KUPANG, PENA1NTT.COM — Diskursus tentang kualitas demokrasi Indonesia kembali mengemuka dalam forum akademik yang diselenggarakan melalui acara Launching dan Bedah Buku “Demokrasi Zombie”, karya akademisi muda Universitas Nusa Cendana, Ernestus Holivil, dosen Administrasi Publik FISIP Undana. Kegiatan tersebut berlangsung pada Kamis, 4 Desember 2025, di Aula Pascasarjana Undana dan dihadiri ratusan peserta dari kalangan mahasiswa, dosen, jurnalis, serta pegiat demokrasi.
Acara ini terlaksana atas kerja sama Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Nusa Cendana bersama FISIP Corner, HPMS Ilmu Administrasi Negara dan Komunitas Mendi Projek yang berkomitmen menjadikan kampus sebagai ruang dialog kritis bagi publik.
Demokrasi “bergerak tetapi kehilangan jiwa”
Sebagai negara demokrasi yang ditegaskan dalam Pasal 1 Ayat (2) UUD 1945, Indonesia idealnya mengedepankan kedaulatan rakyat. Namun dalam forum tersebut, para akademisi menilai bahwa praktik kekuasaan, lemahnya nalar publik, serta dinamika politik yang kian oligarkis telah menjauhkan Indonesia dari cita-cita reformasi.
Buku Demokrasi Zombie—yang merupakan kumpulan opini Ernestus Holivil di media nasional dan lokal—menjadi pemantik diskusi kritis. Buku ini mengulas bagaimana demokrasi Indonesia seolah terus berjalan, namun sesungguhnya “kehilangan jiwa”.
Pemantik Diskusi: Demokrasi Indonesia “tidak sedang baik-baik saja”
Acara dipandu oleh Gusty Rikarno, Direktur Media Cakrawala NTT. Ia membuka diskusi dengan refleksi filosofis mengenai pola pikir kritis—dari tesis–antitesis–sintesis hingga konstruksi–dekonstruksi–rekonstruksi.
Menurut Gusty, tidak ada kebenaran yang benar-benar mutlak: “Jika hari ini kita diundang hadir, itu artinya ada yang keliru dalam konstruksi kita tentang demokrasi.”
apakah gagasan “Demokrasi Zombie” mengganggu kita, menggugah kita, atau justru membuat kita biasa saja?”
Prof. David B. W. Pandie: Buku Ini Mengajak Kita Tidak Suam-Suam Kuku
Pembedah pertama, Prof. Dr. David B. W. Pandie, dosen senior FISIP Undana, menilai penggunaan metafora “zombie” oleh Ernest sebagai pilihan diksi yang “menakutkan tetapi tepat”.
“Demokrasi yang idealnya humanistik, tiba-tiba dipersonifikasikan sebagai sesuatu yang membunuh,” ujarnya.
Menurut Prof. David, konsep demokrasi zombie sangat sesuai untuk menggambarkan 27 tahun perjalanan demokrasi Indonesia yang kian menjauh dari cita-cita reformasi.
Ia menegaskan bahwa demokrasi Indonesia tidak pernah benar-benar memasuki tahap konsolidasi. “Demokrasi kita suam-suam kuku. Tidak panas, tidak dingin,” tegasnya.
Menurut Prof. David, kerusakan demokrasi bukan hanya disebabkan oleh elite yang korup, tetapi juga karena publik gagal membangun tradisi berpikir kritis.
Ia turut menyinggung fenomena global, yaitu meningkatnya rezim otoriter dan merosotnya kualitas demokrasi di banyak negara. Ernest, menurutnya, berhasil menangkap fenomena global tersebut dan menghubungkannya dengan konteks Indonesia.
Mengutip John Dewey, Prof. David menekankan bahwa demokrasi bukan semata sistem politik, tetapi “way of life”—suatu organisme hidup yang seharusnya tumbuh dalam kesadaran publik. Ia memberi sejumlah catatan kritis, tetapi mengakui pesan utama buku ini sangat jelas: demokrasi harus dibangunkan kembali dari “kematian klinisnya”.
Dr. William Djani: Demokrasi Indonesia sebagai tubuh yang berjalan tanpa jiwa—sekadar digerakkan oleh kepentingan elite. “Sebuah metafora yang gelap, tetapi tepat”.
Pembedah kedua, Dr. William Djani, Dekan FISIP Undana, mengapresiasi produktivitas Ernestus yang dalam waktu singkat mampu menerbitkan buku, menulis jurnal, dan menghasilkan opini di berbagai media.
“Dalam akademik, orang akan bertanya: berapa karya yang Anda hasilkan, bukan berapa pangkat yang Anda punya. Ernest menjawab itu dengan karyanya,” ungkap William.
Dalam analisisnya, William menilai Ernest menggambarkan demokrasi Indonesia sebagai tubuh yang berjalan tanpa jiwa—sekadar digerakkan oleh kepentingan elite. “Sebuah metafora yang gelap, tetapi tepat,” katanya.
Ia kemudian mengajukan pertanyaan mendasar yang juga menjadi inti diskusi: “Sejauh mana kita membiarkan demokrasi zombie ini berjalan? Dan bisakah ia kembali bernyawa?”
William menyoroti “korporatisme kebijakan” yang membuat persoalan publik tidak terselesaikan, serta mengacu pada konsep “matahari kembar” dalam kepemimpinan nasional yang dibahas Ernest dalam bukunya.
Menurut William, demokrasi hanya dapat hidup kembali melalui perlawanan warga dan reformasi institusi secara serius. Ia menutup presentasinya dengan prinsip klasik, “Pemimpin adil, rakyat taat. Pemimpin tidak adil, rakyat tidak percaya.”
Fransiskus Sarong: Metafora Zombie Itu Garang, Tetapi Tepat
Pembedah berikutnya, Fransiskus Sarong, jurnalis senior dan mantan wartawan Kompas, mengakui bahwa ia sempat ragu menerima undangan karena merasa “terperangkap dalam kegagalan membaca”—khususnya karena metafora zombie yang menurutnya tidak biasa digunakan di ruang publik Indonesia.
Sebagai jurnalis, ia terbiasa memilih diksi yang akrab bagi pembaca. “Zombie terdengar garang,” ujarnya. Namun justru di situlah letak kekuatan buku ini—metafora ekstrem yang menggambarkan demokrasi sebagai “mayat hidup”: bergerak tanpa jiwa dan tanpa nilai substantif.
Sarong menilai Ernest berani menyebut demokrasi Indonesia sebagai demokrasi yang “cacat”. Keberanian intelektual seperti ini, katanya, sangat penting di tengah ruang publik yang makin alergi terhadap kritik.
Ia menanggapi prolog Boni Hargens yang menyebut buku ini “jenaka dan mendalam”. “Saya setuju buku ini mendalam. Tapi tidak ada jenakanya,” tegasnya.
Sarong memberi catatan perlunya periodisasi kemunduran demokrasi Indonesia agar analisis menjadi lebih historis dan komprehensif. Sebagai alumnus Undana, ia berharap lebih banyak intelektual kampus tampil di ruang publik.
“Jangan sampai kepintaran hanya menjadi pajangan etalase,” ujarnya.
Dr. Marsel Robot: Dari Zombie, Wura Seki, hingga Demokrasi yang Disodomi
Paparan Dr. Marsel Robot, dosen FKIP Undana, berlangsung penuh humor, kritik, dan satir. Ia mengawali dengan ucapan terima kasih kepada Prof. Feliks yang dinilainya “membangkitkan kampus ini dari ancaman menjadi kuburan raksasa kaum intelektual”—sindiran halus bagi meredupnya semangat akademik.
Marsel berkata ia datang karena merasa “dikriminalisasi secara intelektual”, sebab ia tidak pernah mengidentifikasi diri sebagai penganut fanatik teori demokrasi. Namun ia mengakui bahwa buku ini sendiri adalah “zombie”—karena judulnya memaksa pembaca berhadapan dengan kenyataan pahit.
Ia kemudian berkisah tentang hidup di Tarus, Kabupaten Kupang, di mana 96% penduduk adalah petani serabutan.
“Kami tidur jam enam, bangun jam delapan. Dalam tidur kami bermimpi negeri makmur, tapi bangun kembali pada kenyataan bahwa kondisinya tidak makmur,” ujarnya—sindiran ironis terhadap timpangnya harapan dan kenyataan.
Marsel mengkritik paradoks demokrasi: indeks demokrasi turun, tetapi pemerintah justru “menyuntik dana untuk menghidupkan demokrasi”. Sementara itu, “urusan uang kos dan uang angkot DPR saja belum selesai dibicarakan,” katanya.
Ia menilai bahwa masyarakat tidak hanya mengalami demokrasi zombie, tetapi bahkan “disodomi oleh zombie”—kritik keras atas praktik kekuasaan yang menyimpang dan merusak.
Ketika membahas bagian tentang “bibliosida pengetahuan”, ia menyoroti bahwa perampasan buku dan pembungkaman intelektual adalah bentuk penghancuran pikiran secara halus namun brutal.
Marsel kemudian mengoreksi metafora zombie dengan perspektif kebudayaan Manggarai Timur. Ia menjelaskan bahwa konsep serupa lebih tepat disebut wura seki—arwah yang tidak pernah “dikendurikan”, sehingga terus berkeliaran merusak dan mengganggu.
“Ini berbeda dari zombie. Wura seki berjalan terus, mau orang tidur atau bangun,” jelasnya.
Baginya, wura seki adalah metafora paling tepat tentang masyarakat yang kehilangan kendali moral dan arah sosial.
Marsel menilai demokrasi yang lahir dari kompromi nepotistik sebagai bentuk “kebangkrutan demokrasi”. Ia juga mengkritik praktik korupsi yang diinterpretasikan sebagai “berkat Tuhan”.
“Tuhan pun menjadi bingung,” katanya. Mengutip Nietzsche, ia menutup dengan satir: “Kebingungan panjang itu membuat Tuhan akhirnya mati.”
Demokrasi Indonesia Butuh Dibangunkan, Bukan Dibiasakan
Launching dan bedah buku Demokrasi Zombie menjadi alarm akademik atas kemerosotan demokrasi Indonesia. Para pembedah sepakat bahwa: Demokrasi Indonesia bergerak tetapi kehilangan jiwa, publik kehilangan daya kritis, elite mengabaikan nilai keadilan, dan institusi demokrasi makin rapuh dikooptasi kepentingan.
Forum ini mengajak mahasiswa, akademisi, pers, dan publik untuk tidak hanya mengeluh, tetapi melawan, berpikir kritis, dan memulihkan demokrasi ke jalur yang seharusnya.














