Gereja Katedral Reinha Rosari Larantuka: Menelusuri Warisan Abadi Semana Santa

Artikel dirilis oleh: Thomas Sanga Bahon

LARANTUKA, PENA1NTT.COM – Larantuka, di Nusa Tenggara Timur (NTT), telah lama diakui sebagai “Kota Suci” bagi umat Katolik, sebuah julukan yang melekat erat bukan hanya karena keindahan alamnya, tetapi juga karena sejarah Katolik yang kental , yang berpusat pada Paroki Katedral Reinha Rosari Larantuka.

Gereja megah ini berdiri strategis di Kelurahan Postoh, pusat kota Larantuka, dan merupakan takhta bagi Uskup, sekaligus pusat spiritual dari Keuskupan Larantuka.

Keuskupan ini sendiri memiliki akar sejarah yang ditandai dengan pendiriannya sebagai Vikariat Apostolik Larantuka pada 8 Maret 1951, yang kemudian ditingkatkan statusnya menjadi Keuskupan pada 3 Januari 1961.

Hingga kini, Paroki Katedral melayani delapan lingkungan dan 93 Komunitas Basis Gerejani (KBG) yang tersebar.

Jejak sejarah bangunan gereja ini jauh lebih tua dan sarat makna. Gereja Reinha Rosari dulunya dikenal dengan nama Gereja Besi.

Menurut sejarah, pembangunan gereja ini bukanlah peninggalan langsung Portugis atau Belanda. Awal mulanya, setelah Raja Adobala dibaptis Katolik, ia membangun gereja mula-mula yang sederhana dari kayu dan bambu.

Barulah pada Tahun 1884, Gereja Katedral dibangun kembali menggunakan material besi yang didatangkan khusus dari Den Haag, Belanda.

Semangat komunitas Larantuka kala itu sungguh luar biasa; karena ketiadaan dermaga, seluruh masyarakat dan nelayan Larantuka bahu-membahu menjemput material besi tersebut ke tengah laut tempat kapal Belanda berlabuh.

Semangat gotong royong ini menjadi bukti nyata kejayaan iman Katolik di wilayah paling timur Flores NTT , dan Gereja Besi atau Reinha Rosari ini kini telah berusia 141 tahun.

Namun, yang paling mendefinisikan Larantuka adalah devosi yang mendalam kepada Bunda Maria. Sejarah panjang Katedral Larantuka tak lepas dari kedatangan Portugis di abad ke-16 yang membawa agama Katolik.

Pemicu utama devosi yang kuat ini adalah penemuan patung sakral Santa Maria, yang dikenal umat sebagai Tuan Ma, di pantai sekitar tahun 1510.

Penemuan Tuan Ma inilah yang mengawali tradisi penyembahan yang berlanjut hingga kini, menjadikannya cikal bakal perayaan Paskah yang sangat terkenal: Semana Santa.

Semana Santa merupakan tradisi Paskah warisan Portugis yang melibatkan prosesi laut yang khusyuk, doa rosario, dan persembahan devosi mendalam kepada Tuan Ma serta Tuan Ana (patung Yesus Anak).

Tradisi yang dijaga oleh Serikat Awam (Konfreria) ini menarik ribuan umat Katolik dari berbagai daerah, bahkan luar Flores dan NTT, untuk berziarah.

Selama masa perayaan ini, Kota Larantuka bertransformasi total, menjadi lokasi yang penuh ketenangan, kesunyian, dan kebahagiaan rohani.

Pada akhirnya, Katedral Reinha Rosari Larantuka adalah narasi abadi yang terukir di pesisir Flores Timur. Ia bukan hanya bangunan Gereja Besi berusia 141 tahun, tetapi perwujudan konkret dari iman yang dibawa oleh Portugis di abad ke-16, diperkuat oleh penemuan mistis Tuan Ma di pantai, dan dihidupkan melalui semangat gotong royong masyarakat nelayan Larantuka yang bahu-membahu menjemput materialnya dari tengah laut.

Sebagai takhta Uskup dan pusat Keuskupan , Katedral ini adalah jangkar spiritual yang menjaga tradisi Semana Santa , mengubah seluruh kota menjadi lokasi ziarah yang penuh kesunyian dan kebahagiaan rohani.

Melalui arsitekturnya yang unik dan menara-menaranya yang megah, Katedral Reinha Rosari terus memancarkan kekuatan dan keagungan, memastikan Larantuka akan selamanya mempertahankan martabatnya sebagai “Kota Suci,” tempat di mana sejarah dan devosi mendalam berpadu menjadi satu warisan iman yang tak terpisahkan.

IMG-20260217-WA0004
Penulis: Nana Patris Agat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *