang bagi mereka yang ditinggalkan.
Saat tragedi dipaksa menjadi komoditas konten, martabat manusia akhirnya dikorbankan demi mengejar angka pertumbuhan akun.
Menentukan Batas yang Sehat
Sebagai pengguna media sosial yang bijak, sudah saatnya kita menetapkan standar moral pribadi dalam berinteraksi dengan setiap tragedi di Facebook.
Langkah nyata yang bisa kita ambil adalah dengan selalu bertanya pada diri sendiri, apakah membagikan foto ini benar-benar membantu korban atau justru menambah luka baru
Penting bagi kita untuk menahan diri dari menyebarkan identitas atau visual korban sebelum ada pernyataan resmi atau izin dari pihak keluarga.
Mari kita ubah simpati menjadi empati nyata melalui doa tulus atau bantuan konkret tanpa harus terjebak dalam performative empathy yang sekadar pamer di kolom komentar.
Pada akhirnya, setiap jempol yang kita gerakkan di atas layar adalah cerminan dari kedalaman nurani kita.
Facebook bisa saja menjadi ruang yang sangat hangat untuk saling menguatkan, namun ia juga bisa berubah menjadi tempat yang sangat dingin jika tragedi hanya dipandang sebagai angka statistik.
Batasan antara empati dan eksploitasi pada akhirnya bermuara pada niat dan penghormatan tulus terhadap martabat manusia.
Mari kita berhenti sejenak sebelum mengklik tombol bagikan, pastikan bahwa yang kita sebarkan adalah cahaya dukungan, bukan sekadar komoditas duka.
Jangan sampai demi mendapatkan sebuah Like, kita justru menggadaikan rasa kemanusiaan yang seharusnya kita bela.














