Penulis: Petrus Ernes (Mahasiswa UNIKA St. Paulus Ruteng)
MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Saya merasa risih setiap kali melihat teman-teman membagikan link dengan iming-iming pulsa gratis, saldo DANA, atau voucher belanja.
Fenomena ini bukan hanya terjadi di kalangan masyarakat umum, tetapi juga di lingkungan mahasiswa bahkan di grup kuliah dan organisasi.
Hampir setiap minggu, selalu saja ada seseorang yang mengirim link “hadiah pulsa gratis” atau “event resmi berhadiah saldo”, yang ujung-ujungnya ternyata palsu.
Bagi sebagian orang, hal itu mungkin terlihat sepele. Namun bagi saya, fenomena ini adalah cermin lemahnya kesadaran digital di kalangan generasi yang seharusnya paling melek teknologi.
Caci Manggarai: Jejak Budaya yang Dihidupkan Kembali oleh Generasi Muda
Ketika mahasiswa yang digadang-gadang sebagai kaum intelektual ikut terjebak dan menyebarkan tautan penipuan, maka ini bukan lagi masalah individu, melainkan krisis literasi digital nasional.
Di balik link-link itu tersembunyi berbagai bentuk kejahatan siber: pencurian data pribadi, penyebaran virus, hingga manipulasi akun digital.
Banyak kasus menunjukkan bahwa korban tidak hanya kehilangan data, tetapi juga rekening dan akun media sosialnya.
Berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), sejak 2018 hingga 2023 terdeteksi lebih dari 1.700 konten penipuan online di Indonesia.
Sementara itu, survei APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) tahun 2024 mencatat bahwa 32,5% kejahatan siber di Indonesia berasal dari modus penipuan daring, termasuk link pulsa gratis dan undian palsu.
Drama Petak Umpet Jaksa dan Tersangka Korupsi, Parodi Penegakan Hukum di Manggarai
Artinya, kasus semacam ini bukan sekadar iseng atau kebetulan. Ia sudah menjadi bagian dari pola penipuan digital yang masif dan terstruktur.
Ketika seorang mahasiswa dengan polos membagikan link palsu di grup kuliah, organisasi, atau komunitas kampus, sebenarnya ia sedang membantu memperluas jangkauan para pelaku kejahatan digital.
Inilah yang saya sebut sebagai “budaya klik tanpa pikir” kebiasaan mengakses dan menyebarkan informasi tanpa memeriksa kebenarannya.
Kita sering kali terburu-buru ingin jadi yang pertama tahu, atau takut ketinggalan sesuatu yang “gratis”. Padahal, dalam dunia digital, hal yang tampak gratis justru sering menjadi pintu masuk pencurian data.
Fenomena ini menunjukkan betapa pentingnya membangun kesadaran digital yang kritis di lingkungan pendidikan tinggi.
Literasi digital seharusnya menjadi bagian dari budaya akademik, sama pentingnya dengan literasi baca tulis dan berpikir ilmiah.
Mahasiswa perlu memahami bahwa dunia maya bukan sekadar tempat mencari hiburan, tetapi juga ruang publik yang memerlukan tanggung jawab moral dan sosial.
Program pemerintah seperti Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) yang diinisiasi oleh Kominfo sejak 2020 sebenarnya sudah menjadi langkah baik.
Namun, implementasinya perlu diperkuat di tingkat kampus dan organisasi kemahasiswaan. Misalnya melalui pelatihan keamanan digital, seminar literasi media, atau gerakan sadar verifikasi informasi.
Kampus harus menjadi ruang aman yang melatih generasi muda untuk berpikir sebelum mengklik, bukan menjadi sarang penyebaran tautan berbahaya.
Kita juga harus berani saling menegur. Jika ada teman di grup kuliah atau organisasi yang membagikan link mencurigakan, jangan diam saja.
Sampaikan dengan sopan bahwa link tersebut bisa berbahaya, dan ajak untuk memeriksanya lebih dulu. Ini bukan tentang mempermalukan seseorang, tetapi tentang membangun budaya digital yang bertanggung jawab.
Sebagai mahasiswa, kita sering berbicara tentang perubahan sosial, kesadaran kritis, dan kemajuan bangsa.
Namun, percuma semua itu jika di saat yang sama kita masih mudah tergoda oleh tautan palsu. Perubahan besar selalu dimulai dari hal kecil termasuk dari cara kita bersikap di dunia digital.
PMKRI Ruteng Desak Kapolda NTT Ambil Alih Penanganan Kasus Mafia BBM dari Polres Manggarai
Sudah saatnya kita tinggalkan budaya klik tanpa pikir, dan menggantinya dengan budaya cek, pikir, dan bagikan dengan tanggung jawab.
Karena di era serba daring ini, satu klik ceroboh bisa menjadi awal dari kerugian besar bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi orang lain yang percaya pada kita.














